logo


KKP Dukung Kabupaten Kotawaringin Timur Jadi Sentra Patin Nasional

Selain memiliki potensi besar, kabupaten ini juga telah menerapkan budidaya ikan berbasis kawasan

31 Agustus 2018 09:24 WIB

Panen ikan patin di Kelompok Maju Bersama Desa Bapeang Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kamis (30/08).
Panen ikan patin di Kelompok Maju Bersama Desa Bapeang Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kamis (30/08). Dok. KKP

SAMPIT, JITUNEWS.COM - Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Propinsi Kalimantan Tengah dinilai layak menjadi sentra ikan Patin Nasional. Selain memiliki potensi besar, kabupaten ini juga telah menerapkan budidaya ikan berbasis kawasan, sebagai wujud budidaya yang bertanggung jawab dan ramah lingkungan.

Demikian disampaikan oleh Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, saat melakukan panen ikan patin di Kelompok Maju Bersama Desa Bapeang Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kamis (30/08). Desa ini ditetapkan sebagai salah satu kawasan pengembangan ikan Patin, terdapat lebih dari 220 kolam, 45 kolam di antaranya sudah siap dipanen, setidaknya sebanyak 40 ton. Tiap kolam berukuran rata-rata 20x10 m dengan diisi sebanyak 2500 ekor benih patin, pembudidaya dapat panen 700 kg - 1 ton patin tiap kolam. Dengan biaya produksi per kg Rp. 18-19 ribu dan harga jual Rp. 23-25 ribu, maka setidaknya pembudidaya mampu meraup keuntungan Rp. 4-7 ribu per kg atau hingga dapat mencapai Rp. 3-7 juta per kolamnya.

Turut serta dalam kegiatan tersebut yaitu Wakil Bupati dan jajaran forum komunikasi perangkat daerah Kabupaten Kotim, Direktur Pakan dan Obat Ikan DJPB KKP, Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Kalimantan Tengah, dan PT. Pelindo III.


Benahi Logistik Perikanan, KKP Bangun Cold Storage 1.000 Ton di Muara Baru

Slamet menyampaikan apresiasinya saat menyikapi kebijakan dan program-program pengembangan kawasan maupun penerapan teknologi ramah lingkungan yang telah dilakukan pemda Kotim.

Lebih lanjut, untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ikan dalam negeri, KKP ungkap Slamet, terus mendorong pengembangan usaha budidaya melalui klasterisasi kawasan berbasis komoditas unggulan daerah. Menurutnya, strategi ini sangat ampuh untuk percepatan pengembangan kawasan, karena pada prinsipnya setiap komoditas yang dikembangkan memiliki karakteristik yang khas sesuai kondisi lokasi.

“Kami apresiasi pengembangan perikanan budidaya khususnya di Kabupaten Kotim ini karena telah menerapkan kawasan budidaya berbasis komoditas. Kebijakan ini tentu sesuai dengan yang telah digariskan KKP," kata Slamet saat memberikan sambutannya.

“konsumsi ikan per kapita kita terus naik, jika sebelumnya sebanyak 40 kg per kapita di tahun 2017 maka pada tahun 2019 ditarget sebanyak 53 kg. ini tentu harus diikuti keseriusan untuk meningkatkan produksi ikannya guna memperkuat ketahanan pangan nasional. saya rasa langkah pemda Kotim sudah tepat. Untuk itu Kotim saya rasa sangat pas menjadi sentra pengembangan Patin nasional,” lanjut Slamet, mengapresiasi keseriusan Pemkab Kotim.

Pernyataan Slamet tersebut merupakan tanggapan atas penjelasan yang disampaikan Wakil Bupati Kotim, M. Taufiq Mukri, dalam sambutannya.

Mukri menjelaskan bahwa komoditas utama yang dikembangkan di Kotim yaitu Patin, Nila dan Jelawat untuk komoditas air tawar. Sedangkan komoditas air payau yaitu udang dan ikan Bandeng. Masing-masing komoditas telah ditetapkan kawasan pengembangannya.

“Ada tiga strategi yang kami lakukan dalam mengembangkan perikanan di Kabupaten Kotim. Pertama kami tata kawasannya, ada yang khusus patin, nila dan tambak udang. Kedua pengemabangan dan pelestarian ikan Jelawat yang menjadi ikon Kota Sampit dan ketiga pengembangan ikan introduksi dengan pola budidaya kolam maupun sistem bioflok,” ujarnya.

Sebagai bentuk dukungan, pada kunjungan ini, KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya menyerahkan bantuan berupa 1 juta ekor benih ikan (patin, nila, jelawat dan lele) dan 5 ton pakan mandiri. Sedangkan untuk meningkatkan kemandirian sekaligus keuntungan usaha pembudidaya, juga segera diserahkan mesin pakan mandiri.

Sedangkan untuk pengelolaan dan penataan kawasan lebih lanjut, KKP pada tahun 2019 yang akan datang akan mengupayakan bantuan alat berat eksavator.

“Sebagai apresiasi atas kesungguhan masyarakat di sini, sekaligus dukungan KKP atas upaya pembudidaya bersama Pemda untuk terus menata kawasan budidayanya agar sesuai kaidah budidaya berkelanjutan, bertanggung jawab dan ramah lingkungan, tahun depan insya Alloh, Kotawaringin Timur menjadi salah satu calon penerima bantuan eksavator”, ujar Slamet, menutup sambutannya.

Kurangi Ketergantungan Impor, KKP Kembangkan Tepung Spirulina Skala Rumah Tangga

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan