logo


Aksi ‘Beach Cleaning’ di Pantai Mertasari, Bukti Bahwa Pulau Dewata Aman

Berbagai lokasi wisata di Bali tidak terpengaruh dengan aktivitas vulkanik Gunung Agung.

22 Desember 2017 15:09 WIB

Aksi 500 Peserta “Beach Clean”\' di Pantai Mertasari Sanur
Aksi 500 Peserta “Beach Clean”' di Pantai Mertasari Sanur bali-travelnews.com

SANUR, JITUNEWS.COM - Penguatan sektor pariwisata dari hari ke hari terus membaik. Tidak hanya dari sisi promosi dan penjualan, tapi juga penguatan titik-titik yang menjadi kelemahan pariwisata Indonesia. Dari safety and security, environment sustainability, ICT Readiness, healty and hygiene, dan 14 pilar lainnya.

Salah satu gambaranya seperti yang terjadi pada tanggal 17 Desember 2017 lalu. Ada aktivitas seru di Pantai Mertasari, Sanur, Bali. Lebih dari 500 orang berkumpul melakukan aksi bersih-bersih pantai pada acara yang bertajuk "Pesona Pulau Dewata Mertasari Beach Cleaning".

Semuanya secara sukarela melakukan aksi bersih-bersih pantai sambil mengampanyekan pentingnya menjaga lingkungan. Sebab pariwisata sangat erat kaitannya dengan kebersihan, kesehatan, dan melestarikan lingkungan.


Case Gunung Agung Bali, Safety & Security Indonesia Makin Solid

Acara ini diinisiasi oleh ASITA yang secara rutin melakukan kegiatan-kegiatan sosial melalui program ASITA Care atau ASITA Peduli.

"Kita ramai-ramai datang ke pantai Mertasari untuk memungut sampah sepanjang pantai kurang lebih dua kilometer. Kemudian sampah dikumpulkan dan dibawa petugas yang sudah standby," ujar Ketua DPD ASITA Provinsi Bali, Ketut Ardana.

Mereka begitu enjoy melakukan aksi tersebut. Sambil aksi bersih-bersih, mereka juga disuguhi pemandangan pantai yang begitu indah. Salah satu keunikan Pantai Mertasari adalah wisatawan dapat melihat momen matahari terbit (sunrise) dan matahari terbenam (sunset) dari pantai ini.

Pasirnya yang putih ditambah jejeran batu karang yang tersusun rapi menambah keindahan pantai tersebut. Melalui Pantai Mertasari wisatawan juga bisa menuju Dream Island.

Di kawasan ini wisatawan bisa melakukan berbagai aktivitas menarik seperti water sport activities, memberi makan hiu, atau sekadar berselfie ria. Salah satu spot favorit di kawasan ini adalah ayunan pantai yang mirip seperti yang ada di Gili Trawangan.

Ketut mengatakan, kegiatan ini diikuti lebih dari 500 orang. Mereka berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari anggota ASITA, mahasiswa sekolah-sekolah pariwisata di Bali, dan beberapa komunitas bahkan wisatawan mancanegara sekalipun tidak ketinggalan ikut serta.

"Penguatan lingkungan dan peningkatan kesadaran masyarakat memang harus menjadi salah satu point utama yang diperkuat. Sebab, ini menjadi komponen yang membuat peringkat pariwisata Indonesia masih tertinggal," ujarnya.

Ketut memang tidak asal bicara. Merosotnya indeks daya saing pariwisata Indonesia ke peringkat 42 dalam Travel and Tourism Competitivenes Index (TTCI) yang dikeluarkan World Economic Forum (WEF) pada bulan April 2017 lalu disebabkan oleh beberapa hal yang menjadi titik kelemahan pariwisata Indonesia.

Kelemahan dimaksud adalah Health and Hygiene yang berada pada peringkat 108 serta Environment Sustainability yang berada pada peringkat 131 dari 134 dunia.

Oleh Karena itu, diperlukan peran serta semua pihak termasuk ASITA dalam meningkatkan komponen-komponen yang dapat meningkatkan indeks daya saing pariwisata Indonesia.

"Tidak hanya kegiatan bersih-bersih, sebelumnya ASITA juga melakukan pemeliharaan hutan mangrove seluas kurang lebih 2 hektar. Mulai dari menanam pohon mangrove hingga saat ini sudah mencapai ketinggian 2,5 meter," ujar Ketut.

Lebih jauh ia mengatakan, kegiatan "Clean Up Beach" ini juga sekaligus sebagai kampanye kepada publik bahkan masyarakat dunia bahwa Bali aman. Berbagai lokasi wisata di Bali tidak terpengaruh oleh aktivitas vulkanik Gunung Agung.

"Bali tidak aman? Saya tidak setuju dengan anggapan itu. Karena Gunung Agung itu jaraknya sangat jauh dari pusat kegiatan pariwisata. Kegiatan pusat pariwisata itu ada di Kuta, Seminyak, Legian, Nusa Dua, Ubud, Buleleng, dan lain sebagainya,” ujar Ketut Ardana.

Adapun daerah yang dilarang untuk aktivitas wisata hanyalah 6-10 kilometer dari Gunung Agung. “Sudah dijelaskan dan diinformasikan oleh pemerintah bahwa radius 6 sampai 10 kilometer itulah titik yang berbahaya yang sudah tentu kita juga tidak mau ke situ. Tentu kita tidak mungkin akan menjual tour ke sana, tetapi ke daerah lain, di tempat lain yang normal dan aman," ucap Ketut.

Ia pun berharap wisatawan tidak terpengaruh oleh berita-berita yang tidak benar atau hoax tentang Gunung Agung.

“Bisa kita lihat di sini bahwa masyarakat dengan sangat santai datang beramai-ramai ikut bersama membersihkan pantai ini. Itu menandakan bahwa Bali itu aman," ungkap Ketut Ardana.

Menteri Pariwisata, Arief Yahya, menyambut baik dan mengapresiasi langkah yang dilakukan ASITA bersama stakeholder terkait dan masyarakat Bali. Kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan harus juga menjadi dasar pemikiran. Tidak hanya di Bali yang kehidupannya sangat erat dengan pariwista, tetapi juga daerah-daerah lain di Indonesia.

"Untuk memperbaikinya (kesadaran menjaga lingkungan,red) memang tidak bisa instan. Tidak bisa juga digarap Kemenpar sendirian. Indonesia Incorporated, harus kerja bareng bergotong royong dengan kementerian dan lembaga lain," kata Menpar, Arief Yahya.

Mantan Dirut Telkom itu berharap, ke depannya semua sektor yang berkaitan dengan industri pariwisata terus berbenah dan bersinergi demi mewujudkan target yang akan dicapai pada tahun 2019.

“Semua unsur yang menjadi kelemahan terus kita perbaiki dengan melibatkan stakeholder, pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, pers, dan komunitas masyarakat atau sebagai kekuatan pentahelix. Sinergisitas pentahelix ini merupakan kunci sukses dalam mengembangkan pariwisata nasional,” kata Arief Yahya.

Sementara itu, terkait dengan kondisi Bali saat ini, ia juga meminta semua pihak ikut andil memberikan informasi yang baik dan jelas kepada masyarakat. Namun lebih dari itu, ia mengajak industri pariwisata untuk bersama-sama melakukan recovery untuk memulihkan pariwisata Bali yang terdampak.

Pariwisata Bali sempat menukik dalam satu bulan ini, dan kini saatnya pelaku industri pariwisata untuk bisa mengambil langkah-langkah strategis. Di antaranya memberikan penawaran spesial yang tidak bisa ditolak wisatawan.

Gerakan untuk menjaga agar pilar-pilar utama 14 point di TTCI memang terus dititipkan ke semua unsur Pentahelix, ABCGM. Academician, Business, Community, Government, dan Media. “Kalau kita gotong royong, semua bergerak, lintas kelembagaan, kita akan semakin efektif membuat seluruh destinasi semakin kompetitif,” kata Menpar Arief Yahya.

Diluar Radius 10 km Sekitar Kawah Gunung Agung, Kondisi Bali Aman Dikunjungi

Halaman: 
Penulis : Riana