logo


Pertanian Presisi, Menuju Pertanian 4.0 Berkesejahteraan

Konsep Pertanian 4.0 lahir pada 2015 terinspirasi konsep Industri 4.0 yang lahir pada 2013.

7 September 2018 17:51 WIB

Petani menyiapkan bibit padi di areal persawahan Sindangkasih, Ciamis, Jawa Barat, Kamis (16/4).
Petani menyiapkan bibit padi di areal persawahan Sindangkasih, Ciamis, Jawa Barat, Kamis (16/4). Antara

Ditulis oleh: Ir. Winarno Tohir (Ketua KTNA) dan Dr. Edi Santosa, S.P., M.Si., (Dewan Pakar PPSN).

Konsep Pertanian 4.0 lahir pada 2015 terinspirasi konsep Industri 4.0 yang lahir pada 2013. Konsep Industri 4.0 lahir di Jerman yang mengedepankan teknologi informasi dalam proses industri.

Peningkatan kebutuhan hasil pertanian yang lebih tinggi dengan perlindungan kualitas lingkungan yang lebih baik, telah mendorong lahirnya gerakan “peningkatan hasil dengan dampak lebih rendah”. Gerakan tersebut di Eropa dikenal sebagai ‘Smart Farming” atau pertanian pintar dengan istilah Pertanian 4.0. Gagasan Pertanian 4.0 menarik perhatian pelaku pertanian dalam mendukung pengembangan pertanian modern. Pertanian 4.0 adalah pertanian presisi yang dikombinasikan dengan teknologi informasi digital yang utamanya didukung oleh big data, mobile internet dan cloud computing.


Tahun Depan, Kementan Bangun Kawasan Pertanian Modern Serpong

Dalam perjalanan pertanian, kemajuan teknologi produksi dapat dikelompokkan berdasarkan gagasan yang dikembangkan. Pertanian tradisional dapat dianggap sebagai Pertanian 1.0. Dilanjutkan dengan penggunaan alat-alat mekanisasi atau pertanian mekanis yang disebut dengan Pertanian 2.0. Tahapan berikutnya adalah pertanian yang berbasis sistem informasi yang disebut dengan Pertanian 3.0. Bagaimana agar model Pertanian 4.0 itu cocok dengan model pertanian Indonesia yang saat ini didominasi oleh isu kesejahteraan pelaku pertanian yang masih rendah dan rata-rata luas kepemilikan lahan yang sempit ? Apa saja syarat yang harus dipenuhi sehingga Pertanian 4.0 bisa cocok dengan kondisi alamiah Indonesia.

Pertanian presisi

Kelahiran pertanian presisi diawali ide pada 1994 oleh John Deere’s Precision Farming group di Moline-Iowa USA (https://spectrum.ieee.org) melalui penggunaan traktor. Lalu pada 1995, Rockwell International Corp. Menggunakan GPS yang dipasang pada alat panen untuk membuat peta detail kebun disertai dengan data hasil panen. Dengan cara itu, lahan-lahan yang lebih subur dapat dipetakan. Berikutnya petani dapat menentukan jenis tanah dan pemupukan dan pestisida yang lebih spesifik untuk setiap lokasi.

Pertanian presisi (precision agriculture) adalah bertani dengan input dan teknik yang tepat sehingga tidak terjadi pemborosan sumberdaya. Teknik ini banyak dikembangkan petani, sesuai namanya precision = presisi = tepat, petani melakukan tindakan budidaya secara tepat berdasarkan informasi yang mereka terima.

Dengan precision farming, petani mengolah tanah, menanam, merawat, memanen tanaman secara presisi. Itu dilakukan dengan bantuan perangkat teknologi digital yang membantu petani mampu menghitung jarak tanam tepat, kebutuhan benih dan pupuk tepat, umur panen dan jumlah panen tepat. Itu dibarengi dengan penggunaan alat mesin pertanian yang serba pintar.

Petani misalnya dapat memanen lobak dalam jumlah massal dan membersihkan langsung lobak dalam mesin berjalan pada mesin panen yang bergerak di lahan. Petani juga dapat menentukan area gandum mana yang sudah siap panen, mana yang dipanen pecan berikutnya, dan seterusnya. Oleh karena itu precision farming menjadikan produktivitas produk pertanian menjadi lebih tinggi, lebih berkualitas, dan biaya lebih efisien. Indonesia seyogyanya harus juga mengarah pada presicion farming.

Salah satu komponen utama adalah informasi cuaca. Di Jepang, petani yang tidak mengikuti informasi prakiraan cuaca itu bisa jadi celaka. Tanaman rusak karena serbuan hujan badai, salju turun, atau angin kencang. Akurasi prakiraan cuaca Japan Meteorological Agency (JMA) menjadi referensi petani untuk melakukan tindakan antisipatif. Tugas JMA adalah merilis informasi, termauk hujan badai. Serta-merta para petani menyiapkan segala perlengkapan untuk melindungi tanaman. Pemilik greenhouse misalnya segera mengerudungkan plastik di atap bangunan supaya tanaman di dalamnya terhindar dari kerusakan akibat guyuran hujan.

Pertanian presisi untuk kesejahteraan

Pertanian presisi dapat mengatasi tingginya biaya produksi. Ongkos produksi padi di Indonesia Rp4.079/kg. Ongkos produksi padi di China Rp3.661/kg; India Rp2.306/kg; Thailand Rp2.291/kg; dan Vietnam ongkos produksi Rp1.619/kg. Artinya jika dibandingkan dengan Vietnam misalnya, ongkos produksi padi kita lebih tinggi 2 kali. Dari nilai Rp4.079/kg itu sebanyak Rp1.380 (33,8%) untuk upah buruh lepas dan pekerja keluarga, biaya sewa lahan Rp1.719 (42,1%), sisanya biaya saprotan.

Komponen yang perlu diperbaiki dalam rangka mendukung pertanian presisi ada 10 komponen. Pertama, benih. Pemilihan benih harus tepat lokasi, tepat kondisi iklim, tepat kondisi lingkungan. Peta lokasi kebanjiran dan kekeringan serta daerah endemis hama dan penyakit sudah diketahui oleh Badan Litbang Kementerian Pertanian sehingga memudahkan dalam membuat peta produksi dengan berbagai macam kebijakannya. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) meliris perubahan musim. Ini yang dipakai petani untuk memutuskan pemilihan bibit yang tepat. Ada yang tahan kekeringan, tahan banjir, tahan terhadap salinitas tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit tertentu, serta tahan perubahan musim.

Kedua, pengolahan lahan. Semula karena ingin irit pada musim gadu dan rendeng petani hanya membabat jerami hasil panen dan langsung menanami sawah tanpa pengolahan lahan. Akibatnya produksi rendah, pada saat gadu hanya 4,5—5 ton per ha, saat rendeng 6—7 ton per ha. Mestinya lahan diolah dengan cara dibajak seperti pada 10 teknik Supra Insus. Di antaranya pengolahan lahan sempurna dengan melakukan bajak 2 kali secara silang dan digaru.

Ketiga, mengatur sistem pengairan. Sistem pengairan pada tanaman padi seharusnya tidak dengan cara penggenangan. Penggenangan bertujuan pertumbuhan rumput yang menjadi gulma, tetapi pertumbuhan tanaman padi juga tertekan. Lagipula boros. Sebaiknya sistem pengairan macak-macak seperti yang telah dilakukan pada SRI (System Rice Intesification). Di Jepang tidak ada penggenangan sawah. Air cukup dibuat lewat saja, yang penting tanah basah. Cirinya ketika kita berjalan di atasnya tanah ambles hingga setumit. SRI menghemat air sekaligus bibit dengan hasil yang lebih tinggi. Penggunaan benih hemat karena satu lubang tanam cukup 1 bibit. Bibit dipindah tanam ke sawah dari pembibitan pada umur 7 hari saat akar belum memanjang sehingga produksi optimal. Hasil panen dengan sistem SRI bisa di atas 7 ton per hektare gabang kering giling (GKG) dibandingkan sistem konvensional 5—6 ton per ha GKG.

Keempat, cara tanam. Selama ini petani mengenal cara tanam tandur (tanam mundur) dan tanju (tanam maju menggunakan caplak). Kini gunakanlah sistem legowo, disarankan untuk memilih legowo 2. Yakni 2 baris padi diselang 1 baris kosong dan seterusnya dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm dan longgarnya 25 cm. Pada musibah serangan wereng cokelat padi dengan sistem legowo relatif aman. Itu karena kelembapan udara relatif kering. Tanpa legowo, kelembapan udara di sekitar menjadi tinggi yang menjadi kesukaan wereng.

Kelima, pemupukan tepat. Untuk memupuk tepat, petani harus melakukan analisa sampel tanah. Sekarang banyak laboratorium tanah sederhana yang mudah diakses. Hasil uji lab akan ketahuan unsur hara makro dan mikro yang terkandung dalam tanah. Hasil itu yang dibawa kepada industri pupuk untuk menghasilkan pupuk tepat sesuai kebutuhan petani.

Keenam, penggunaan pestisida yang bijaksana. Pestisida digunakan hanya ketika serangan penyakit atas ambang ekonomis. Misal pada serangan wereng, sudah ditemukan 3 wereng per batang. Cara lain yang lebih alami yakni dengan menerapkan teknologi refogia. Berdasarkan hasil penelitian Badan Pangan Dunia (FAO) di Indonesia, refogia mampu menekan serangan hama. Teknologi ini yakni menanam tanaman bunga warna-warni di galengan sawah sebagai rumah predator alami. Jenisnya seperti tembelakan dan bunga matahari.

Ketujuh, teknik panen. Teknik panen yang dilakukan sekarang biayanya mahal dan kehilangan hasil tinggi, sampai 9—10,5%. Padi hilang ketika batangnya dipanen dengan arit. Guncangan arit saja sudah bisa menyebabkan rontok. Belum lagi saat dipukul-pukul ada beras yang hilang karena terlempar keluar. Dengan mesin, kehilangan hasil hanya 2—3%.

Delapan, terakhir dengan membentuk Badan Usaha Milik Petani (BUMP) untuk mengatasi masalah rendahnya kepemilikan lahan dan kecilnya porsi pendapatan petani. Dengan kepemilikan lahan 0,35 ha, dengan instrumen apapun seperti menaikkan subsidi pupuk atau menaikkan harga beli masyarakat, kesejahteraan petani tetap belum tercapai. Selama ini petani menjual hasil panen berupa gabah dan langsung menerima pembayarannya seharga pembelian pemerintah (HPP) Rp 3.700 per kg, nilai itulah yang dibawa pulang.

Bandingkan dengan yang dilakukan petani di Thailand. Mereka mengolah gabah menjadi panas yang menggerakkan turbin listrik. Listrik dimanfaatkan sendiri dan dijual ke perusahaan listrik negara. Sekam diolah menjadi karbon, bekatul menjadi ricebrand oil, ampasnya menjadi pangan sehat tinggi vitamin B. Sehingga mereka tidak hanya mendapatkan uang dari pembayaran gabah saja. Di Vietnam menir diolah menjadi tepung untuk membuat mi, di China jerami diolah menjadi papan antikebakaran.

BUMP sebuah model untuk mensejahterakan petani dengan dukungan awal berupa permodalan dan teknologi. Setiap 50—100 ribu ha perlu adanya kawasan industri perberasan yang dilengkapi dengan dukungan mesin industri antara lain mesin turbin pembangkit listrik berbahan bakar sekam, mesin pres jerami dengan pemanasan untuk bahan papan, mesin pres katul pembuat rice brand oil, mesin tepung untuk mengolah menir jadi tepung beras, mesin prosesing karbon (pengolah arang sekam). Seluruh mesin itu harus berada di satu kawasan. BUMP dimiliki oleh 99% pemerintah dan 1% petani.

Sembilan, tenaga penyuluh pertanian juga sudah makin berkurang sehingga petani tidak ada pendampingan di lapangan. KTNA sudah menyiapkan penyuluh Swadaya untuk mendampingi petani di desa-desa.

Sepuluh, Asuransi Pertanian sangat bermanfaat bagi para petani di era perubahan iklim global. Sebab walaupun kita sudah berusaha dengan berbagai cara tapi karena pertanian berhubungan langsung dengan alam sehingga segala kemungkinan gagal bisa saja ketika tiba-tiba terjadi angin puting beliung, tidak ada hujan/kekeringan dan hujan sangat banyak/banjir. Petani yang masuk Asuransi Pertanian yang hanya membayar 20 persen preminya dari Rp6 juta senilai Rp36 ribu rupiah karena yang 80 persen disubsidi pemerintah, bila terjadi kegagalan panen padi akan mendapat pergantian Rp6 juta rupiah/ha.

Peduli Petani, PGE Bangun Irigasi dan Bentuk Kawasan Ekonomi Masyarakat Berbasis Pertanian

Halaman: