logo


Tanggapi Pembunuhan Guru Honorer oleh Muridnya, DPR: Berat Sekali Menjadi Guru di Negeri Ini

“Saya sangat berduka , sedih mendengarnya."

7 Februari 2018 18:55 WIB

Anggota Komisi X DPR RI Arzeti Bilbina.
Anggota Komisi X DPR RI Arzeti Bilbina. dpr.go.id

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Anggota Komisi X DPR RI, Arzeti Bilbina mengaku sangat prihatin atas peristiwa tewasnya seorang guru kesenian SMA N 1 Torjun, Sampang  yang dianiaya oleh muridnya sendiri. Terlebih sang guru masih berstatus sebagai tenaga pengajar honorer.

“Saya sangat  berduka , sedih mendengarnya, kok bisa murid memukuli gurunya sendiri hingga meninggal dunia, ini musibah pendidikan kita, Terlebih Pak Guru ini masih berstatus sebagai tenaga pengajar honorer alias guru tidak tetap,” ujar Arzeti kepada Jitunews.com, pada hari Rabu (7/2).

 Kesedihan Arzeti kian bertambah setelah mengetahui bahwa honor yang didapatkan oleh guru honorer masih di bawah upah minimum kabupaten (UMK).


Darmayanti Lubis Tegaskan DPD RI Dukung Pejuang Honorer K2

“Saya sering menerima  audiensi bersama guru Honorer yang rata-rata honornya dibawah UMK, coba kita bayangkan gaji di bawah upah minimum kabupaten (UMK) Sampang, yaitu sekitar Rp 600.000. Berat sekali menjadi guru di negeri ini, keprihatinan kita semua,” tambahnya.

Arzeti menilai bahwa pendidikan di Indonesia perlu dievaluasi kembali secara menyeluruh. Hal tersebut guna mendapatkan solusi agar kejadian serupa tidak kembali terulang di kemdian hari.

“Krisis karakter anak-anak kita harus kita carikan solusi bersama. Banyak hal yang perlu dievaluasi dan kita carikan solusinya bersama,” jelasnya.

Politisi ini mengatakan bahwa ada tiga hal yang perlu diperbaiki dalam proses pendidikan Indonesia saat ini. Dimana yang pertama adalah peran keluarga, pasalnya keluarga merupakan pembentuk moral anak yang pertama, mulai dari bagaimana anak mengenal tanggung jawab, sopan santun dan lain sebagainya.

“Pertama proses pendidikan yang pertama dan utama adalah di keluarga, bukan sekolah, sekolah adalah tempat pendidikan anak setelah keluarga. Anak-anak mengikuti orang tua dan berbagai kebiasaan dan perilaku,” jelasnya.

 Arzeti menambahkan hal kedua yang perlu diperbaiki adalah pendidikan ahlak, moral atau yang lebih dikenal dengan sebutan pendidikan karakter. 

“Saya juga prihatin ketika lembaga pendidikan selalu mengedepankan nilai akademik dan prestasi anak, bayangkan hari ini anak baru  mau masuk  sekolah SD dites calistung (baca tulis hitung), kalau tidak lolos ya tidak masuk, akhirnya anak-anak yang di sekolah PAUD atau TK sudah diajari calistung, memaksakan anak usia dibawah 7 tahun untuk belajar calistung sangat berisiko timbulnya stress jangka pendek dan rusaknya perkembangan jiwa anak dalam jangka panjang, jelas ini menghambat proses pembentukan karakter anak,” jelas mantan artis cantik ini.

Terakhir, perlu adanya regulasi untuk memberikan perlindungan kepada guru. Dalam hal ini, Arzeti sepakat agar regulasi ini diterapkan, pasalnya kasus  meninggalnya guru kesenian SMAN 1 Torjun Sampang dapat menjadi gambaran lemahnya perlindungan hukum terhadap guru. 

“Banyak sekali kasus yang menyudutkan guru, padahal tugas mereka sangat mulia untuk mendidik anak-anak kita. Selama ini tidak ada jaminan, guru mencubit anak saja orang tua protes dan melaporkan ke pihak yang berwajib. Lalu bagaimana anak kita bisa dilatih agar berdisiplin, dan dibentuk karakternya,” ulasnya.

Arzeti mengatakan meski Perlindungan terhadap profesi guru sudah diakui dalam PP Nomor 74 Tahun 2008, namun bukti di lapangan belum dapat menjadi jaminan untuk keselamatan guru pendidik.

“Namun di lapangan masih banyak kasus memidanakan guru akibat mendisiplinkan anak. Saya kira ini mendesak untuk segera direalisasikan,” pungkasnya.

Setujui Polisi Lakukan Tes Urine Pejabat di DPR, Bamsoet: Ada yang Pakai Narkoba

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar, Uty Saifin Nuha