logo


Kisah Sumadi Seng, 49 Tahun Tekuni Kerajinan Kulit Sepeda Kuno

Menariknya, semua kerajinan kulit karya Sumadi Seng di produksi secara tradisional.

20 Agustus 2019 22:40 WIB

Usaha aksesoris kerajinan kulit ini ditekuninya Sumadi Seng sejak tahun 1970.
Usaha aksesoris kerajinan kulit ini ditekuninya Sumadi Seng sejak tahun 1970. ist

MAGETAN, JITUNEWS.COM – Kerajinan tangan berbahan kulit sapi atau kambing yang dihasilkan para perajin Kabupaten Magetan, Jawa Timur, kian menjamur.

Umumnya, mereka membuat sepatu, sandal, tas hingga jaket kulit.
Tapi untuk aksesoris sepeda kuno atau sepeda onthel yang berbahan kulit sejauh ini hanya dihasilkan oleh Sumadi Seng. Pria 72 tahun ini adalah perajin asal Candirejo Magetan.

Dibantu dengan 12 karyawan, setiap hari Sumadi Seng membuat berbagai jenis aksesoris sepeda, seperti sadel, tas samping, penutup roda hingga tas setir. Semuanya berbahan kulit.


Lebarkan Sayap Bisnis, Outlet ke-53 Royal Garden Spa Hadir di Pare-pare

Usaha aksesoris kerajinan kulit ini ditekuninya Sumadi Seng sejak tahun 1970. Saat itu, dirinya hanya memproduksi sadel. Tujuh tahun belakangan dia mulai merambah ke pembuatan aksesoris sepeda kuno lainnya.

Menariknya, semua kerajinan kulit karya Sumadi Seng diproduksi secara tradisional. Tidak ada alat-alat super modern. Bahkan, tempat produksinya, dari dulu tetap begitu-begitu saja. Pemanfaatkan bagian rumah berukuran 4x12 dari warisan keluarganya, Sumadi Seng tak lelah untuk terus berkarya.

Atap seng yang panas, dan peralatan sekadarnya tak menyurutkan niatnya untuk terus menghasilkan kerajinan kulit yang menjadi ciri khas karya keluarganya. Barangkali, karena bertahan di tempat produksi yang panas di bawah seng itulah dirinya dipanggil Sumadi Seng.

“Pernah ada bantuan dari pemerintah, Alhamdulillah. Tapi ya kalau bisa diberikan tempat khusus untuk produksi saya, biar leluasa nambah tenaga kerja dan bisa mengurangi pengangguran, terutama anak putus sekolah di Magetan,” tuturnya, kepada sejumlah wartawan, belum lama ini.

Keterbatasan dan kekurangan tersebut tidak lantas memupuskan semangatnya. Sumadi tetap eksis menghasilkan kerajinan-kerajinan kulit untuk aksesoris sepeda onthel.

Usahanya tidak pernah sepi, pesanan barang selalu berdatangan dari berbagai daerah baik dari pembeli langsung atau toko-toko penyedia aksesoris sepeda kuno dari wilayah Madiun, Tulungagung, Surabaya. Bahkan hingga ke Aceh, Kalimantan dan kota besar yang lainya.

“Untuk sadel dalam 5 hari itu ada 10 kodi yang bisa saya produksi. Sedangkan aksesoris lain seperti tas samping bisa sampai 10 biji per hari,” jelas Sumadi Seng.

Untuk harga satuannya beraneka ragam tergantung aksesorisnya, mulai dari termurah dijual Rp15 ribu hingga Rp275 ribu.

Sebenarnya, Sumadi Seng ingin melebarkan sayapnya lagi. Memasarkan produknya hingga ke manca negara misalnya. Namun lagi-lagi, dia harus berhadapan dengan berbagai kendala yang ada di depannya.

“Rencana pengin ekspor, tapi modalnya belum terpenuhi,” tutup Sumadi Seng.

Kisah Kopi, Tawarkan Cita Rasa Kopi Nikmat Khas 'Buatan Nenek'

Halaman: 
Penulis : Riana, Admin