logo


Yayasan Rumah Rachel Imbau Asuhan Paliatif Diintegrasikan ke dalam Sistem Kesehatan Indonesia

Didirikan pada tahun 2006, Yayasan Rumah Rachel adalah pelopor asuhan paliatif di Indonesia.

13 Oktober 2017 14:44 WIB

Yayasan Rumah Rachel merayakan Hari Asuhan Paliatif Anak Sedunia dengan instalasi "Living Wall" raksasa di Cilandak Town Square
Yayasan Rumah Rachel merayakan Hari Asuhan Paliatif Anak Sedunia dengan instalasi "Living Wall" raksasa di Cilandak Town Square Ist

JAKARTA, JITUNEWS.COM – Pada pembukaan instalasi the Living Wall di Cilandak Town Square (Citos) dalam rangka Hari Asuhan Paliatif Anak Sedunia, penyedia layanan asuhan paliatif anak Yayasan Rumah Rachel menyerukan kepada pemerintah Indonesia untuk mengintegrasikan asuhan paliatif dalam setiap jenjang sistem kesehatan Indonesia agar ratusan ribu anak Indonesia dapat hidup terbebas dari nyeri.

Dinda Nawangwulan, Support Penderita Kanker Payudara Melalui Komunitas Pink Shimmer Inc

Didirikan pada tahun 2006, Yayasan Rumah Rachel adalah pelopor asuhan paliatif di Indonesia yang menyediakan pengelolaan nyeri serta dukungan emosional dan sosial bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera di daerah Jakarta dan sekitarnya yang hidup dengan kanker stadium akhir dan HIV AIDS.

Yayasan Rumah Rachel juga menyediakan pelatihan asuhan paliatif bagi tenaga kesehatan dan anggota masyarakat dalam usahanya untuk meningkatkan akses asuhan paliatif bagi semua warga Indonesia.


Kenali Penyebab Dini Kanker pada Anak

"Visi kami adalah tidak ada lagi anak yang harus hidup atau meninggal dalam kesakitan," tutur Kartika Kurniasari, CEO Yayasan Rumah Rachel di Cilandak Town Square, Jakarta pada hari Jumat (13/10).


Kartika melanjutkan, dalam rangka Hari Asuhan Paliatif Anak Sedunia, Yayasan Rumah Rachel pun bermaksud mengajak masyarakat untuk mendukung asuhan paliatif bagi begitu banyak anak yang hidup dengan penyakit berat serta keluarganya di Jakarta.

"Tapi kami pun menyadari bahwa pekerjaan kami belum selesai, mengingat besarnya tantangan yang dihadapi Indonesia. Diperkirakan kurang dari satu persen dari hampir 700.000 anak Indonesia yang hidup dengan penyakit berat bisa mengakses asuhan paliatif, sementara anak-anak lainnya terus hidup dalam kesakitan," jelas Kartika.

Menurut Kartika, Jaminan Kesehatan Nasional telah memungkinkan jutaan warga Indonesia mendapat perawatan yang mereka butuhkan sejak tahun 2014.

"Dengan segala hormat, kami mengimbau pemerintah Indonesia untuk meningkatkan layanan JKN ke jenjang yang bahkan lebih baik lagi, dengan mencakup layanan asuhan paliatif dan biaya-biaya terkait baik dalam lingkungan rumah sakit maupun rumah pasien. Pemerintah juga dapat membantu memastikan penerapan asuhan paliatif berjalan baik dengan menerbitkan panduan dan kebijakan untuk memasukkan asuhan paliatif sebagai komponen inti sistem kesehatan nasional. Jika kita bekerja bersama, semua hal di atas bisa mengubah hidup ratusan ribu anak yang hidup dengan penyakit berat dan keluarga mereka di berbagai penjuru Indonesia," tambahnya.

The Living Wall adalah serangkaian Papan Tulis Raksasa yang didirikan di atrium Cilandak Town Square, tempat masyarakat diundang untuk menjawab pertanyaan seperti "Apa yang akan Kamu lakukan jika ini hari terakhirmu?".

"The Living Wall mengundang warga Jakarta untuk merenungkan betapa berharganya setiap hari yang kita miliki dan menyadari bahwa ada banyak anak-anak yang hidup dengan penyakit berat, yang mungkin tidak memiliki hari esok," terang Kartika. 

"Dengan bertanya kepada masyarakat apa yang akan mereka lakukan jika ini hari terakhir, kami berharap dapat memicu dialog tentang asuhan paliatif dan kesulitan yang dihadapi anak-anak yang hidup dengan penyakit berat. Bagi mereka, setiap hari bisa saja menjadi hari terakhir," sambung Kartika.

Sebagai informasi, Instalasi the Living Wall ini akan berlangsung mulai hari ini, Jumat (13/10) hingga hari Minggu (15/10), di Cilandak Town Square (Citos), Jakarta.

Jupe Garap Film Untuk Support Penderita Kanker

Penulis : Riana