logo


Gandeng ITS, Pertamina Ciptakan Alat Pengubah Energi Gerak Menjadi Listrik

Cara kerja KFC sama dengan mesin jahit, yakni mendapatkan sumber energi dari pijakan truk BBM

12 Maret 2018 12:58 WIB

Mahasiswa ITS bersama tim dari PT. Pertamina mengevaluasi konverter energi gerak menjadi energi listrik
Mahasiswa ITS bersama tim dari PT. Pertamina mengevaluasi konverter energi gerak menjadi energi listrik its.ac.id

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Salah satu masalah yang dihadapi Terminal BBM (TBBM) PT Pertamina Regional Surabaya adalah konsumsi listrik yang sangat besar. Setiap bulan, Terminal BBM Pertamina di Surabaya harus merogoh kocek hingga Rp 300 juta hanya untuk listrik.

Melihat hal tersebut, Staf Pertamina Surabaya Wahyu Nugroho, bersama timnya menciptakan Kinematic Flywheel Convertion (KFC), alat yang dapat mengubah energi gerak menjadi listrik.

Menurut Wahyu, alat yang diciptakan sangat murah, mudah dan hemat biaya. Menariknya, cara kerja KFC sama dengan mesin jahit, yakni mendapatkan sumber energi dari pijakan truk BBM. Kemudian menekan piston yang akan menggerakkan roda gigi dan dikonversikan pada flywheel untuk memutar altenator.


Pertamina MOR III Berbagi Tips Aman Berkendara ke Siswa Sekolah

“Altenator merupakan energi alternatif yang mengubah gerak menjadi listrik, nantinya akan disimpan pada aki dan dapat menghidupkan lampu di beberapa titik,” ujar Wahyu Nugroho yang menduduki posisi Ketua Tim KFC, Jdikutip dari laman its.ac.id.

Wahyu menjelaskan, distribusi listrik terdapat pada pintu masuk truk BMM yang menghidupkan 6-8 lampu dan pos satpam 2-4 lampu.

“Karena operasional pengisian truk BBM 24 jam non stop, maka aki dari dari KFC akan terus terisi. Manfaatnya, pengeluaran listrik dapat ditekan empat persen tiap bulan, sehingga satu tahun mencapai angka penghematan hingga 160 juta,” tuturnya.

Namun, untuk dapat melewati KFC truk BBM Pertaminamemiliki kualifikasi tersendiri yakni harus dalam keadaan kosong dengan kapasitas 8, 16, 24, 32, dan 40 kiloliter (kl).

“Untuk mencegah kerusakan alat, truk yang sudah ada isinya kami arahkan pada jalur lain,” paparnya.

Dalam proses pengerjaan, Pertamina menggandeng dua mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), yakni Ilham Kuncoro (Diploma Teknik Mesin Industri) dan Alan Budi Pratama (S1 Teknik Sistem Perkapalan).

Menurutnya, proses pengerjaan membutuhkan waktu empat bulan untuk menyelesaikan KFC.

“Kami mengikutsertakan mahasiswa agar mendapatkan keakuratan dua sisi, yakni data dan perhitungan secara sistematis, meskipun halangan terberat adalah mengganti desain hingga empat kali dikarenakan konstruksi materialnya,” ungkap alumni Diploma Teknik Mesin Industri ini.

Lebih jauh, ia menambahkan sejak dioperasikan pada bulan Oktober, alat ini telah meraih berbagai penghargaan yakni Best of The Best Inovasi Wilayah Jawa Timur, Bali, NTT dan NTB, dan Predikat Emas untuk Pertamina Direktorat Pemasaran.

“Kami berharap ke depannya, KFC dapat diaplikasikan di cabang Pertamina yang lain dan digunakan pada jalan tol,” pungkasnya.

Gandeng Balai Pustaka, Pertamina Hadirkan Ruang Baca Kekinian ‘Pertamax Reading Corner’

Halaman: 
Penulis : Riana