logo


SMART-Fish Bikin Pembudidaya Ikan Patin Untung!

Terjadi lonjakan income yang dirasakan pembudidaya setelah mengadopsi sistem SMART-Fish.

4 Juli 2019 18:10 WIB

Peluncuran SMART-Fish Indonesia, di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (4/7).
Peluncuran SMART-Fish Indonesia, di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (4/7). Istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia (KKP) bersama Kedutaan Besar Swiss di Indonesia dan Organisasi Pengembangan Industri Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIDO), meluncurkan perpanjang program SMART-Fish, di Jakarta, Kamis (4/7). Adapun, program hibah Pemerintah Swiss ini adalah senilai USD 1.75 Juta (CHF 1.7 juta) dan akan dilaksanakan pada periode 2019-2022.

SMART-Fish sendiri merupakan mobile application yang memberikan informasi mengenai budidaya ikan, khususnya patin, yang memenuhi standar kesehatan, keamanan pangan serta branding yang menarik.

Dengan adanya aplikasi ini, diharapkan dapat membantu para pembudidaya ikan khususnya patin meningkatkan produksi dan kualitasnya. Sehingga, hasil panen yang diperoleh dapat lebih menguntungkan.


KKP dan FAO Launching Unit Pengolahan Ikan Pindang Higienis di Lombok Utara

Sekretaris Jenderal KKP yang juga Plt. Direktur Jenderal Daya Saing Produk, Nilanto Perbowo, mengklaim, program SMART-FIsh ini memberikan dampak positif kepada sekitar 6.000 pemangku kepentingan baik dari masyarakat, swasta dan pemerintah di 37 kabupaten/kota yang tersebar di 16 provinsi di seluruh Indonesia.

"Program sebelumnya berkontribusi terhadap dampak ekonomi sebesar USD 22,6 juta melalui peningkatan penjualan pada pasar domestik dan ekspor, keuntungan dan pendapatan. Intervensi SMART-Fish juga mendorong investasi oleh petani, pengolah dan pemerintah sebesar USD 11,8 juta. Pada intinya, Smart-Fish berhasil mempromosikan patin dengan baik," papar Nilanto saat ditemui di acara peluncuran SMART-Fish Indonesia, di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (4/7).

Di kesempatan yang sama, Sesditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP, Berny A. Subki, menuturkan, program SMART-Fish ini memiliki banyak keunggulan. Diantaranya, mampu meningkatkan volume dan menekan ongkos produksi (cost production), khususnya di tiga komoditas perikanan, yakni ikan patin, rumput laut, dan tuna.

"Banyak manfaat bagi sektor perikanan Indonesia yang merupakan stakeholder KKP, khususnya untuk beberapa komoditas, yaitu patin, rumput laut, dan tuna. Tiga komoditas ini merupakan komoditas yang mempunyai harapan yang sangat cerah untuk meningkatkan daya saing perikanan Indonesia. Untuk ikan patin sendiri misalnya, daging yang dihasilkan putih. Memang prevelensi daripada beberapa user patin itu menginginkan daging yang putih, nah ini merupakan suatu celah kesempatan bagi para pembudidaya patin Indonesia. Selain itu, ongkos produksi di tingkat pembudidaya dalam lima tahun terakhir berhasil ditekan dari yang sebelumnya selalu di atas 60 persen," tutur Berny.

Berny melanjutkan, program SMART-Fish ini juga memiliki dampak positif pada volume produksi, di mana saat ini, ikan patin Indonesia sudah mampu menembus pasar Arab Saudi untuk keperluan jemaah haji, dengan nilai US$472 ribu.

“Untuk patin kita sudah berhasil, bahwa ekspor pertama patin kita ke Arab Saudi dan sudah masuk gudang beku, siap untuk menjadi konsumsi sekian ratus ribu jamaah haji, baik dari Indonesia maupun negara lainnya. Ini merupakan suatu prestasi yang baik, artinya patin kita sudah memiliki daya saing yang lebih baik, lebih tinggi, dan lebih kompetitif. Dan ini berkat SMART-Fish,” tutur Berny.

Berny lantas mengatakan, terkait dengan efisiensi pakan, program SMART-Fish ini pun bisa diadopsi oleh para pembudidaya ikan lain selain patin.

“Hampir 60 persen secara umum cost-nya habis di pakan, karena impor. Dengan pakan mandiri dan dibantu SMART-Fish, yang menggunakan material lokal, ternyata nutrisinya tidak kalah dari yang impor. Pembudidaya bisa untung, dan bisa meningkatkan volume produksi,” kata Benny.

Selain patin, sambung Berny, program SMART-Fish pun mampu menggenjot volume produksi rumput laut dan tuna, dengan tingkat efisiensi tinggi, sehingga menghasilkan lonjakan keuntungan bagi pembudidaya.

“Untuk rumput laut juga sama, para ahli sudah mempunyai kesepakatan dan sudah dicoba di beberapa site di Indonesia, rumput laut sudah memiliki tingkat produksi yang lebih baik dengan efisiensi yang lebih tinggi. Dan yang penting, terjadi lonjakan income yang dirasakan pembudidaya setelah mengadopsi sistem SMART-Fish ini,” beber Berny.

“Kemudian, untuk tuna, bisa dibilang tuna kan merupakan ‘bidadarinya’ Indonesia untuk perikanan. Hampir semua jenis tuna ada di Indonesia, salah satunya Yellow fin dan cakalang. Dan tuna ini merupakan salah satu komoditas utama KKP di negera-negara tujuan ekspor, terutama Uni Eropa. Dan sangat tepat sekali kita saat ini dibantu oleh Swiss lewat SMART-Fish ini, sehingga kita mempunya akses pasar untuk tuna khususnya, dan membuktikan secara bersamaan bahwa penangkapan tuna di Indonesia itu sangat mendukung dengan prinsip-prinsip sustainability,” sambung Berny.

“Tak hanya itu, untuk ketiga komoditas ini, kita juga mendapatkan bantuan melalui SMART-Fish untuk branding. Dan ini merupakan prestasi yang luar biasa, yang sebelumnya belum pernah dilakukan. Dan mudah-mudahan ini bisa berlanjut di masa datang,” pungkasnya.

Sementara itu, Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Kurt Kunz, mengatakan, dengan hasil yang memuaskan dari program sebelumnya, pemerintah Swiss berkomitmen melanjutkan dukungannya pada program lanjutan Smart-Fish ini.

"Swiss adalah mitra strategis program Smart-Fish. Kami sangat mengapresiasi dukungan kuat yang telah diberikan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Program Smart-Fish telah memberikan hasil dan pencapaian yang memuaskan dan akan dilanjutkan untuk disebarluaskan ke seluruh Indonesia," tandas Kurt Kunz.

Sinergi RI-Swiss-Unido Dorong Daya Saing Perikanan Indonesia

Halaman: 
Penulis : De Sukmono