logo


Laba PLN Turun di Bawah Rp 10,5 Triliun

Laba bersih PLN tahun lalu tak akan lebih besar dari tahun sebelumnya. Pada 2016, PLN mencapai laba bersih sebesar Rp10,5 triliun.

8 Januari 2018 16:25 WIB

Ilustrasi PLN.
Ilustrasi PLN. Dok. Jitunews

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara/PLN (Persero), Sofyan Basir, memohon pemerintah agar membanderol harga batu bara dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO) sebagai bahan bakar pembangkit listrik dengan harga khusus.

1,3 Miliar Penduduk Dunia Tak Punya Akses Listrik

Sofyan mengaku bahwa laba bersih perusahaan tahun lalu tidak akan lebih besar daripada tahun sebelumnya. Pada tahun 2016, PLN memperoleh laba bersih sebesar Rp 10,5 triliun. Angka tersebut turun sebesar Rp 5,1 triliun dari laba bersih pada tahun 2015 yang tercatat Rp 15,6 triliun.

 "Karena kalau tidak, kami nggak bisa tahan, ke depan kan tarif penyesuaiannya belum jalan. Ya mau tidak mau sisi harga pokok produksi tidak boleh naik, kalau harga pokok produksi tidak boleh naik kan energi primer tidak boleh naik, ya kan. Ada solusinya, tidak boleh naik, ya DMO," tutur Sofyan di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat pada hari Senin (8/1).


Indonesia Timur Diprediksi Memasok Listrik Paling Tinggi

Perseroan memang belum mengeluarkan angka resmi. Namun, Sofyan mengatakan kenaikan, harga energi primer seperti batu bara dan minyak mentah membuat arus keuangan PLN ikut terbebani.

Kenaikan harga energi primer tersebut, mau tak mau, ikut memengaruhi biaya produksi perseroan, meski diakuinya perusahaan telah melakukan efisiensi untuk biaya operasional.

"Energi primer semuanya naik sangat drastis," pungkasnya.

UU Minerba Menuai Protes Dalam dan Luar Negeri

Penulis : Uty Saifin Nuha