logo


Impor Migas Biang Kerok Defisit RI, KESDM Sebut Pemicunya adalah...

Djoko meyakini, di bulan mendatang alias usai lebaran, impor migas akan mencatatkan hasil yang lebih bagus

17 Mei 2019 04:34 WIB

Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, Djoko Siswanto.
Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, Djoko Siswanto. Petrominer/Sony

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Dirjen Migas Kementerian ESDM, Djoko Siswanto, membeberkan alasan kenapa sektor minyak dan gas bumi (migas) menjadi penyumbang terbesar impor pada April 2019.

Sebagaimana diketahui, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) impor migas pada April mencapai USD 2,2 miliar meningkat dibanding bulan sebelumnya yang sebesar USD1,5 miliar. Angka tersebut menyebabkan defisit migas tercatat sebesar USD 1,5 miliar karena di sisi ekspor hanya bisa mencatatkan nilai USD741,9 juta.

Kata Djoko, tingginya impor lantaran melonjaknya kebutuhan migas menjelang Lebaran 2019.


Begini Langkah KESDM Antisipasi Wilayah Siaga Listrik Selama Periode Lebaran

"Iya sudah itu saja, untuk Lebaran kan meningkat, untuk puasa dan Lebaran," papar Djoko, di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (16/5).

Namun, Djoko meyakini, di bulan mendatang alias usai lebaran, impor migas akan mencatatkan hasil yang lebih bagus dikarenakan akan ada penghentian impor BBM jenis solar dan Avtur.

Untuk Avtur, Pertamina menyatakan sebenarnya sudah tidak lagi impor sejak April. Sedangkan Solar akan mulai disetop pasa bulan ini, Mei.

"Impor bulan berikutnya bagus akan turun. Solar dan Avtur turun, crude juga turun impornya," tukas Djoko.

Sementara, mengenai kinerja ekspor migas yang menurun, Djoko mengatakan, hal ini karena crude atau minyak mentah jatah Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang biasanya diekspor, kini digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga dijual ke Pertamina.

"Ekspor kurang karena digunakan untuk dalam negeri," tuntas Djoko.

Cetak Laba di 2018, Pertagas Tambah Satu Direksi Baru

Halaman: 
Penulis : Riana