logo


Black Out Listrik, Adjeng: Bukti Ada Kelemahan di Sistem Kelistrikan Kita

Pemadaman yang berlangsung hingga belasan jam itu tentunya juga melumpuhkan aktivitas masyarakat

7 Agustus 2019 00:20 WIB

Tokoh Perempuan Jawa Barat yang juga merupakan mantan Anggota DPR RI Komisi I, Adjeng Ratna Suminar
Tokoh Perempuan Jawa Barat yang juga merupakan mantan Anggota DPR RI Komisi I, Adjeng Ratna Suminar Jitunews/Riana

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Mantan Anggota DPR RI, Adjeng Ratna Suminar menyesalkan terjadinya Black Out pada sistem kelistrikan Jawa-Bali pada hari Minggu lalu (4/8). Menurut Adjeng, kejadian itu sangat merugikan masyarakat luas khususnya di wilayah DKI dan Jawa Barat yang terkena dampak langsung pemadaman.

Pemadaman yang berlangsung hingga belasan jam itu tentunya juga melumpuhkan aktivitas masyarakat. Kerugian akibat dari pemadaman listrik itu juga ditaksir mencapai miliaran rupiah.

Adjeng yang juga merupakan Ketua IKAL PRRA ke-41 itu menegaskan bahwa sistem kelistrikan Jawa Bali ternyata memiliki kelemahan.


Adjeng Ratna Luncurkan Buku 'Perempuan Tangguh dan Inspiratif dari Bandung'

"Dengan kejadian kemarin kita jadi bukti bahwa ada kelemahan di sistem kelistrikan kita. Ini harus segera diperbaiki dan dicarikan segera jalan keluarnya agar tidak terjadi lagi hal seperti ini sebagaimana perintah dari Presiden Joko Widodo," ujar Adjeng kepada Jitunews.com, Selasa (6/8).

Selain itu, Adjeng juga mendorong dilakukannya investigasi mendalam, dicari apakah ada unsur sabotase atau murni masalah teknis. Hal tersebut mengaca pada pemadaman yang pernah terjadi di Rusia ketika ada seorang hacker yang mampu menyusup sistem IT dan kemudian melumpuhkan sistem kelistrikan.

"Sewaktu saya di Komisi I DPR RI yang salah satu mitra kerjanya adalah BIN pada saat pembahasan RUU Terorisme, saya mendengar ada kasus di beberapa negara pernah terjadi pemadaman listris yang dilakukan oleh teroris," ujar Adjeng.

Persoalan lainnya adalah soal pembelian listrik oleh masyarakat, menurut Adjeng ada yang perlu dikritisi, masyarakat yang membeli token listrik Rp 100 ribu namun tidak mendapatkan pulsa listrik senilai yang dibeli.

"Itu yang dipertanyakan oleh banyak masyarakat, pemotongan token terlalu banyak." pungkas Adjeng.

Kunjungi Pengungsi Pencari Suaka, Adjeng Harap Ada Solusi Terbaik

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan