logo


Ke Depan Pemerintah Akan Fokus Pembangunan SDM, Kemenko PMK: Caranya Peningkatan Kapasitas PT

Lima tahun ke depan pemerintah akan fokus ke pembangunan sumber daya manusia (SDM) diantaranya pendidikan vokasi dan sekolah menengah kejuruan

13 Mei 2019 12:56 WIB

Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Prof. Agus Sartono, MBA
Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Prof. Agus Sartono, MBA ist

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pemerintah lima tahun mendatang akan fokus pada pembangunan sumber daya manusia (SDM). Salah satunya ialah dengan meningkatkan kualitas lulusan vokasi dan perguruan tinggi, baik universitas maupun politeknik (poltek). Pendidikan menengah kejujuran (SMK) memang dimaksudkan untuk menghasilkan lulusan yang siap bekerja. Meski tak tertutup kemungkinan bahwa lulusan SMK bisa melanjutkan ke perguruan tinggi.

Data BPS menunjukkan bahwa persentase lulusan SMK yang menganggur menempati urutan teratas dalam data pengangguran. Setiap tahun, SMK menghasilkan lulusan sekitar 1,4 juta orang. Oleh sebab itu, pemerintah berupaya untuk meningkatkan kompetensi lulusan SMK, agar produktivitas dan daya saing industri tenaga kerja makin berkualitas. Saat ini program SMK Industri telah melibatkan sebanyak 2.612 SMK dan 855 industri. Program ini perlu diperluas (scale up) mengingat jumlah siswa yang begitu besar, dan ditargetkan menjangkau hingga 5.000 SMK. Fokus pengembangan program ini mencakup 4 sektor yakni manufaktur, pertanian, pariwisata, dan konstruksi.

Pengamat Nilai Menteri Susi Kecil Kemungkinan Masuk Kabinet Jokowi Lagi, Ada Parpol yang Menolaknya


Demi Pembangunan Manusia, Menko Puan Ajak Kementerian, Lembaga dan Pemda Bersinergi

Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Prof. Agus Sartono, MBA mengungkapkan bahwa setiap tahun jumlah lulusan SMA/SMK lebih dari 3,5 juta, sedangkan yang bisa ditampung di perguruan tinggi hanya sekitar 1,8 juta. Sisanya 1,6-1,7 juta masuk ke pasar tenaga kerja. Kondisi demikian telah berlangsung sejak 10 tahun terakhir. Walhasil, profil angkatan kerja di Tanah Air tak jua mengalami perbaikan. Sebanyak 65% angkatan kerja lulusan SD/SMP dan 25% lulusan SMA/SMK serta 10% lulusan perguruan tinggi.

“Kondisi ini harus diperbaiki agar bonus demografi dapat maksimal. Caranya dengan peningkatan kapasitas perguruan tinggi (PT), baik universitas maupun poltek,” ujarnya.

Berkaca dari negara maju seperti Jerman, pendidikan vokasi dalam hal ini poltek menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kualitas SDM sekaligus menjamin pertumbuhan ekonomi. Proporsi antara poltek dengan perguruan tinggi di sana pun seimbang. Kini saatnya bagi pemerintah untuk membangun politeknik baru maupun meningkatkan kualitas dan kapasitas politeknik yang sudah ada. Saat ini, kapasitas politeknik dan sekolah vokasi sekitar 975.000 atau kurang dari 325 mahasiswa/tahun. Pembangunan Politeknik baru sebaiknya dilakukan di pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dengan cara demikian maka masalah penyediaan lahan bisa teratasi; jaminan tempat magang siswa; mobilitas/ketersediaan tenaga ahli dan jaminan keterserapan lulusan menjadi lebih baik.

Belajar dari Jerman, Pemerintah Ingin Genjot Kualitas SDM

Halaman: 
Penulis : Nugroho Meidinata