logo


Sri Mulyani Pastikan APBDN 2017 Menggembirakan dengan Defisit Hanya 2,57 Persen

Ia menyampaikan realisasi defisit anggaran pada APBNP 2017 mencapai 2,57 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

3 Januari 2018 10:35 WIB

dibaca 48 x

Menteri Keuangan, Sri Mulyani, memastikan APBNP 2017 menunjukkan realisasi menggembirakan dari sisi pendapatan, belanja, serta terjaganya keberlangsungan fiskal.

"Dengan penyerapan belanja lebih besar, tapi defisit tidak besar, artinya APBN memiliki daya dorong dan bisa menggerakkan roda perekonomian tanpa menimbulkan persoalan berkelanjutan," ujarnya dalam jumpa pers di Jakarta, pada hari Selasa (2/1).

ICP dan Lifting Minyak Masuk Revisi APBNP 2017

Ia menyampaikan realisasi defisit anggaran pada APBNP 2017 mencapai 2,57 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atau jauh lebih kecil dari target 2,92 persen terhadap PDB.

"Defisit APBNP yang hanya 2,57 persen ini bahkan di bawah proyeksi 2,6 - 2,7 persen," kata wanita berkacamata ini kepada awak media.

Dia juga mengatakan bahwa realisasi defisit anggaran tersebut berasal dari pendapatan negara sebesar Rp 1.655,8 triliun dan belanja negara yang menyentuh angka Rp 2.001,6 triliun.

Realisasi pendapatan negara berasal dari penerimaan perpajakan sebesar Rp 1.339,8 triliun atau 91 persen dari target dan penerimaan negara bukan pajak sebanyak Rp 308,4 triliun atau 118,5 persen dari target.

Penerimaan perpajakan tersebut berasal dari penerimaan pajak nonmigas Rp 1.097,2 triliun atau 88,4 persen dari target, PPh migas Rp 50,3 triliun dari 120,4 persen dari target serta kepabeanan dan cukai Rp 192,3 triliun atau 101,7 persen dari target. 

"PPN tumbuh 16 persen, PPh nonmigas tumbuh 10,9 persen tanpa tax amnesty, cukai tumbuh 6,8 persen, bea masuk tumbuh 7,7 persen dan bea keluar tumbuh 34,9 persen," ujarnya.

Sementara itu, realisasi belanja negara berasal dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp 1.259,6 triliun atau 92,1 persen dari pagu dan transfer ke daerah dan dana desa Rp 742 triliun atau 96,8 persen dari pagu. 

Realisasi belanja pemerintah pusat mencakup belanja Kementerian Lembaga sebanyak Rp759,6 triliun atau 95,1 persen dari pagu dan belanja non Kementerian Lembaga Rp500 triliun atau 88 persen dari pagu.

"Penyerapan belanja Kementerian Lembaga termasuk belanja pegawai yang mencapai 93,9 persen, belanja barang 96,9 persen, belanja modal 92,8 persen dan bansos yang sudah mencapai 100 persen," tambahnya.

Sedangkan realisasi transfer ke daerah telah mencapai Rp682,2 triliun atau 96,6 persen dari pagu dan dana desa sebesar Rp59,8 triliun atau 99,6 persen dari pagu.

Untuk menutup defisit anggaran tersebut, pemerintah telah melakukan pembiayaan utang sebesar Rp 426,1 triliun atau 92,4 persen dari target.

Selain itu, ia menambahkan, neraca keseimbangan primer juga mencapai Rp 129,3 triliun atau hanya 72,6 persen dari target.


Sri Mulyani ,Program 3C (connectivity, confidence, creativity) Bantu Ekonomi Digital

Ditulis oleh: uty saifin nuha

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Negara Agraris dan Keberpihakan Kebijakan Perencanaan Ruang

Admin : Nugrahenny Putri Untari