logo


Kerjasama Internasional Guna Akhiri Kekerasan Terhadap Anak

Pemerintah berkomitmen mendukung pencapaian SDG's poin 16.2, yakni mengakhiri pelecehan, eksploitasi, perdagangan dan semua bentuk kekerasan dan penyiksaan terhadap anak-anak.

17 Juli 2019 19:15 WIB

The Global Partnership to End Violence Against Children dan The Side Event Of The High-Level Political Forum 2019 ‘Safe To Learn Leaders Event’ di New York, Amerika Serikat, Rabu (17/7).
The Global Partnership to End Violence Against Children dan The Side Event Of The High-Level Political Forum 2019 ‘Safe To Learn Leaders Event’ di New York, Amerika Serikat, Rabu (17/7).

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Indonesia menegaskan pentingnya kemitraan global dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap anak. Kekerasan dalam bentuk apa pun tetap menjadi tantangan terbesar bagi anak-anak secara global. Hal serupa juga terjadi pada anak-anak Indonesia yang tidak hanya mengalami kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan emosional: diabaikan, diintimidasi, dan didiskriminasi.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise mengatakan Pemerintah Indonesia berkomitmen mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDG's) poin 16.2, yakni mengakhiri pelecehan, eksploitasi, perdagangan dan semua bentuk kekerasan dan penyiksaan terhadap anak-anak.

"Dari studi analisis kami, menunjukkan bahwa faktor kunci kekerasan terhadap anak adalah kemiskinan, rendahnya kesadaran akan penegakan hukum, pergeseran paradigma pengasuhan anak dan kekerasan dalam rumah tangga," ujarnya pada The Global Partnership to End Violence Against Children dan The Side Event Of The High-Level Political Forum 2019 'Safe To Learn Leaders Event' di New York, Amerika Serikat, Rabu (17/7).


Jangan Sampai Terjadi! Ini Bahaya Mengerikan Jika Langsung Mandi Usai Bangun Tidur

"Oleh karena itu, kami berencana untuk meninjau ulang kebijakan dan peraturan yg telah dikeluarkan, serta memasukkan unsur kekerasan psikis/emosional," imbuhnya.

Menurutnya berdasarkan Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja tahun 2018 (SNPHAR 2018) bahwa 2 dari 3 anak dan remaja perempuan dan laki-laki di Indonesia pernah mengalami kekerasan sepanjang hidupnya dan mayoritas dilakukan oleh teman sebaya.

Kemen PPPA telah berupaya melakukan beberapa upaya pencegahan kekerasan terhadap anak. Upaya yang dilakukan adalah mendorong diwujudkannya Sekolah Ramah Anak (SRA) yang hingga kini telah terbentuk di 16.800 sekolah di 243 kabupaten dan kota.

Kemen PPPA juga melakukan sosialisasi Disiplin Positif untuk diterapkan di sekolah - sekolah. Pendekatan Displin Positif adalah bentuk pendekatan yang memberikan alternatif pengganti hukuman fisik. Hal ini dapat memastikan bahwa hukuman yang diterima anak logis yaitu penyelesaian masalah bukan dengan kekerasan.

Kemen PPPA telah melakukan kampanye Stop Perkawinan Anak dan merevisi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Melakukan sosialisasi literasi digital yang ditujukan untuk orang tua dan anak melalui program Internet Aman untuk Anak. Program ini melibatkan komunitas untuk mempromosikan penggunaan internet yang sehat dan mengintegrasikan pendekatan ini dalam kurikulum pendidikan nasional.

Dalam hal ini, Yohana mengatakan bahwa Kemen PPPA ingin mengusulkan Kemitraan Global untuk meningkatkan kolaborasi dengan menciptakan jaringan dan terlibat dengan ASEAN Commission on Promotion and Protection of the Rights and Women and Children (ACWC). Dimana ACWC telah memfasilitasi Deklarasi ASEAN untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, dengan bidang-bidang fokus, seperti perdagangan anak dan pornografi anak.

"Kemitraan global dapat mempromosikan strategi untuk melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan, khususnya sektor swasta. Sehingga, kami dapat memperluas kemitraan potensial dengan para donatur dan organisasi di sektor teknologi dan industri hiburan," tutup Menteri Yohana.

Ternyata! Ini Dia Waktu Yang Tepat Untuk Makan Buah!.

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar, Kesdik Bayu