logo


Kasus Penyerangan Pemuka Agama Sarat Kejanggalan, Ini Komentar Kapolri

Sejauh ini belum ada kesimpulan yang diambil polisi tentang dugaan adanya upaya sistematis yang dilakukan pihak tertentu dalam kasus itu.

15 Maret 2018 08:27 WIB

Jenderal Tito Karnavian
Jenderal Tito Karnavian Jitunews/KhairulAnwar

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Kasus penyerangan pemuka agama yang berulang kali terjadi masih menyisakan perdebatan serius di kalangan publik. Indikasi kejanggalan dalam kasus itu terus diungkap. Salah satunya tentang pelaku penyerangan yang disebut mengalami gangguan kejiwaan.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengakui adanya kejanggalan dalam kasus penyerangan terhadap pemuka agama. Tito mengatakan, dari 47 kasus yang dilaporkan ke polisi, lima kasus terindikasi tindak pidana.

"Sebagian besar tersangkanya, begitu diperiksa, mengalami gangguan kejiwaan. Jadi kami melihat ada sesuatu kejanggalan. Nah itu terus kami dalami," ujar Tito, dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi III di gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (14/3/2018).


Bahas Penyebar Hoax, Pemakaian Kata Muslim Memicu Kegaduhan

Tito menegaskan, sejauh ini belum ada kesimpulan yang diambil polisi tentang dugaan adanya upaya sistematis yang dilakukan pihak tertentu dalam kasus itu. Ia mengatakan, polisi belum menemukan adanya keterkaitan antara satu peristiwa penyerangan pemuka agama dengan kasus lainnya.

"Kesimpulan kami di lapangan, kami belum menemukan adanya penyerangan sistematis kepada tokoh agama tempat ibadah atau ulama. Belum bukan berarti tidak karena ada beberapa yang cukup janggal yang masih terus kami dalami," kata Tito.

Polisi, lanjut Tito, telah menerima 47 laporan penyerangan terhadap pemuka agama. Namun, hanya lima kasus yang terindikasi tindak pidana. Menurut Tito, sebagian besar peristiwa penyerangan direkayasa dengan tujuan menarik perhatian.

Ngaku Tersinggung dengan Nama MCA, Kapolri: Jangan Salahkan Polisi

Halaman: 
Penulis : Marselinus Gunas