logo


Harga Premium Naik, Inilah Penyebabnya

Namun harga solar tidak ikut naik

2 Maret 2015 10:52 WIB

Ilustrasi SPBU Pertamina.(Ist.)
Ilustrasi SPBU Pertamina.(Ist.)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis premium sebesar Rp 200 per liter. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah pada dolar Amerika Serikat dan kenaikan patokan harga BBM (MOPS/Mean Of Plates Singapore) menjadi penyebab naiknya harga premium per 1 maret 2015 kemarin.

Sudirman melanjutkan, selain melemahnya rupiah, harga dolar yang menguat pun ikut mempengaruhi kenaikan harga premium menjadi Rp 6.800 per liter. "Tren bulan lalu terlihat bahwa BBM itu kira-kira mengalami kenaikan. Plus juga kebetulan dolar menguat artinya rupiah melemah jadi berpengaruh pada harga keekonomian," jelas Sudirman pada wartawan di Jakarta, kemarin.

Sudirman berdalih, jika pemerintah tak menaikan harga premium maka akan timbul selisih yang besar antara harga sebenarnya dan harga jual ke masyarakat. Ini yang menjadi kekhawatiran pemerintah karena akan menyebabkan kerugian terutama bagi Pertamina.


Pertamina Beri Ruang, Field Tambun Berinovasi Selama Pandemi

"Kalau selisih harga dari bulan ke bulan tidak besar maka kami pakai harga yang sama. Tapi begitu selisih harga besar kami sesuaikan," pungkasnya.

Kenaikan MOPS dan pelemahan rupiah, menurut Sudirman sewajarnya harga solar subsidi juga mengalami kenaikan. Namun karena pemerintah telah menerapkan subsidi tetap Rp 1000 per liter, dan juga mengingat pertimbangan ekonomi lain, maka pemerintah memutuskan untuk tidak mengubah harga solar.

"Solar juga harusnya naik. Tapi karena masyarakat baru saja mengalami tekanan kenaikan harga elpiji dan beras dan lainnya maka kami sesuaikan kenaikannya hanya Rp 200 rupiah untuk premium," tegas Sudirman.

Ini Bukti DME Lebih Ekonomis dan Efisien Daripada Elpiji

Halaman: 
Penulis : Citra Fitri Mardiana,