logo


Udang Windu Bangkit Karena Pakan Alami Phronima

Untuk bertambak udang windu sistem modular dengan pakan alami Phronima Suppa paling tidak petambak harus memiliki 2-3 petakan tambak

12 November 2017 06:29 WIB

dibaca 1422 x

Udang windu (Penaeus monodon) sejak dahulu hingga saat ini merupakan salah satu komoditas unggulan sektor Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pinrang. Produksi udang windu yang dihasilkan oleh pembudidaya di daerah ini  sangat diminati oleh pasar manca negara khususnya di  Jepang. Tak berlebihan apabila kabupaten Pinrang berobsesi mengembalikan kejayaan udang windu seperti di era tahun 1980-an.

KKP Genjot Produktivias Udang Windu di Kalimantan Timur

Sungguh dahsyat udang windu ketika itu, karena booming produksi di enam kecamatan wilayah pesisir di kabupaten Pinrang. Pada masa itu, budidaya udang windu diandalkan sebagai penggerak roda perekonomian masyarakat pesisir.

Booming udang windu yang terjadi sepanjang tahun 1980-an hingga awal 1990 berimplikasi pada semakin bertambahnya luas lahan tambak yang mencapai lebih dari 15.000 ha. Mengingat, pada saat itu banyak lahan sawah yang tidak memenuhi persyaratan teknis  dipaksakan untuk dialih fungsikan menjadi lahan budidaya udang. Akibatnya, bermunculan berbagai masalah yang menyebabkan gagal panen terjadi dimana-mana.


Setia Pada Udang Windu, Pria Ini Punya Harapan Besar ke Pemerintah

Budidaya  tambak yang tidak memenuhi  syarat telah menyebabkan kerusakan pada lingkungan, penurunan produksi tambak dan kualitas produksi udang, berjangkitnya wabah penyakit oleh virus dan bakteri. Akibat serangan patogen khususnya virus White Spote Syndrome Virus (WSSV) dan  Vibrio Harvey.

Sejak tahun 2005 ditemukan populasi phronima suppa (Phronima sp) jenis mikro crustacea yang hidup secara alami pada perairan tambak tertentu di desa Wiringtassi dan desa Tasiwalie kecamatan Suppa, Pinrang. Phronima sp tidak ditemukan pada tambak di luar kedua desa tersebut.

Pada awal ditemukannya organisme tersebut, masyarakat lokal menyebutnya sebagai were. Were berasal dari kosa kata bahasa Bugis yang bermakna anugerah, berkah atau rahmat. Phronima Suppa menjadi anugerah, berkah dan rahmat bagi pembudidaya pada saat kondisi pertambakan udang nasioanl mengalami keterpurukan karena degradasi mutu lingkungan, infeksi patogen dan buruknya manajemen budidaya.

Keberadaan Phronima Suppa menjadi indikator bangkitnya udang windu pada kawasan yang sedang terserang virus WSSV dan V.harvey. Kawasan tambak yang ditemukan Phronima sp serta kawasan tambak yang sedang terjangkit WSSV berhasil memproduksi udang windu dengan sintasan sekitar 70 persen. Sebaliknya, tambak udang windu tanpa Phronima sp hanya mampu memproduksi udang windu  dengan sintasan 10 persen.. Phronima Suppa diduga kaya nutrien dan berperan penting dalam membangun sistem immunitas internal pada udang serta memperbaiki struktur tanah dan lingkungan perairan.

Berkembangnya pakan alami Phronima Suppa menjadikan kabupaten Pinrang sebagai daerah pemasok udang windu tersebesar di Sulawesi Selatan, dimana pada tahun 2013 produksi udang windu terbesar di Sulawesi Selatan, yaitu 2.973,2 ton, meningkat dari produksi tahun 2012 sebesar 2.931 ton.

Di Pinrang, luas lahan potensi perikanan tambak mencapai 15.675 ha dengan pola budidaya tradisional, semi intensif, polikultur udang dan bandeng serta sedikit budidaya pola intensif. Kawasan tambak terbagi di enam lkecamatan, yaitu Suppa (2.203 ha), Lasinrang (1.5675 ha), Mattirosompe (4.131 ha), Cemapa (2.341 ha), Duampanua (5.101 ha), dan Lembang (339 ha).

Konsep pengembangan Blue economy saat ini kian gencar didengungkan seiring kian meningkatnya kesadaran untuk menjaga lingkungan dalam melakukan usaha budidaya perikanan. Prinsip ini pula yang kini diterapkan oleh para petambak udang windu di kabupaten Pinrang, Mereka menyebutnya budidaya udang windu ramah lingkungan. Yaitu budidaya udang windu dengan menggunakan pakan alami yang disebut sebagai phronima (Phronima suppa). Phronima merupakan sejenis udang renik yang hidup di dasar tambak yang pertama kali ditemukan di kecamatan Suppa maka diberi sebutan Phronima Suppa. Rencananya pakan alami lokal ini akan segera dipatenkan dengan nama Phronima Suppa agar tidak diakui oleh daerah lain.

Sejak ditemukan pakan alami itu merupakan awal kebangkitan udang windu di Pinrang. Bertambak cara tradisional di era modern ternyata membawa keberuntungan. Udang windu yang diproduksi dengan sistim modular dengan pakan alami Phronima Suppa menjadi incaran konsumen di pasar internasional, karena udangnya padat, sehat, alami dan yang paling penting ramah lingkungan.

Bertambak sistim modular menggunakan pakan alami phronima maka cukup 55-70 hari pembudidaya sudah panen udang windu dengan ukuran size antara 25-30 ekor/kg. Untuk menumbuhkan phronima di tambak diperlukan lingkungan yang sesuai. Sebab hewan kecil ini menyukai dasar tambak liat berpasir, kisaran parameter kualitas air seperti suhu 28–25 derajat celsius, salinitas 28–40ppt dan idealnya 38 itu sudah bagus, oksigen terlarut 0,3–4,9 ppm, ammonia 0,080–1,600 ppm dan Nitrit 0,056–1,329 ppm.

Pengalaman Pembudidaya

Untuk bertambak udang windu sistem modular dengan pakan alami Phronima Suppa  paling tidak petambak harus memiliki 2-3 petakan tambak. Jumlah petakan tambak tersebut satu petakan seluas 0,25-0,35 ha digunakan untuk petak pentongkolan benur. Sedangkan petakan lainnya (luasnya 0,50-1,00 ha) untuk penumbuhan dan perbanyakan populasi phronima. Untuk mengembangbiakkan phronima di tambak perlu dilakukan persiapan media yaitu mulai pengeringan lahan dan pemberantasan hama menggunakan saponin. Kemudian tambak diberi kapur bakar 500-1.000 kg/ha atau  tergantung tingkat keasaman (pH) tanah dasar tambak. Beri pupuk urea 100 kg/ha, TSP 50 kg/ha, ZA 50 kg/ha dan dedak 300 kg/ha serta pupuk cair organik sebanyak  5 liter/ha. Dedak tersebut lebih dahulu dipermentasi menggunakan ragi roti atau ragi tape lalu masukkan air sampai ketinggian 30 cm di atas pelataran tambak. Jika plankton sudah tumbuh maka tebar induk atau bibit phronima sebanyak 3 liter yang diperoleh dari stok Phronima yang ada di petakan tambak lain. Phronima yang dikultur selama 20 hari populasinya diperkirakan cukup untuk dimakan oleh  10.000-15.000 ekor udang maka tokolan udang yang sudah seukuran besar rokok dapat segera dipindahkan ke petakan yang telah ditumbuhi phronima.

Tokolan udang yang telah dipindah, setelah dipelihara sekitar 55-70 hari udang sudah bisa panen sebanyak 250-300 kg/ha dengan ukuran size 40-35 ekor/kg. Namun terkadang petambak belum puas harga Rp. 95-100 ribu/kg dengan ukuran tersebut sehingga udang itu dipindah lagi ke petakan  yang lain yang telah tersedia pakan alami phronima. Dalam tempo satu bonang (satu siklus pasang surut) atau sekitar 15 hari maka ukuran udang sudah berubah capai size 25-30 ekor/kg yang laku terjual Rp.115-125 ribu/kg. Cara seperti ini berulang dilakukan oleh petambak sampai lima kali siklus panen dalam setahun..

 Berdasarkan pengamatan lapangan selama ini bahwa ketersediaan pakan alami secara berkesinambungan dan pengendalian faktor lingkungan secara penuh menjadi faktor penentu ketersedian phronima suppa secara memadai untuk mendukung peningkatan produksi udang windu dengan aplikasi phronima suppa. Hal ini mengindikasikan bahwa phronima suppa telah dapat diproduksi secara berkesinambungan dengan pemberian kombinasi fitoplankton jenis Chlorella sp dan Chaetoceros sp. Hal ini membuka peluang diproduksinya phronima suppa sebagai pengganti Artemia salina untuk keperluan operasional panti pembenihan dan budidaya tambak. Kehidupan phronima suppa sangat dipengaruhi oleh kualitas media.

Kesuksesan pembudidaya udang windu di desa Tasiwalie dan desa Wiringtasi kecamatan Suppa menjadikan kabupaten Pinrang sebagai produsen udang windu terbesar di Sulawesi selatan. Teknologi budidaya udang windu berkelanjutan dengan mengaplikasikan pakan alami Phronima mulai dikembangkan dan diadopsi oleh pembudidaya di luar kabupaten Pinrang. Demikian juga konsumen udang windu di Jepang sudah mengakui phronima sebagai pakan udang yang berkualitas dan ramah lingkungan. Maka tidak heran jika Jepang saat ini sedang menjejaki peluang kerjasama dalam pengembangan phronima Suppa untuk lebih meningkatkan produksi udang windu di kabupaten Pinrang,

Keberhasilan oleh banyak pihak termasuk penyuluh perikanan dalam mengembangkan Phronima Suppa sebagai pakan alami dalam budidaya udang windu berkelanjutan menjadi tantangan dan kebanggaan kabupaten Pinrang di mata nasional dan internasioanl. Untuk itu diperlukan kerja keras dalam mendorong pembudidaya agar tetap mempertahankan komoditas udang windu sebagai salah satu komoditas unggulan di sector perikanan budidaya kabupaten Pinrang.

Ditulis oleh: Abdul Salam Atjo

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

KKP Berhasil Kembangkan Kandidat Baru Udang Putih Asli Indonesia

Admin : Riana