logo


Usulan RAPBN 2019: Lifting Migas Lebih Tinggi, Biaya Operasi Turun

Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi, memaparkan, lifting minyak bumi didominasi oleh 12 KKKS

14 September 2018 18:53 WIB

Kilang minyak.
Kilang minyak. shutterstock

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, mengusulkan lifting migas untuk RAPBN tahun 2019 mendatang sebesar 2 juta barrel oil equivalent per day (BOEPD).

Adapun, nilai tersebut lebih tinggi dari tahun 2018 yang sebesar 1,921 juta BOEPD dengan biaya produksi (cost recovery) USD 10,22 miliar lebih rendah dari outlook tahun 2018 sebesar USD 11,34 miliar.

"Lifting minyak dan gas bumi sampai hari ini realiasasinya itu 1,921 juta BOEPD, outlooknya 1,902 juta BOEPD. Dan untuk RAPBN 2019 diusulkan lifting migas sebesar 2 juta BOEPD dengan biaya produksi USD 10,22 miliar, dengan kurs sebesar Rp 14.400 per USD," tutur Jonan melalui keterangan resminya, Jumat (14/9).


SKK Migas Targetkan Produksi Sukowati Capai 20.000 BOPD

Berdasarkan catatan Kementerian ESDM, realisasi cost recovery hingga akhir agustus 2018 sebesar USD 7,77 miliar dan outlooknya sebesar USD 11,34 miliar. Untuk mengurangi cost recovery ini, menurut Jonan tidak banyak yang bisa dilakukan, paling banyak 1/3 atau 40% karena sisanya merupakan sisa bawaan dari masa kontraknya puluhan tahun yang lalu.

Sementara itu, Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi, memaparkan, lifting minyak bumi didominasi oleh 12 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) seperti PT Chevron Pacific Indonesia, Mobil Cepu LTD (ExxonMobil), PT Pertamina EP, dan Pertamina Hulu Energi yang menghasilkan lifting hingga 88% dari lifting minyak nasional.

"Lifting minyak bumi hingga akhir Agustus 2018 sebesar 774.425 BOPD atau 97% dari target lifting," ujar Amien.

Jonan Bilang Kendaraan Listrik Bukan untuk Masa Depan, Melainkan…

Halaman: 
Penulis : Riana