logo


Hetifah Sjaifudian, Insinyur Jadi Anggota DPR yang Berjuang untuk Perempuan

Hetifah awalnya tidak tertarik dengan dunia politik, usai menempuh S1 dia lebih banyak terlibat di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dia adalah aktivis kebijakan publik dan tata pemerintahan.

11 Oktober 2018 17:48 WIB

Anggota DPR, Hetifah Sjaifudian
Anggota DPR, Hetifah Sjaifudian Dok. Jitunews.com

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Anggota DPR yang satu ini dikenal vokal memperjuangkan kesetaraan gender, nama lengkapnya yaitu Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP. Ia lahir di Bandung pada tanggal 30 Oktober 1964. Dia dibesarkan di keluarga pegawai negeri, ayahnya adalah seorang pegawai di Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

Hetifah menyelesaikan pendidikan menengah di SMA Negeri 3, Jakarta pada tahun (1982), sedangkan pendidikan tingginya diselesaikan di Institut Teknologi Bandung pada (1988) jurusan Planologi, S2 mengambil Public Policy di National University of Singapore, Singapura (1995) dan S3 Politics and International Relations, Flinders University, Adelaide, Australia (2006).

Hetifah awalnya tidak tertarik dengan dunia politik, usai menempuh S1 dia lebih banyak terlibat di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dia adalah aktivis kebijakan publik dan tata pemerintahan. Hetifah adalah pendiri AKATIGA (pusat analisis sosial) dan Direktur Eksekutif dari B-Trust Advisory Group di Bandung.


Keterpilihan Pemimpin Perempuan Diharap Bakal Memperjuangkan Isu-isu Perempuan

Hetifah juga sempat menawarkan diri sebagai Walikota Bandung, namun keinginannya tersebut gagal karena dia tidak memililiki latar belakang politik sehingga partai politik kurang tertarik untuk mencalonkannya sebagai wali kota Bandung.

“Sebagai ketua alumni Planologi ITB, banyak yang mendorong saya menjadi wali kota Bandung, tapi karena saya bukan orang politik dan saya enggak ngerti bagaimana politik dan kita coba menawari visi misi untuk Bandung namun ujungnya tidak tercalonkan karena saya bukan bagian dari partai, saya dari luar sebagai profesional menawarkan diri menjadi walikota,” Ujar Hetifah kepada Jitunews.com di gedung parlemen, Jakarta (11/10).

Setelah gagal merengkung calon wali kota Bandung, Hetifah barulah mulai dilirik oleh partai politik. Ada tiga partai politik yang memintanya bergabung yaitu Partai Golkar, PDI Perjuangan dan PAN. Dari tiga partai itu, dia memutuskan untuk memilih Partai Golkar.

“Itu tahun 2007, namun orang jadi mengenal saya karena minat menjadi wali kota sehingga mulai banyak orang tahu bahwa saya minat politik. Maka pada tahun 2009 pemilu beberapa partai menawarkan bergabung,” imbuhnya.

Partai Golkar dipilihnya karena menurutnya adalah partai yang telah membuka diri terhadap kaum perempuan, pada saat itu Partai Golkar di ketuai oleh Jusuf Kalla. Setelah menjadi kader Partai Golkar, Hetifah memutuskan untuk all out di partai berlamabang pohon beringin tersebut meski pada awalnya tak pernah terbayang akan terjun ke dunia politik.

“Saya pindah dari dunia aktivis ke politik itu harus yakin enggak boleh mundur, sebab saya ingin menang dan terjun jadi harus full dan tuntas. Makanya salah pilih partai yang memiliki peluang untuk menang lebih besar,” kata dia.

Keputusannya bergabung di Partai Golkar disambut dengan baik, Hetifah ditunjuk oleh Partai Golkar untuk maju sebagai Calon Legislatif (Caleg) dengan daerah pemilihan (Dapil) di Kalimantan Timur (Kaltim) pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2009.

“Saya dicarikan tempat atau dapil oleh Partai Golkar. Itu tahun 2009 pertama kali saya terjun ke politik,” tuturnya.

Hetifah akhirnya memenangkan kompetisi Pileg 2019 yang membawanya menuju parlemen meski sebelumnya dirinya hampir gagal karena suara didapat sempat dicurangi oleh pihak yang tak bertanggung jawab.

“Saya sempat dicurangi, awalnya suara saya tidak diganggu, sudah pleno-pleno di seluruh kabupaten kota dan yakin sudah menang, namun saat pleno KPU tiba-tiba di berita acara berubah, saya jadi kalah karena ada penggelembungan suara ke caleg lain sehingga saya jadi nomor urut tiga,” kata Hetifah.

“Kebetulan ada seorang saksi yang melihat yang ada di dalam berita acara bukan nama saya, kemudian saya coba kawal dengan melayangkan surat protes dengan mengumpulkan data-data, Alhamdulillah akhirnya di pleno ulang KPU dan akhirnya saya kepilih kembali,” tambahnya.

Hetifah mempunyai beberapa visi yang diperjuangkannya ketika menjadi Anggota DPR. Misi yang pertama adalah memperjuangkan penguatan perempuan dalam partai politik, agar lebih sensitif gender dan membuka ruang yang lebih luas bagi keterwakilan dan kepemimpinan perempuan dalam pengambilan kebijakan publik.

“Kalau saya diminta untuk bicara mengenai leadership perempuan, saya pasti akan sharing dan enggak akan menutup-nutupi tentang ilmu ataupun motivasi yang terkait perempuan, itu sudah bidang saya,” tuturnya.

Selain itu, Hetifah juga mempunyai visi untuk mendorong kompotisi leadership agar masyarakat yang diberi kesempatan untuk terjun di bidang itu memiliki bekal kepemimpinan.

“Saya ingin menpersiapkan dan menciptakan calon-calon yang memiliki kompetisi untuk jadi pimpinan daerah,” pungkasnya.

Belajar dari Adjeng Ratna Suminar, Perempuan Pejuang dan Sosok Ibu Tangguh

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar, Vicky Anggriawan