logo


Donald Trump Sesat Akui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel

Rofi menilai, keputusan Trump tidak dilandasi argumentasi yang memadai dan pertimbangan yang matang.

8 Desember 2017 09:20 WIB

Anggota DPR RI Komisi VII, Rofi Munawar
Anggota DPR RI Komisi VII, Rofi Munawar jabar.pks.id

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI mendorong Pemerintah dalam hal ini Kementerian Luar Negeri untuk memanggil kembali Duta Besar AS di Jakarta guna memberikan penjelasan atas keputusan Trump dan menyampaikan protes keras secara langsung atas keputusannya yang menyatakan bahwa Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

Fadli Zon Sebut Klaim Trump Soal Yerusalem Mungkin Saja Pengalihan Isu Domestik

Wakil Ketua BKSAP, Rofi Munawar, memandang keputusan resmi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel adalah keputusan sesat dan ceroboh.

“Kita mengutuk keras atas keputusan Trump akui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, bukti presiden AS tersebut mengambil keputusan sepihak terhadap persoalan Palestina. Ironisnya keputusan dibuat sama sekali tidak mempertimbangkan kepentingan Palestina, sungguh merupakan langkah mundur dan berpotensi menyeret konflik di Timur Tengah yang lebih dalam,” ujar Rofi Munawar di Jakarta, Kaamis (7/12) malam.


Tanggapi Klaim Trump Soal Yerusalem, PPP Menyerukan Boikot Barang Produksi AS dan Israel

Lebih lanjut, Rofi menilai, keputusan Trump tidak dilandasi argumentasi yang memadai dan pertimbangan yang matang. Padahal selain desakan dari berbagai pemimpin dunia, di sisi lain sudah banyak kajian serta keputusan yang menegaskan Israel tidak memiliki hak atas Yerusalem.

Hal tersebut, kata Rofi, telah ditegaskan secara resmi oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) mengeluarkan sebuah resolusi yang mengecam ekskavasi (pengakuan) Israel di Yerusalem.

UNESCO menyebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional. Jauh sebelum itu di tahun 1980, atas usaha yang sama Israel pernah mengesahkan secara sepihak undang-undang yang menyatakan Yerusalem adalah Ibu Kota Israel. Namun dikecam PBB lewat resolusi baru dan menyatakan langkah Israel sebagai pelanggaran hukum internasional.

“Keputusan Trump tersebut secara terang benderang menegaskan bahwa AS tidak dapat diharapkan lagi sebagai salah satu negara sponsor pembicaraan damai Palestina-Israel yang sudah terhenti sejak tahun 2014. AS di bawah kepemimpinan Trump telah kehilangan legitimasinya. Alih-alih sponsor perdamaian, AS seperti membeo kepada keinginan Benjamin Netanyahu yang keras kepala,” tegasnya.

Rofi menambahkan, keputusan Trump sebagai sebuah kecerobohan paling fatal dalam sejarah diplomatik AS. Meski 1995 muncul keputusan penting di Kongres AS pengesahan undang-undang terkait pemindahan kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.

UU tersebut tak pernah direalisasikan sepanjang era kepresidenan Bill Clinton, George W. Bush, hingga Barrack Obama. Mereka semua menolaknya, karena memahami dampak yang akan dihasilkan bersifat negatif baik untuk keamanan nasional AS maupun kestabilan Timur Tengah.

“Langkah Trump ini seakan menegasikan kebijakan AS di Timur Tengah selama ini, dipastikan akan mengganggu sekutu tradisional mereka di wilayah tersebut. Selain itu akan mempersulit terwujudnya perdamaian Palestina-Israel, bahkan semakin mengeskalasi ketegangan di Kawasan. Dampak sangat serius dari keputusan Trump tersebut adalah menumbuhsuburkan benih-benih terorisme dan anti-Amerika di mana-mana,” pungkasnya.

Kecam Donald Trump Soal Yerusalem, Fadli Zon Malah Diskakmat Netizen Begini

Penulis : Khairul Anwar, Riana