logo


Menggila Bersama Orang Gila

Mereka larut dengan imajinasinya masing-masing, identik dengan sapaan pengidap gangguan jiwa atau mental. Pandangan masyarakat pada mereka, ia adalah sampah karena kebiasaannya yang sering teriak, berhalusinasi dan jorok...

12 Oktober 2017 07:46 WIB

dibaca 160 x

Mereka larut dengan imajinasinya masing-masing, identik dengan sapaan pengidap gangguan jiwa atau mental. Pandangan masyarakat pada mereka, ia adalah sampah karena kebiasaannya yang sering teriak, berhalusinasi dan jorok. Diskriminasi dari masyarakat dengan meremehkan penyakit ini sehingga tak banyak perhatian yang ditorehkan kepada orang-orang ini.

Hotel Grand Kota Konsep Minimalis Modern Di Tengah Kota Solo

Dalam memperingati Hari Peduli Kesehatan Jiwa sedunia tepat 10 oktober kemarin. Tujuan diadakannya supaya penyandang mempunyai martabat dan sederajat dengan manusia normal pada umumnya. Nah, disini ada dua orang sosok inspiratif yang sehari-harinya rela "menggila" bersama orang gila sampai membangun yayasan panti sosial secara pribadi. Siapakah mereka?

Dadang Heriyadi


Samsung Galaxy Note FE Segera Rilis di Malaysia

Ia adalah sosok inspirasi pertama ia menggeluti dedikasi merawat pasien-pasien gangguan jiwa (PM) kurang lebih empat tahun ini. Bertempat di bekas terminal Cilembang, Tasik Malaya, Sukabumi, Jawa Barat. Ia melakukan pemberdayaan bersama keluarga kecilnya dan relawan lain yang membantu kebutuhan setiap pasien sehari-hari. Bersama istrinya ia mendirikan Yayasan Mentari Hati dengan modal nekat " Modalnya hanya sajuta (sabar. jujur, tawakkal)" katanya.

Awalnya ia seorang pekerja mapan di PLN yang menurut keluarga penghasilannya besar. Tapi karena ia berambisi untuk mengabdikan dirinya kepada orang penyandang gangguan jiwa ini, iapun memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya. Alasannya karena panggilan dari hati untuk mengurus saudara-saudaranya di jalanan karena mereka juga bagian dari kita.

Menurut dia pengidap gangguan jiwa ini adalah orang yang datang dari jalan yang hilang ingatan akan tata cara kehidupan yang benar. Kini jumlahnya ada ratusan yang sebagian besar dia angkut dari jalanan sekitar Tasik Malaya. Bukan perkara mudah mengajak mereka ikut kerombongan butuh penanganan khusus agar mereka mau diboyong.

Sayangnya, belum ada bantuan dari tenaga medis atau dinas kesehatan. Ketika sakit hanya di beri obat layaknya yang kita butuhkan seperti obat sakit dan lain sebagainya. Kadang ditemui juga pasien yang meninggal dunia yayasan memakamkan jenazahnya sebagaimana mestinya.

Biaya operasional di dapatkan dari donatur dan dana priadi. Dadang sering mengajak pasien-pasiennya bermain dan bercanda ria bersama mereka untuk menjalin keakraban. Di lain kesempatan ia juga mengajak mereka bermasyarakat dengan warga sekitar untuk membantu gotong royong ataupun membersihkan makam.

Itu salah satu teknik penyembuhan yang ia lakukan agar dapat memulihkan kembali memori-memori mereka. Dapat dilihat mayoritas dari mereka tak ingat memori tapi ketika sembuh yang dia ingat alamat dan ingin diantarkan pulang. Menjalankan pengabdian ini bahagianya seumur hidup, karena tak semestinya mereka terabaikan.

Chabib Wibowo

Beliau dikenal sebagai terapis gangguan jiwa religius, tempatnya dinamai Panti Sosial Terpadu Pondok Dhuafa Hafara berisikan orang penyandang gangguan jiwa dan panti rehabilitasi bagi anak jalanan. Yang melatarbelakangi ia menjadi sosok pendedikasi ini bermula dari masa lalunya yang penuh penyesalan, ia adalah seorang anak jalanan yang mengamen dan memulung sesuatu hingga ia terkena razia. Disanalah jati dirinya tumbuh untuk merubah diri dengan meng-hijrahkan dirinya agar berguna ke orang banyak.

Chabib Wibowo berhasil menyembuhkan pasiennya yang memiliki level gangguan jiwa ringan hingga terberat (skizofrenia) lewat terapis religius. Pasien diajak untuk melakukan kegiatan religius seperti mengaji dengan mengalunkan ayat-ayat Al-Qur'an agar memberikan ketenangan hati pada PM mencegah dari halusinasi-halusinasi yang sering muncul.  

Prinsip utamanya memanusiakan manusia sebagaimana mestinya agar tak dipandang dengan sebelah mata apalagi dianggap sebagai sampah. Ia mengasuh selebihnya 50 orang pasien dalam rentang remaja hingga lanjut usia di berbagai daerah Yogyakarta. Setiap orang yang mengidap gangguan jiwa itu berhak disembuhkan.

Beberapa terapi penyembuhan dilakukan dengan kegiatan mengaji, sholat, mandi malam, dzikir, tahajud, dhuha berjamaah. Kegiatan lain juga dilakukan dengan terapi mendengarkan musik bersama pendamping dengan menyanyi dan untuk melatih cara berkomunikasi mereka dilakukan juga terapi sikologi untuk mengembalikan memori mereka secara bertahap.

Upaya penyembuhannya berbasis religius dan kekeluargaan dengan merangkul semuanya.Pengobatan medis juga di jalani dengan bekerja sama dengan rumah sakit seluruh Yogyakarta. Pengobatan medis dan non medis harus dilakukan secara berdampingan terbukti cara ini bisa memulihkan kondisi kejiwaan pasiennya.

Dana untuk menopang pantinya tak hanya mengandalkan dari donatur tetapi juga memberi pembekalan kewirausahaan kepada pasien untuk membantu operasional panti sebesar 70 juta. Pembekalan itu seperti membuat keterampilan membuat telur asin dan bross sebagai souvenir.

Usahanya ternyata membuahkan hasil di tahun 2010 ia mendapatkan piagam tanda kehormatan Satya Rencana kebaktian sosial dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai organisasi sosial berprestasi tingkat nasional.Ia ingin menciptakan kota Jogja sebagai kota ramah jiwa dengan memanusiakan manusia.

Dedikasi mereka dalam "menggila" ini patut diacungkan jempol, menjalankannya  ikhlas dengan meredam amarahnya dari pasien-pasien yang sering kali mengundang emosi. Resiko juga sering mereka alami seperti adanya pasien yang melarikan diri, bunuh diri, menutup diri di kamar dan pelecehan seksual.

Namun hal itu dapat diminimalisir dengan memadatkan kegiatan serta menjalin keakraban. Hal tersebut dapat dimaklumi karena gangguan jiwa terjadi tanpa sebab karena faktor internal dan ekternal jarang sekali timbul dari faktor tunggal. Biasanya karena penyebab sekaligus yang saling mempengaruhi secara bersamaan, misalnya kondisi tubuh menurun dan tekanan dari lingkungan masyarakat. Jadi kita sebagai masyarat baiknya menghilangkan stigma-stigma negatif tersebut 

Gangguan jiwa terdiri dari ringan sampai berat. Skizofrenia gangguan jiwa berat pengidapnya hampir mengalami gangguan otak berat, tak mampu berfikir dan mengontrol emosi.Jadi di perlukan beberapa terapi seperti, rehabilitasi psikososial diajarkan membuat keterampilan dan kemandirian melakukan rutinitas tata cara kehidupan, terapi psikofarma dengan pemberian obat, serta terapi psikosportif dukungan dari keluarga dan masyarakat. Tentunya dengan pendampingan dan pengawasan kontrol secara teratur.

Ditulis oleh: Amalia Anzhafa

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Buat Pipimu Merona dengan Buah

Admin : Ratna Wilandari