logo


Mahasiswa Diingatkan untuk Kritis Hadapi Hoax

Menag juga mengingatkan tentang kecenderungan sebagian orang yang tidak tepat ketika melakukan tabayyun atau konfirmasi.

12 Oktober 2017 19:45 WIB

Menteri Agama Lukman Hakim.
Menteri Agama Lukman Hakim. dok. kemenag

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengingatkan mahasiswa untuk bersikap kritis terhadap dinamika informasi, terlebih jika itu adalah hoax. Menurut Menag, tidak semestinya mahasiswa justru menjadi bagian yang ikut menyebarluaskan hoax.

Pesan ini disampaikan Menag saat menjawab pertanyaan peserta  Kongres ke-4 Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)/ Dewan Mahasiswa (DEMA) Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) se-Indonesia tentang cara menghadapi hoax. Perhelatan kongres ini bertempat di  Academic Center UIN Raden Fatah Palembang.

“Sebenarnya ini ajaran agama, agama jelas mengatakan bahwa kalau datang kepadamu kabar, maka kita harus kritis,” ujar Menag Lukman, di Palembang, Rabu (11/10).

“Setiap kabar itu separuhnya mengandung kebenaran, separuhnya juga berpotensi mengandung kebohongan, maka kita dituntut untuk tabayyun,” tuturnya lagi.

Menag menyayangkan fenomena  saat ini, di mana sebagian besar orang tidak terbiasa mengidentifikasi terlebih dahulu kebenaran berita yang diterima. Bahkan, mereka cenderung berlomba-lomba untuk menjadi orang pertama yang menyebarluaskan sebuah berita,  tanpa mengetahui kebenarannya.

“Seakan-akan kita menjadi orang yang begitu hebat kalau teman-teman kita mendapatkan postingan dari kita. Dan kita menjadi orang yang pertama memposting itu. Walaupun isinya kita tidak tahu sama sekali,” ujarnya.

Menag juga mengingatkan tentang  kecenderungan sebagian orang yang tidak tepat ketika melakukan tabayyun atau konfirmasi. Akhirnya, bukan mencari konfirmasi tapi yang terjadi justru menyebarluaskan kebingungan, atau berita-berita yang tidak berdasar.

Menag mencontohkan ketika seseorang menerima berita hoax, ia lalu menanyakan kebenaran berita itu kepada suatu grup. “Jika ingin konfirmasi, tanya kepada yang pertama kali mengirim berita itu. Bukan bertanya kepada anggota grup yang tidak tahu-menahu urusan postingan itu. Itu artinya Anda ikut menyebarluaskan kebingungan,” tegas Menag.

Menurut Menag, cara menghadapi berita hoax adalah masing-masing orang harus punya kemampuan self sensorship.

“Sebenarnya sederhana saja kalau Anda sendiri merasa tidak paham dengan berita yang Anda dapatkan, jangan sebarluaskan,” ujar Menag didampingi Rektor UIN Raden Fatah H.M Sirozi dan KaKanwil Kemenag Provinsi Sumatera Selatan H.M Alfajri Zabidi.

“Kalau Anda tergelitik untuk mencari tahu kebenaran sebuah postingan yang Anda terima tanyakan hanya kepada yang pertama kali mengirimnya, bukan kepada yang lain,” tuturnya.

Kongres ke-4 BEM/DEMA Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) se-Indonesia yang berlangsung pada tanggal 9 – 13 Oktober 2017 ini diikuti oleh para mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang di tambah 175 utusan perwakilan pengurus BEM/ DEMA PTAI negeri dan swasta se-Indonesia. Selain Menteri Agama, kongres tersebut juga menghadirkan tokoh-tokoh nasional seperti Kapolri Tito Karnavian, Ketua DPD RI Oesman Sapta Odang, Gubernur Sumsel Alec Noerdin dan Tokoh Pemuda Agus Harimurti Yudhoyono yang dijadwalkan akan hadir pada tanggal 12 Oktober 2017.

Remaja Masjid, Penjaga Jati Diri Bangsa

Polisi Akan Minta Klarifikasi ke Tokoh Publik Usai Dapatkan Laporan PPATK

Penulis : Marselinus Gunas