logo


Mentan Pastikan Penuhi Kebutuhan Beras Masyarakat

Berdasarkan data Kementan, kebutuhan beras nasional sekitar 2,6 juta ton per bulan, dengan pola tanam yang hanya 500 ribu hektare dan rata-rata produktivitas 6 ton per hektar (GKG).

11 Oktober 2017 12:24 WIB

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman didampingi Wakil Bupati Ogan Komering Ilir, Muhammad Rifa\\\'i menjawab pertanyaan wartawan di perkebunan tebu di lahan rawa yang berlokasi di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Selasa (22/5).
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman didampingi Wakil Bupati Ogan Komering Ilir, Muhammad Rifa\'i menjawab pertanyaan wartawan di perkebunan tebu di lahan rawa yang berlokasi di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Selasa (22/5). dok. Kementan

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pemerintah melalui Kementerian Pertanian menjamin Indonesia tidak akan mengenal lagi paceklik beras yang biasanya terjadi pada akhir hingga awal tahun. Pasalnya, menurut Kementan, manajemen pola tanam menjadi kunci keberhasilan ini.

Datangi DPR, Petani Lamongan Mengadu

Selain itu, pemberian bantuan sarana dan prasarana pendukung yang tepat sasaran seperti pompa, pembuatan dan perbaikan saluran irigasi, serta pembangunan embung membuat penanaman padi tidak bergantung pada musim penghujan.

Kebiasaan pola tanam yang telah berlangsung puluhan tahun, pada bulan Juli – September ketika luas area penanaman padi menurun drastis hingga membuat menipisnya stok beras pada akhir tahun, kini telah ditinggalkan.


Pemerintah Diminta Mengganti Lahan Petani yang Dirubah Jadi Infrastruktur

Kini Kementerian Pertanian memonitor agar luas tanam pada bulan-bulan tersebut menembus 1 juta hektare per bulan yang kebiasaan sebelum-sebelumnya hanya 500.000 hektare.

“Kementerian Pertanian mengubah strategi sehingga sudah 2 tahun berturut-turut tidak ada gejolak harga beras. Mengolah tiap hari, tanam tiap hari, dan panen tiap hari karena kita sudah memperbaiki irigasi atas perintah Bapak Presiden (sudah) 3 juta hektare”, ujar Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, saat melakukan kunjungan bersama Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, dan Gubernur DKI Jakarta, Djarot Syaiful Hidayat, dalam rangka Operasi Pasar di Pasar Induk Beras Cipinang pada hari Selasa (10/10/2017).

“Dulu bulan Juli, Agustus, September ini tanamnya kecil, hanya 500.000 hektare. Kami ubah ini (jadi) tanam 1 juta hektare, bangun embung kemudian sungai-sungai kita pompanisasi seperti Cimanuk, Bengawan Solo, kemudian embung kita siapkan 30.000. Alhamdulillah tanaman bulan Juli, Agustus, September sudah 2 tahun berturut-turut rata-rata 1 juta hektare. Di sini kita hapus paceklik dengan catatan tanam 2 kali lipat (dari kebiasaan tanam) pada saat musim kering”, sambungnya.

Sebagai informasi, berdasarkan data Kementan, kebutuhan beras nasional sekitar 2,6 juta ton per bulan. Dengan pola tanam yang hanya 500.000 hektare dan rata-rata produktivitas 6 ton per hektar (GKG).

Dengan kondisi seperti itu Indonesia hanya mampu menghasilkan 1,5 juta ton beras (50% penyusutan gabah ke beras) sehingga defisit sekitar 1,1 juta ton. Dengan skema pola tanam baru 1 juta hektare per bulan, defisit ini mampu dihilangkan bahkan menurut kalkulasi mampu surplus.

Sebagai barometer ketersediaan stok beras nasional, stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang terus dimonitor setiap hari. Stok saat ini di Cipinang sebanyak 53.000 ton. Stok pada periode yang sama pada tahun 2013 dan 2014 berkisar 20 – 25.000 ton atau meningkat dua kali lipat.

Hal yang senada juga disampaikan oleh Direktur Utama Food Station Tjipinang, Arif Prasetyo, bahwa stok beras di Cipinang jauh di atas aman.

“Saat ini stok di Pasar Induk Beras Cipinang dalam kondisi yang sangat baik. Saat ini (stok) di atas 53.000 ton. Ini artinya, kita sama-sama sudah bisa menjaga stok minimum. Stok minimum di pasar induk Cipinang itu batas amannya 30.000 ton”, jelas Arif.

Gubernur DKI Jakarta, Djarot Syaiful Hidayat, yang turut hadir saat itu, memiliki persepsi dan komitmen yang sama dalam mengawal pengendalian stok pangan dan harga. Pemerintah DKI Jakarta juga fokus untuk mengamankan stok pangan.

“Kita ingin meletakkan dasar-dasar pengendalian harga di Jakarta, dasar-dasar menjamin stok pangan. Makanya kita fokus untuk mengamankan stok pangan dengan membentuk satgas pangan. Kemarin berkat bantuan semuanya kita dapat mengendalikan inflasi di Jakarta menjelang lebaran termasuk yang terendah di dalam sejarah menjelang lebaran” ujar Djarot

Di tempat yang sama, Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, menyatakan terus melakukan pengawasan terhadap kebijakan penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk beras.

“Saya minta agar satgas pangan memakai seragam saat mengawal penerapan HET beras ini,” ungkap Enggar. Selain itu, duet Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan dalam mengawal stok dan harga terbilang sukses, sinergi keduanya terjalin dengan baik.

“Ada duet maut, pertanian dan perdagangan, memang benar kita saling mengisi, kami berkomunikasi lebih dari makan sehari lebih dari 3 kali, hari ini sudah 5 kali. Beliau mengecek harga terus-terusan, saya juga mengecek stok dan produksi. Dengan komunikasi yang terjalin seperti ini, kita bisa tahu kebijakan yang kita tempuh dan selalu kita berkomunikasi mengenai berbagai hal”, jelas Enggar.

“Penentuan HET merupakan proses panjang yang melibatkan pedagang yang didasari oleh kepentingan nasional dan rasa nasionalisme. HET yang ditetapkan oleh pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat. Kalau tidak ditetapkan HET maka bulan lalu beras sudah dijadikan ajang spekulasi dan langsung harga naik ke atas, inflasi meningkat, daya beli masyarakat menurun”, lanjut Enggar.

Pengendalian stok beras nasional yang maksimal dengan skema penanaman padi yang berkelanjutan berperan besar dalam menjaga harga beras tetap stabil dan kebijakan HET dapat berjalan maksimal. Hukum di dalam pasar pun tidak terganggu, dengan kebutuhan masyarakat yang mampu dipenuhi dari produksi yang ada, harga menjadi stabil dan mudah dikendalikan.

Selain itu pengawasan dari kementerian dan lembaga terkait, terutama Satgas Pangan mampu meminimalisir kecurangan-kecurangan yang terjadi. Dalam Operasi Pasar kali ini juga turut hadir Dirut Bulog, Djarot Kusumayakti, dan Wakil Ketua Satgas Pangan, Brigjen Pol Agung Setya.

Kembalikan Kejayaan Rempah Indonesia

Penulis : Marselinus Gunas