logo


Kata Luhut, Indonesia Bakal Jemput Bola Dana Asing dengan Bunga Rendah

Luhut menyebut Indonesia tidak akan mengalami kesulitan karena sudah memperoleh kepercayaan dunia

8 Januari 2018 01:30 WIB

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman (Menko Kemaritiman), Luhut Binsar Pandjaitan.
Menteri Koordinator bidang Kemaritiman (Menko Kemaritiman), Luhut Binsar Pandjaitan. JITUNEWS/Johdan A.A.P

JAKARTA, JITUNEWS.COMMenteri Koordinator Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan menyebut tahun 2018 adalah tahun kerja keras. Ia mengatakan pemerintah akan menerapkan strategi jemput bola

Fadli Zon: Jargon Pembangunan Maritim Kok yang Dibangun Jalan Tol di Darat

"Tahun ini pemerintah akan menerapkan strategi yang lebih 'reaching out' dengan kata lain lebih jemput bola. Misalnya, untuk mempercepat pembangunan pemerintah dapat memanfaatkan keberadaan dana-dana dari luar negeri," kata Luhut melalui keterangan tertulis, Minggu (7/1).

Luhut lalu memberi contoh, dana pensiun di Jepang yang bunganya 0 persen, jika pemerintah menawarkan dana tersebut dapat diinvestasikan di Indonesia dalam program yang berkesinambungan dengan bunga 3-4 persen mereka akan senang.


Tutup Keuangan 102,36%, Sandiaga Uno: Membanggakan Bagi Pemprov DKI

Luhut menyebut Indonesia juga akan untung karena hanya membayar bunga yang rendah, jauh di bawah rata-rata suku bunga kredit di Indonesia yang tercatat 11,45 persen (data BI November 2017), dan hanya setengah dari bunga pinjaman proyek LRT yang 8,25 persen.

Ia menyebut Indonesia tidak akan mengalami kesulitan karena sudah memperoleh kepercayaan dunia. Buktinya adalah meningkatnya rating Indonesia oleh beberapa institusi internasional, seperti dari Fitc Ratings (naik dari BBB- ke BBB), Standard & Poors (dari BB+ menjadi BBB-/Investment Grade), dan Moody's Investors Service (naik dari Stable menjadi Positive).

"Saya juga optimis bahwa rating Indonesia ini akan lebih baik. Dampaknya akan luar biasa karena tingkat kepercayaan investasi pada kita makin tinggi," ujarnya.

"Strategi jemput bola ini penting karena kita yang harus aktif mendatangi mereka secara profesional, bukan kita yang menunggu didatangi. Apalagi sekarang kita seolah-olah muncul tiba-tiba di permukaan setelah selama ini Indonesia tenggelam di kancah dunia," terangnya.

Jika dulu sempat mengalami kenaikan, Luhut menyebut hal tersebut karena ada comodity booming atau harga komoditas melonjak, sehingga ekonomi Indonesia dalam kurun 2010-2012 tumbuh di atas 6 persen. 

"Ke depannya kita tidak lagi boleh bergantung pada harga raw material saja. Industrialisasi harus kita jalankan supaya bisa menambah added value pada bahan mentah," ujar Luhut.

Sri Mulyani Pastikan APBDN 2017 Menggembirakan dengan Defisit Hanya 2,57 Persen

Penulis : Aurora Denata