logo


Pangkas Ongkos Angkut FAME, Pemerintah Kaji Pemanfaatan Tangki KKKS

RU V Balikpapan telah menggunakan metode Ship To Ship (STS) untuk menekan ongkos angkut FAME.

20 Mei 2019 04:21 WIB

B20
B20 Dok. KESDM

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pemerintah tengah memassifkan konversi minyak solar konvensional (B0) yang berasal dari minyak bumi, menjadi biosolar, yang dicampur dengan Fatty Acid Methyl Esther (FAME) sebesar 20% (B20).

Dalam perencanaan jangka panjang, campuran solar konvensional dengan Biodiesel FAME berbahan baku minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO) akan dilakukan kajian potensi kemungkinan menjadi B100.

Pemerintah pun terus mengkaji penyediaan sarana prasarana dan ongkos angkut B20 agar semakin efektif.


Temui Bos Inpex di Jepang, Jonan Finalisasi Blok Masela

"Salah satu perhatian pemerintah adalah ketersediaan sarana prasarana di titik-titik pencampuran B20 yang masih belum optimal, juga ongkos angkut FAME menuju beberapa titik pencampuran yang masih cukup tinggi," ungkap Kepala Badan Litbang Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, di Jakarta, Jumat (17/5) lalu.

Dadan menjelaskan, Refinery Unit (RU) V Balikpapan milik PT Pertamina (Persero) misalnya, telah menggunakan metode Ship To Ship (STS) untuk menekan ongkos angkut FAME. Namun, hasil evaluasi penggunaan STS masih menunjukkan biaya operasional yang relatif tinggi.

"Solusi yang diperkirakan dapat menekan biaya operasional STS, salah satunya dengan memanfaatkan tangki-tangki minyak Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang idle dan terjangkau jaraknya dengan RU V Balikpapan," kata Dadan.

Untuk mengetahui potensi tangki-tangki milik KKKS yang bisa dimanfaatkan untuk penyimpanan FAME, Pulitbangtek Minyak dan Gas Bumi (PPPTMGB LEMIGAS) Badan Litbang ESDM telah melakukan Focus Group Discussion (FGD) Kajian Kelayakan Investasi Tanki FAME, Sarana Prasarana, Pipa dan Pencampuran di 10 Titik Pencampuran, beberapa waktu lalu (9/5).

Survei Tahap III Pra Konstruksi Rig Blok Mahakam, Pertamina Gaet P3GL dan Elnusa

Halaman: 
Penulis : Riana