logo


Terlilit Utang untuk Biayai Proyek Infrastruktur Pemerintah, Sejumlah BUMN Dihantui Kebangkrutan

Imron menyebut sejumlah perusahaan BUMN mengalami masalah keuangan

16 Agustus 2019 11:30 WIB

Ilustrasi.
Ilustrasi. Istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Lektor Kepala Prodi Manajemen FEB Universitas Muhammadiyah Surakarta, Imron Rosyadi, mengatakan bahwa lembaga pemeringkat sekuritas Standard and Poor's (S&P) menurunkan peringkat kredit obligasi dolar DMDT menjadi CCC.

"Teranyar, lembaga pemeringkat sekuritas Standard and Poor's (S&P) menurunkan peringkat kredit obligasi dolar DMDT menjadi CCC- (junk bond) dengan alasan DMDT menghadapi tantangan risiko kredit yang signifikan. Sementara Fitch Rating menurunkan peringkat menjadi B- yang berarti DMDT mengalami peningkatan pembiayaan dan risiko likuiditas," ujar Imron seperti dilansir dari detikcom, Jumat (16/8).

Imron khawatir kondisi ini bisa merambat ke risiko likuiditas perbankan.


Apresiasi Program Rumah Jambu RKIH, Suharno akan Gandeng Lapas

"Kondisi seperti itu dikhawatirkan merambat ke risiko likuiditas (kredit macet) perbankan. Karena DMDT disinyalir memiliki kredit sindikasi bank senilai Rp 17 triliun. JP Morgan (2018) mengabarkan bahwa dalam tahun 2018 Duniatex Group telah menerima kredit 362,3 juta dolar AS dan Rp5,25 triliun dari bank," ujarnya.

Imron juga menyebut bahwa sejumlah perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengalami masalah keuangan. Dia lalu menyebut beberapa perusahaan yang dikabarkan mengalami masalah.

"Sejumlah perusahaan BUMN juga mengalami masalah keuangan yang serius. PT Jiwasraya dikabarkan tidak mampu membayar premi hingga Rp802 miliar. Tunggakan premi itu bersumber dari produk saving plan yang diluncurkan perusahaan pada 2013. Namun belakangan tersandung masalah penempatan dana produk tersebut pada portofolio investasi," sebutnya.

"Sementara PT Krakatau Steel (KS), meskipun belum dinyatakan gagal bayar utang, membengkaknya utang hingga Rp35 triliun berpotensi menyeret KS dalam kesulitan likuiditas. Merujuk laporan keuangan KS (2018) tercatat utang mencapai 2,49 miliar dolar AS (sekitar Rp 35 triliun). Besaran utang ini menunjukkan ada kenaikan sebesar 2,26 miliar dolar AS (10,45% ) dibandingkan 2017. Kondisi likuiditas ini masih diperparah lagi dengan utang jangka pendek yang membengkak hingga 1,59 miliar dolar AS, yakni naik sebesar 1,36 miliar dolar AS (17,38%) dibandingkan 2017," lanjutnya.

Tahun 2018-2019 Disebut Sebagai Masa Sulit Perusahaan Swasta Nasional

Halaman: 
Penulis : Aurora Denata