logo


Penentuan Radius Bahaya Gunung Agung Murni Keputusan Teknis Vulkanologi

Penegasan Jonan tersebut adalah untuk menjawab kekhawatiran berbagai pihak atas keputusan penetapan radius bahaya yang diambil diluar kepentingan vulkanologi.

11 Januari 2018 11:36 WIB

Asap dan abu vulkanis menyembur dari kawah Gunung Agung.
Asap dan abu vulkanis menyembur dari kawah Gunung Agung.

BALI, JITUNEWS.COM - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, menegaskan bahwa penentuan radius bahaya bagi masyarakat untuk beraktivitas di wilayah Gunung Agung, Karangasem, Bali murni merupakan keputusan teknis vulkanologi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi.

"Kita, Badan Geologi, menurunkan radius awas dari 8-10 km menjadi 6 km itu berdasarkan pengamatan-pengamatan dan perhitungan teknis vulkanologi," tegas Jonan dalam kunjungannya ke pos pengamatan Gunung Agung di Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali pada hari Rabu (10/1) tengah malam.

Penegasan Jonan tersebut disampaikan untuk menjawab kekhawatiran berbagai pihak atas keputusan penetapan radius bahaya yang diambil di luar kepentingan vulkanologi.


Ikut Serta Bersihkan Masjid, Jonan Tebarkan Pesan Toleransi Ini..

"Gak usah khawatir kita ngurangi radius ini bukan tanpa dasar. Real saja (sesuai dengan analisis vulkanologi). Tidak ditambahi, tidak dikurangi," jelas Jonan.

Menurut Jonan, keselamatan manusia merupakan pertimbangan paling utama dalam pengambilan kebijakan terkait radius awas Gunung Agung sesuai arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Yang paling penting arahan Bapak Presiden itu, keselamatan manusia yang sesuai dengan kondisi faktual, sehingga tidak mengganggu kegiatan masyarakat dan kegiatan pariwisata," kata Jonan.

Dalam kunjungan kerjanya ke Bali kali ini, Jonan mengajak serta Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Willem Rampangilei, guna merancang lebih lanjut mitigasi bencana terutama bagi para pengungsi.

"Saya ke sini mengajak Kepala BNPB karena ada kepentingan untuk saudara-saudara kita yang mengungsi," lanjut Jonan.

Terkait penanganan dampak dari hasil rekomendasi PVMBG, Kepala BNPB telah melakukan berbagai upaya termasuk membangun early warning system dengan melakukan pengungsian di 10 desa.

"Ada 10 desa yang harus diungsikan atau kalau kita total sebanyak 32.666 jiwa. Ini kita tata kembali bagaimana penanganannya termasuk dukungan logistik, pelayanan kesehatan, pendidikan dan sebagainya," kata Willem.

Adapun ke-10 desa yang masuk dalam radius bahaya 6 km itu adalah Besakih, Ban, Dukuh, Kubu, Baturinggit, Datah, Nawakerti, Buana Giri, Jungutan dan Sebudi.

Dan berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental PVMBG hingga tanggal 10 Januari 2018 pukul 23.59 WITA, Gunung Agung secara keseluruhan tampak jelas tertutup kabut. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 500 m di atas puncak ke arah timur.

Dengan demikian, lanjut Willem, masyarakat yang berada di luar radius 6 km bisa beraktivitas seperti biasa namun agar tetap menjaga kewaspadaan. Hal ini dikarenakan perkiraan bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi serta dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan Gunung Agung yang paling aktual atau terbaru.

"Kewaspadaan kami pertahankan sambil kami perbaiki mitigasinya," tuntas Willem.

Status Awas, Jonan Tinjau Langsung Pos Pengamatan Gunung Api Gunung Agung

Halaman: 
Penulis : Riana