logo


Elit Partai Golkar Seperti Hidup di Rumah Kaca, Enggan Sapa Kadernya

"Gap itu terbentuk lebih karena ketidakmampuan elit Golkar merespons dan mengelola tuntutan dinamika demokratis di tubuh partai,"

26 Juli 2019 19:41 WIB

Forum yang diadakan oleh Go Prabu (Golkar Prabowo-Sandi)
Forum yang diadakan oleh Go Prabu (Golkar Prabowo-Sandi) Dok. Jitunews.com

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Politisi Senior Partai Golkar, Freddy Latumahina mengatakan bahwa pada saat itu, ada gap atau ruang kosong antara kader dengan elit Partai Golongan Karya (Golkar) karena keengganan pimpinan partai berlambang pohon beringin ini menyapa, bertemu, atau berdialog dengan para kadernya sendiri.

"Gap itu terbentuk lebih karena ketidakmampuan elit Golkar merespons dan mengelola tuntutan dinamika demokratis di tubuh partai," ujarnya di Jakarta, Jumat (26/7).

Baca juga: Tanggapan Jokowi soal Penambahan Parpol yang Masuk Koalisi


Tanggapan Jokowi soal Penambahan Parpol yang Masuk Koalisi

Menurutnya banyak kader Golkar di daerah merasakan dan mengeluh karena pimpinan Golkar tidak komunikatif, bahkan tidak menyediakan ruang dan waktu untuk dialog dengan para kader di sela-sela kunjungan pimpinan Golkar ke daerah sekali pun.

Dia menambahkan bahwa ada beberapa Ketua DPD Golkar mengaku malu dan kecewa karena gagal mempertemukan anggota partai di daerahnya dengan elit DPP Golkar yang sedang berkunjung.

"Puluhan anggota sudah berkumpul di sebuah ruang menunggu sapaan dan arahan dari pimpinan Golkar. Namun, pimpinan Partai Golkar hanya melintas tanpa sedikit pun menunjukan kepedulian kepada para kader yang sudah menunggu. Tak ada sapaan, apalagi sekadar jabat tangan," ungkapnya.

Dia menyebut kekosongam komunikasi antara DPP dengan semua DPD itu bahkan pernah berakibat fatal. DPP Golkar nyaris tak pernah tahu masalah yang dihadapi DPD, dan sebaliknya hampir semua DPD tak tahu kebijakan dan strategi partai menghadapi Pemilu.

"Pada Pileg 2019, alat peraga kampanye yang dikirimkan oleh DPP Golkar ke daerah tidak sesuai dengan kebutuhan. Sebagian besar alat peraga bahkan tidak bisa digunakan saat kampanye," katanya.

Oleh karena itu, kata Freddy muncul kesan di benak banyak kader bahwa pucuk pimpinan Golkar seperti hidup di rumah kaca, ingin mengelola partai politik tapi tak mau atau alergi menginjak tanah.

Menurutnya karena awam berorganisasi, apalagi untuk organisasi sebesar Partai Golkar, pimpinan DPP Golkar tak mau dikritik, bahkan menolak perbedaan pendapat.

"Maka, ketika menghadapi beda pendapat dengan kader, instrumen kewenangan yang digunakan untuk menyelesaikan perbedaan itu adalah pecat sana-pecat sini," katanya.

"Alih-alih memberi contoh tentang perilaku demokratis, pimpinan Golkar malah menunjukan kecenderungan otoriter dalam mengelola partai. Akibatnya, soliditas kader partai tidak maksimal ketika menghadapi agenda Pileg baru-baru ini," pungkasnya.

Pemilik Motor dan Mobil Mewah Ikutan Daftar Rumah DP Rp 0, Anies: Artinya Minat Tinggi

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar, Kesdik Bayu