logo


Buka-bukaan dr Merty Supriharti Soal RSU Pekerja KBN

RSU Pekerja KBN tengah bergeliat menunjukan eksistensinya dalam membantu masyarakat khususnya para pekerja

27 Juli 2019 22:19 WIB

Direktur Utama Rumah Sakit Umum dan Pekerja KBN, dr Merty Supriharti
Direktur Utama Rumah Sakit Umum dan Pekerja KBN, dr Merty Supriharti Dok. Jitunews.com

JAKARTA, JITUNEWS.COM – PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) terus melakukan ekspansi bisnisnya, sudah banyak bidang usaha yang dikerjakannya demi meningkatkan pendapatan perusahaan. Lini bisnis yang kini mendapat perhatian dari publik, khususnya sekitar wilayah Jakarta Utara adalah RSU Pekerja KBN.

Rumah sakit yang berlokasi di KBN, Jakarta Utara ini, tengah bergeliat menunjukan eksistensinya dalam membantu masyarakat khususnya para pekerja di sekitar wilayah Jakarta Utara dalam melakukan pelayanan kesehatan.

Beruntung tim Jitunews.com diberikan kesempatan untuk bertatap muka langsung dengan Direktur Utama RSU Pekerja KBN, dr Merty Supriharti. Tim Jitunews kemudian mengorek lebih dalam soal RSU Pekerja dan visi dari RS Pekerja.


Viral Foto Ali Ngabalin Terbaring d Rumah Sakit, Ini Faktanya

Berikut petikan wawancara Jitunews bersama dr Merty Supriharti:

Jitunews: Terima kasih atas kesempatan ini, Ibu bisa diceritakan sedikit soal sejarah pembangunan RSU Pekerja KBN?

dr Merty Supriharti: Nah memang pada awalnya RS Pekerja ini didirikan oleh 2014, saat itu adalah mandatory dari Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) yang memang beliau sangat ingin membuat RS Pekerja karena diketahui di wilayah PT KBN ini banyak sekali pabrik-pabrik yang mempunyai buruh lebih dari 2.000 buruh dalam satu pabrik. Jadi beliau merasakan bahwa bagaimana kalau buruh ini membutuhkan pelayanan kesehatan makanya bekerjasama dengan PT KBN kemudian Jamsostek untuk membangun RS ini khusus pekerja.

Kemudian 2014 sampai 2016 RS ini dikelola oleh Pertamedika. Dari Pertamedika tidak ada perubahan yang cukup signifikan untuk jumlah pengunjung pasien karena pada tahun 2014 itu dimulailah program JKN BPJS dimana setiap pabrik perusahaan mewajibkan karyawannya mengikuti BPJS Kesehatan dimana BPJS Kesehatan itu kalau memang mau ditangani layanan kesehatannya dia harus ke faskes sekitar domisili tempat tinggalnya. Nah ini berpengaruh kepada RS Umum Pekerja.

Dimana seluruh buruh yang ada di kawasan PT KBN pada saat itu mengikuti BPJS Kesehatan dia harus membuat rujukan ke faskes yang sesuai dengan domisili yang tidak memungkinkan pasien ya ke RS Pekerja.

Jitunews: Bagaimana RS Pekerja di awal-awal didirikannya?

dr Merty Supriharti: Jadi sementara memang di masyarakat sekitar ini mereka berasumsi bahwa RS ini khusus untuk pekerja saja tidak untuk umum.

Jadi pada dua tahun pertama jumlah pasien tidak terlalu banyak karena mindset ini khusus untuk pekerja sedangkan yang pekerja sendiri ini harus melalui prosedur BPJS.

Jitunews: Kenapa RS Pekerja bisa bekerjasama dengan RS Pelni?

dr Merty Supriharti: Kemudian pada tahun berikutnya dikelola oleh PT KBN sendiri yaitu menetapkan teman-teman di klinik PT KBN untuk mengelola RS Pekerja ini tapi memang belum ada perubahan juga sampai akhirnya di tahun 2018 pada bulan Agustus bekerjasama dengan RS Pelni untuk mengelola RS Pekerja.

Jitunews: Setelah bekerjasama dengan RS Pelni, apa perubahan yang terjadi?

dr Merty Supriharti: Sebenarnya RS Pelni ini membantu KBN untuk menyelamatkan aset PT KBN dimana sayang sekali aset yang sudah sedemikian bagus RS ini dengan fasilitas yang boleh dibilang C plus ketimbang dengan RS kelas C yang lain. Di sini RS Umum Pekerja memiliki fasilitas yang sangat lengkap, oleh sebab itu RS Pelni mau bekerjasama dengan PT KBN untuk menyelamatkan aset ini dan mengoperasionalkan RS Pekerja.

Jitunews: Apa fasilitas yang ada di RS Pekerja?

dr Merty Supriharti: Adapun fasilitas yang ada di RS Pekerja pada saat itu untuk kapasitas tempat tidur itu ada 170 bed tapi saat ini sudah operasional ada 86 bed. Dimana kita mempunyai ICU dan hHCU itu 10 bed, kemudian kamar bedah kita ada 2 OK, kemudian pemeriksaan penunjang kita ada ct scan dengan 64 slises. Jadi untuk RS sekelas tipe C itu untuk biasanya ct scan dengan 16 slises tapi ini kita mempunyai ct scan yang sangat bagus dimana ada 64 slises bisa untuk pemeriksaan jantung, kemudian kalsium score juga dari fasilitas rawat jalan kota bekerjasama dengan dokter RS Pelni yang memang ditugaskan untuk RS Pekerja.

Jadi kita mempunyai sekitar 25 dokter spesialis, kemudian ada juga 6 dokter umum yang memang berdinas di RS Pekerja. Kemudian untuk rawat jalan nanti pengembangan brikutnya adanya program rehabilitasi medik yang dalam waktu dekat ini inshaallah akan segera kita laksanakan. Kemudian ada juga layanan mata lalu ada layanan untuk hemodialisa. Saat ini kita bekerjasama dengan pihak ketuga yaitu PT Sinar Roda utama mereka akan menempatkan mesin hemodialisa sebanyak 10 mesin yang ditempatkan di RS Pekerja.

Jitunews: Kenapa mendirikan RS di kawasan pabrik?

dr Merty Supriharti: Sebenarnya untuk RS di kawasan industri sangat dibutuhkan kalau misalnya ada kecelakaan kerja, bagaimana perusahaan mengirimkan kalau tidak ada RS di sekitar kawasan mereka akan kesulitan mengirimkan pasien seandainya ada kecelakaan, misal putus tangan terluka yang akibat kecelakaan kerja itu butuh penanganan yang segera.

RS ini sebenarnya RS yang sangat strategis untuk pasien yang memerlukan penanganan segera, khususnya yang penangangan kecelakaan kerja. Kita juga sebenarnya RS Pekerja ini juga bekerjasama dengan BPJS Ketenagakerjaan. Jadi semua perusahaan atau pabrik yang ada di kawasan mereka mengirimkan kalau ada kecelakaan kerja mereka mengirimkan ke RS Pekerja.

Jitunews: Apakah ada kerja sama dengan pabrik-pabrik di kawasan KBN?

dr Merty Supriharti: Jadi kita mempunyai beberapa kerja sama dengan beberapa pabrik antara lain PT Tainan, PT KHO, Komatsu, PT KBN jadi mereka sudah sering mengirimkan pasien terutama kala ada kecelakaan kerja.

Jitunews: Apa visi-misi RS Pekerja?

dr Merty Supriharti: Kami mempunyai visi antara lain menjadi tempat terbaik dalam pelayanan kesehatan dan teman terpercaya bagi pasien dan keluarga khususnya di wilayah Jakarta Utara umumnya di DKI Jakarta.

Jitunews: Apa target yang ingin dicapai oleh RS Pekerja?

dr Merty Supriharti: Sebenarnya kami juga mempunyai target di 2019 target pendapatan kurang lebih 29,81 M dan ini kami akan usahakan bisa tercapai karena melihat groot pertumbuhan pasien ya dari bulan ke bulan ini sangat baik terutama kita ada pendapatan per bulan itu 1-2 M kita sudah bisa dapatkan.

Dulu sebelumnya RS Pelni mengelola itu hanya 200-240 juta setelah dikelola RS Pelni pendapatan diatas 1,2 -2,3 M

Jitunews: Bagaimana untuk akreditasi RS Pekerja?

dr Merty Supriharti: Kita sudah akreditasi lulus dengan madiya pada bulan April kemarin kita sudah menjalankan akreditasi itu prasyarat untuk BPJS melakukan kerja sama dengan BPJS.

Jitunews Bagaimana cara RS Pekerja agar bisa dikenal oleh masyarakat?

dr Merty Supriharti: Jadi untuk program marketing di kita untuk ke puskesmas dan ke masyarakat sekitar bersosialisasi kepada mereka. Kita membuat acara entah kerja sama dengan faskes sekitar itu melakukan USG gratis kemudian rekam jantung gratis, nah hasil dari pemeriksaan tersebut kalau ada pasien yang tidak upnormal itu diberikan rujukan kepada RS kita. Jadi kalau ada USG untuk ibu hamil yang memerlukan penanganan lebih lanjut.

Jitunews: Strategi apa yang dilakukan RS Pekerja agar masyarakat bisa mengenal RS ini?

dr Merty Supriharti: Kita juga ada pertemuan dengan bidan seluruh wilayah Jakarta Utara kita mengadakan pertemuan, kita ajak mereka untuk hospital tour biar mereka lihat sendiri dan rasakan sendiri dan mereka akan bisa bercerita bahwa RS Pekerja fasilitas lebih baik dan kemudian dokter-dokternya berkompetensi sangat baik.

Jitunews: Apakah ada rencana khusus RS Pekerja di tahun ini?

dr Merty Supriharti: Untuk tahun ini mungkin target kami layanan hemodialisa harus jalan kemudian tahun depan itu ada beberapa alat yang akan kita lakukan investasi terutama masalah jantung yang paling banyak pasien ya tidak menutup kemungkinan kita akan adakan pemeriksaan-pemeriksaan penunjang mendukung dari penyakit jantung.

Jitunews: Apa tes masuk kerja ini sudah dilakukan?

dr Merty Supriharti: Jadi kita sudah atau layanan kita juga di MCU. MCU kita ada beberapa paket dari yang paling murah sampai yang pling mahal dan kita pasarkan juga untuk perusahaan terutama perusahaan di sekitar PT KBN karena mereka akan melakukan MCU setiap tahun, 1 kali minimal satu tahun.

Kemarin juga sudah dengan PT Tainan ada 200 peserta MCU kemudian ke PT Gerbang Sarana Baja itu ada sekitar 100 peserta, PT KHO 30 peserta jadi bisa dibilang revenue baru buat kami karena akan menambah pendapatan RS yang non-BPJS.

Jitunews: Bagaimana dengan status kepemilikan RS?

dr Merty Supriharti: RS ini belum mempunyai badan hukum jadi masih menghidup ke PT KBN tapi kemarin juga sempat saya memberikan masukan ke direksi PT KBN bahwa berdasarkan UU kesehatan itu sebaiknya RS mempunyai badan hukum sendiri karena untuk pengembangan selajutnya RS itu akan lebih leluasa. Jadi tidak tergantung induknya mulai dari bekerjasama dan lain-lain jadi kalau berbadan hukum sendiri jadi lebih lincah.

Jitunews: Jadi RS Pekerja ini SBU atau apa?

dr Merty Supriharti: Kemunginan jadi anak perusahaan. Untuk saat ini kan masih SBU.

Jitunews: Apa yang ingin dicapai di tahun ini?

dr Merty Supriharti: Tahun ini targetnya untuk yang satu tahun itu 2,9 M.

Jitunews: Apakah bekerjasama dengan BPJS menguntungkan RS?

dr Merty Supriharti: Untuk BPJS sudah pasti menguntungkan dalam arti kita untuk secara pasien tidak perlu mencari lagi pangsa pasarnya. Tinggal bagaimana RS itu menyiasati untuk retap survive karena diketahui untuk biaya dari BPJS ke RS ada delay sekitar satu sampai dua bulan.

Jitunews: Bagaimana siasat RS Pekerja tetap survive dengan adanya delay dari BPJS tersebut?

dr Merty Supriharti: Bagaimana cara RS mensiasatinya misalnya efesiesi kemudian reevaluasi unit cost yang sudah ada atau membuat paket yang ekonomis misal paket untuk operasi usus bantu jadi memang benar kita hitung sehingga unit cost kita tahu kemudian kita main di volume semakin banyak pasien dan semakin banyak obat yang dibutuhkan otomatis akan mempermudahkan kita bernegosiasi dengan suplier dalam mendapatkan harga yang lebih murah, kalau volumenya besar kita pesan ke mereka harga mereka jauh lebih murah. Itu yang kita lakukan.

Jitunews: Jadi untuk akreditasi memang akan menambah nilai RS sendiri karena sebelumnya belum pernah akreditasi?

dr Merty Supriharti: Ini PR saya saat masuk memang, kalau mau bekerjasama dengan BPJS ya harus akreditasi. Ada nilai plusnya karena akreditasi untuk kualiti mutu dan pasien safety itu diutamakan. Ibaratnya orang awam kalau melihat RS sudah akreditasi berarti dia mempercayakan di tempat yang baik.

Jitunews: Apakah ada fasilitas cuci darah di RS Pekerja?

dr Merty Supriharti: Ini sudah dalam tahap pengurusan perizinan. Kita sudah lakukan renovasi kita sudah mempersiapkan pistol dari air, mesinnya sambil paralel perizinannya dilakukan.

4 Tahun Jokowi-JK: Lahirkan Program-program untuk Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar, Vicky Anggriawan,Aurora Denata