logo


Komisi IV Lakukan Kunjungan ke BPBAT Jambi, KKP: Balai Ini Punya Pabrik Pakan Mandiri

BPBAT Jambi merupakan salah satu UPT air tawar Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan produksi calon induk maupun benih ikan cukup besar

12 Juli 2019 19:58 WIB

Kunjungan Komisi IV DPR ke BPBAT Jambi
Kunjungan Komisi IV DPR ke BPBAT Jambi ist

JAMBI, JITUNEWS.COM - Panitia Kerja Sarana dan Prasarana Kelautan Perikanan Komisi IV DPR RI melakukan kunjungan kerja ke Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Jambi, Jumat (12/07).

Kunker ini untuk melihat secara langsung infrastruktur sarana dan prasarana ataupun fasilitas seperti kolam pendederan dan pembesaran, bioflok nila, pabrik pakan, tandon air serta ketersediaan indukan, calon induk dan benih ikan milik BPBAT Jambi.

Baca Juga:   Selama Ini Kita Salah, Bukan Pagi Hari, Ini Waktu yang Benar Gunakan Deodoran


KKP Apresiasi Komitmen Penerapan Budidaya Berkelanjutan dalam Budidaya Tilapia

Selain itu, menyerap aspirasi stakeholder termasuk Pokdakan dalam rangka meningkatkan produksi dan kualitas mutu kesehatan ikan air tawar. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, dalam sambutannya mengatakan bahwa BPBAT Jambi memiliki tugas pokok dan posisi strategis untuk mendukung ketersediaan benih, calon induk, dan induk ikan air tawar bagi masyarakat khususnya pembudidaya ikan di pulau Sumatera.

Kemudian, balai ini juga memiliki tugas untuk menyalurkan bantuan-bantuan seperti benih ikan, pakan ikan, sarana prasarana pembenihan kepada unit-unit pembenihan rakyat (UPR) maupun untuk pembesaran, minapadi, budidaya ikan sistem bioflok dan bantuan pendampingan teknis.

“Balai Jambi ini mampu memproduksi berbagai calon induk dan benih ikan seperti nila, baik nila merah maupun JICA atau nila Jepang, patin, gurame, dan ikan-ikan spesifik lokal seperti jelawat, nilem, semah dan ikan hias seperti botia, arwana Jambi dan super red, maupun ikan Sumatera," terang Slamet.

Benarkah Minum Kopi Bisa Memicu Tekanan Darah Tinggi? Ternyata, Ini Faktanya

BPBAT Jambi kata Slamet, merupakan salah satu UPT air tawar Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan produksi calon induk maupun benih ikan cukup besar seperti benih ikan Nila sebanyak 2.000.000 ekor, mas 1.200.000 ekor dan patin 2.200.000 ekor setiap tahunnya. Distribusi benih ikan tersebut meliputi seluruh Sumatera seperti Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Riau, Aceh dan Jambi.

“Selain itu, balai ini juga memiliki pabrik pakan mandiri dengan kapasitas 1 ton per jam, dengan target produksi pada tahun 2019 ini sebanyak 140 ton, sebagian akan diperuntukkan untuk bantuan kepada masyarakat. Dengan adanya bantuan-bantuan seperti pakan mandiri, benih ikan, budidaya ikan minapadi dan bioflok maupun bantuan lainnya dampaknya telah nyata dapat dirasakan," ujar Slamet.

“Dampak tersebut tampak dari pendapatan rata-rata pembudidaya mengalami kenaikan yakni dari Rp3,03 juta per bulan pada tahun 2017 menjadi Rp3,39 juta per bulan di tahun 2018 atau naik 8,9 persen. Angka ini menunjukkan bahwa pendapatan pembudidaya ikan jauh lebih besar dibandingkan dengan UMR Nasional sebesar Rp2,26 juta," lanjut Slamet.

Apa Kalian Sadar? Mobil Dinas Presiden Ternyata Selalu Berwarna Hitam Lho, Ini Alasannya

“Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) sebagai indikator daya saing pembudidaya ikan juga terus naik menjadi 102 pada bulan Juni 2019 lalu. Angka di atas 100 Ini menunjukkan pendapatan pembudidaya ikan lebih besar dari pengeluarannya. Sedangkan nilai tukar usaha pembudidaya ikan (NTUPi) pada bulan Juni 2019  lalu telah jauh di atas angka 100 yaitu mencapai 114.60 artinya prospek usaha perikanan budidaya semakin membaik dan efisien," terang Slamet merujuk data yang dikeluarkan BPS.

KKP Dukung Terbangunnya Kawasan Perikanan Budidaya di Wilayah Kerjasama Kabupaten Utara Utara Sulawesi

Halaman: 
Penulis : Nugroho Meidinata