logo


Bioflok untuk Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat Perbatasan

Kawasan perbatasan memiliki sumber daya alam yang tinggi, namun minimnya informasi teknologi menyebabkan nilai ekonomi SDA tersebut belum dapat dirasakan

6 November 2017 03:15 WIB

Dok. KKP

JAKARTA, JITUNEWS.COMDirektur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto menjelaskan bahwa pengembangan budidaya lele sistem bioflok di daerah perbatasan RI-Malaysia bertujuan untuk mendorong peningkatan gizi masyarakat, pemerataan ekonomi dan ketahanan pangan di kawasan-kawasan perbatasan.

Kawasan perbatasan memiliki sumber daya alam yang tinggi, namun minimnya informasi teknologi menyebabkan nilai ekonomi SDA tersebut belum dapat dirasakan. Oleh karena itu, penting membangun daerah perbatasan melalui penciptaan alternatif usaha berbasis inovasi teknologi termasuk teknologi di bidang perikanan budidaya. 

“Pemanfaatan SDA di daerah perbatasan termasuk sumber daya perikanan budidaya berbasiskan inovasi teknologi lele bioflok akan mampu meningkatkan nilai SDA yang ada, dengan demikian akan memicu pergerakan ekonomi lokal yang lebih luas,” jelas Slamet dalam keterangan tertulis, Minggu (5/11).


Di Pantai Ini, Anda Dapat Membeli Ikan Merah Segar yang Matanya Masih 'Berkedip', Mau?

Slamet juga menggarisbawahi bahwa pesan Nawacita untuk membangun Indonesia dari pinggiran menjadi pertimbangan utama bagaimana program–program prioritas perikanan budidaya ini bisa menyasar ke daerah-daerah perbatasan.

Disisi lain, program lele bioflok diharapkan akan mampu mensuplai kebutuhan gizi masyarakat dari sumber protein ikan. Kebutuhan gizi menjadi masalah yang kerap kali dihadapi masyarakat di daerah perbatasan, padahal ketercukupan gizi menjadi indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

“Jika dilihat masih ada ketimpangan IPM masyarakat di daerah perbatasan. Saya rasa program ini menjadi sangat strategis untuk meningkatkan IPM melalui pemenuhan gizi masyarakat, apalagi komoditas lele saat ini mulai digemari masyarakat luas. Bu Menteri (Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti-Red) sangat konsen untuk mendorong masyarakat agar mulai gemar makan ikan," imbuhnya.

Sementara itu Wakil Bupati Sanggau, Yohanes Ontot mengatakan bahwa Pemda Kabupaten Sanggau sangat mengapresiasi upaya KKP dalam memperkenalkan inovasi teknologi budidaya lele bioflok untuk masyarakat perbatasan. Dirinya mengungkapkan keyakinannya, bahwa upaya ini akan memberikan dampak bagi perekonomian masyarakat.

Kabupaten Sanggau memiliki luas perairan hingga mencapai +/- 136.364 Ha baik perairan umum seperti sungai, danau, rawa dan bendungan maupun kolam budidaya. Oleh sebab itu, Ontot berharap agar inovasi teknologi bidang perikanan budidaya ini akan mampu mendorong berkembangnya usaha perikanan di Kabupaten Sanggau.

”Saya yakin dengan dengan adanya sentuhan teknologi akan menggerakan usaha perikanan di Sanggau dan pastinya akan mendongkrak tingkat konsumsi ikan perkapita masyarakat," ungkap Ontot.

Sebagai gambaran bahwa tingkat konsumsi ikan per kapita Kabupaten Sanggau pada tahun 2016 masih cukup rendah yaitu 30 kg/kapita/tahun, dibawah tingkat konsumsi ikan perkapita nasional sebesar 43,94 kg/kapita/tahun.

“kami targetkan konsumsi ikan perkapita masyarakat di Sanggau pada tahun 2019 mampu mencapai 36 kg per kapita naik 6 kg dari sebelumnya 30 kg per kapita pada tahun 2016 yang lalu,” tutup Ontot

KKP Berhasil Panen Lele Bioflok di Daerah Perbatasan RI-Malaysia

Halaman: 
Penulis : Aurora Denata
×
×