logo


Massa BPK: Novel Baswedan Jadi Momok dan Biang Kerok Kekisruhan yang Terjadi di Internal KPK

Koordinator BPK, Ahmad, mengatakan, banyak hal blunder yang dilakukan oleh Agus Raharjo cs.

24 Mei 2019 21:23 WIB

Ratusan massa dari Barisan Penegak Keadilan (BPK) kembali menggelar aksi unjuk rasa, di Gedung Merah Putih, KPK di Kuningan, Jakarta, Jumat (24/5).
Ratusan massa dari Barisan Penegak Keadilan (BPK) kembali menggelar aksi unjuk rasa, di Gedung Merah Putih, KPK di Kuningan, Jakarta, Jumat (24/5). ist

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Ratusan massa dari Barisan Penegak Keadilan (BPK) kembali menggelar aksi unjuk rasa memprotes Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Agus Rahardjo, beserta komisionernya karena dinilai gagal menjaga KPK untuk tetap independen dalam proses pemberantasan korupsi.

Koordinator BPK, Ahmad, mengatakan, banyak hal blunder yang dilakukan oleh Agus Raharjo cs. Mulai dari, perekrutan puluhan penyidik tak sesuai prosedur, hingga kabar penyidik KPK, Novel Baswedan kader Partai Gerindra.

Lalu, gerbong penyidik Novel, nampaknya ingin membuat kerajaan di KPK, dengan ingin menyingkirkan penyidik dari unsur Polri.


KPK Diminta Tak Ragu Tetapkan Status Tersangka pada Dua Menteri Ini

"Bagi kami Barisan Penegak Keadilan (BPK), Novel menjadi momok dan biang kerok kekisruhan yang terjadi di internal KPK," ujar Ahmad, di Gedung Merah Putih, KPK di Kuningan, Jakarta, Jumat (24/5).

Ahmad menegaskan, sesuai pengamatan BPK, bila penyidik tak berkompeten dibawah kaki tangan Novel terus dibiarkan, maka dapat mengancam proses pemberantasan korupsi ke depan.

"Novel yang tengah terciduk dengan pendukung capres dan disebutkan beberapa kali dia orang kita (Gerindra) bisa masuk ke lubang kepentingan politik. Kemudian, kualitas penyidik yang dipilih tanpa tes pun mengikuti induknya dan ini menjadi masalah serius bagi pemberantasan korupsi," tuturnya.

Ahmad menuturkan, pucuk kepemimpinan Agus Rahardjo cs tinggal menunggu waktu, karena bakal berakhir. BPK pun berharap, pengganti Agus Rahardjo, lebih berani menjaga marwah KPK dan tidak di setir oleh penyidik internalnya.

Menurut dia, pimpinan KPK yang dibutuhkan adalah berintegritas berani perangi korupsi tanpa pandang bulu dan tidak berpolitik. Terlebih dalam sistem perekrutan penyidik, KPK jangan terkesan politik akomodatif.

"Pengganti Agus Rahardjo wajib evaluasi dan copot Novel Baswedan dari penyidik KPK. Lalu kepentingan KPK sebaiknya sekarang tidak terpengaruh seperti dari Bambang Widjojanto dan Abraham Saham yang terkesan nafsu sekali ingin menguasai KPK," pungkasnya.

Potong Ayam Jantan di Depan KPK, Korps Merah Putih Tuntut Pimpinan KPK Beri Sanksi Novel Baswedan

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar, Riana