logo


Donald Trump Menyesal Tidak Menaikan Tarif Impor Tiongkok Lebih Tinggi

Hal itu disampaikan juru bicara Gedung Putih Stephanie Grisham pada hari Minggu (25/8) untuk mengoreksi artikel-artikel media yang salah menginterpretasikan pernyataan Trump.

26 Agustus 2019 11:55 WIB

Donald Trump dan Xi Jinping
Donald Trump dan Xi Jinping Kompas Internasional

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku memiliki penyesalan terkait perang dagang dengan Tiongkok. Namun, yang dimaksud Trump ternyata dia menyesal tidak menaikkan tarif impor lebih tinggi lagi.

Pada pertemuan G7 dengan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson Minggu kemarin, Trump ditanya wartawan apakah dia "berubah pikiran mengenai ketegangan perang dagang dengan Tiongkok yang semakin meningkat?"

Baca juga: Bos Huawei: Kerugian Lebih Besar Ancam Perusahaan AS


Kembali Memanas, Donald Trump Instruksikan Perusahaan AS Angkat Kaki dari Tiongkok

"Ya, tentu, kenapa tidak?" jawab Trump. Lalu reporter menegaskan pernyataan Trump dan dijawab. "Saya memiliki perubahan pikiran soal apapun".

Ternyata pertanyaan yang dilontarkan jurnalis memiliki persepsi berbeda dengan Trump. Grisham menegaskan bahwa Trump tidak menyesal dengan perang dagang dengan Tiongkok, tetapi dia menyesal kenapa tidak menaikkan tarif impor lebih tinggi lagi.

Jumat lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan lewat Twitternya bahwa dia akan menaikkan bea masuk dari 25 persen menjadi 30 persen terhadap impor dari Tiongkok senilai US$ 250 miliar pada 1 Oktober 2019 nanti.

Sedangkan, tarif terpisah untuk barang-barang impor dari Tiongkok senilai US$ 300 miliar, yang rencananya akan berlaku mulai 1 September, akan dinaikkan menjadi 15 persen dari 10 persen.

Lewat Twitternya hari Jumat, Trump juga "memerintahkan" perusahaan-perusahaan AS untuk angkat kaki dari Tiongkok, dan "pulang kampung" untuk mulai membuat produknya di AS.

Sebelumnya, Tiongkok mengumumkan akan menaikkan bea masuk baru terhadap impor dari AS senilai US$ 75 miliar mulai 1 September dan 15 Desember, sebagai aksi balasan terhadap bea masuk AS untuk impor Tiongkok senilai US$ 300 miliar.

Bos Huawei: Kerugian Lebih Besar Ancam Perusahaan AS

Halaman: 
Penulis : Kesdik Bayu