logo


Sempat Menolak, Jonan Akhirnya Izinkan Belanda Bangun Pembangkit Arus Laut di NTT

Gubernur NTT dan perusahaan Belanda mengusulkan untuk membangun tenaga listik pakai tenaga arus laut di di Selat Larantuka, Flores Nusa Tenggara Timur

13 September 2017 17:58 WIB

Menteri ESDM Ignasius Jonan mengunjungi salah satu stan saat Pameran The 6th Indonesia EBTKE Conference and Exhibition (IndoEBTKE ConEx) 2017 in Conjuction with Bali Clean Energy Forum (BCEF) di Jakarta, Rabu (13/9).
Menteri ESDM Ignasius Jonan mengunjungi salah satu stan saat Pameran The 6th Indonesia EBTKE Conference and Exhibition (IndoEBTKE ConEx) 2017 in Conjuction with Bali Clean Energy Forum (BCEF) di Jakarta, Rabu (13/9).

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang giat mengembangkan energi baru terbarukan (EBT) sebagai pengganti energi fosil, salah satunya dengan pengembangan listrik dari tenaga arus laut.

KESDM Siap Berikan Insentif dan Dorongan Fiskal Agar Pengembangan Mobil Listrik Berjalan

Menetri ESDM, Ignasius Jonan, mengatakan bahwa pengembangan listrik dari tenaga arus laut sudah hampir menemukan titik terang. Dimana ,pemerintah pusat maupun pemerintah daerah Nusa Tengara Timur (NTT) dengan perusahaan asal Belanda telah ada pembicaraan untuk pengembangan listrik dari tenaga arus laut tersebut.

"Gubernur NTT dan perusahaan Belanda mengusulkan untuk membangun tenaga listik pakai tenaga arus laut di di Selat Larantuka, Flores Nusa Tenggara Timur," tandas Jonan di acara The 6th Indonesia EBTKE Conference and Exhibition (Indo EBTKE ConEx) 2017 In Conjuction with Bali Clean Energy Forum (BCEF), di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (13/9).


Indo EBTKE ConEx 2017: Jonan Optimis Pengembangan EBT Akan Kompetitif dan Terjangkau

Jonan mengungkapkan, pada pertemuan kala itu, perusahaan Belanda menawarkan pembangunan listrik energi terbarukan namun tarif yang disodorkan terbilang mahal, oleh karena itu Kementerian ESDM menolaknya.

"Gubernur NTT dengan pengusaha Belanda mengusulkan untuk membangun pembangkit tenaga listrik arus laut. Saya tanya berapa tarifnya, dia (pengusaha Belanda) bilang minimal USD 16 sen per KWH. Saya bilang kalau USD 16 sen per KWH, silakan minum dan silakan pulang," tuturnya.

Setelah pertemuan itu, perusahaan Belanda kembali melakukan kajian-kajian dan kembali bertemu untuk menawarkan harga yang lebih kompetitif yaitu USD 7,18 sen per KWH.

"Nah, saya tanya harganya berapa, saya tidak tawar. Mereka bilang kita sudah studi kembali mau enggak kalau harga USD 7,18 sen. Saya bilang kalau USD 7,18 sen per KWH, maka PLN bisa bangun 20 MW di sana," pungkasnya.

Jonan Bangga, 10 Bulan Menjabat Berhasil Wujudkan 700 MW Energi Terbarukan

Penulis : Khairul Anwar, Riana