logo


KKP Genjot Produksi Ikan dengan Bantuan Mina Padi dan Lele Bioflok di Sukabumi

Presiden Jokowi terkejut, Norwegia peroleh 60 persen Penerimaan Negara Bukan Pajak dari Salmon. Jokowi yakin kita bisa lebih besar dari Norwegia.

11 September 2017 17:32 WIB

Panen lele biofolk.
Panen lele biofolk. Dok. DJPB-KKP

SUKABUMI, JITUNEWS.COM – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan kerja nyata menebar benih ikan pada percontohan mina padi dan budidaya lele sistem bioflok di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Fokus Pemberdayaan, KKP Realisasikan Lele Bioflok Masuk Pesantren

Bantuan ini merupakan program prioritas andalan KKP dalam mendukung ketahanan pangan nasional dan dunia. Kepala Staf Kepresidenan, Teten Masduki, pun ikut menghadiri serah terima bantuan itu.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, di sela-sela acara penebaran benih ikan mina padi di Kelompok Tani Subur Bumi Desa Cikurutug, Kecamatan Cireunghas, Kabupaten Sukabumi, mengatakan, "Dalam konteks pemenuhan kebutuhan pangan berkelanjutan, maka perlu upaya bagaimana mendorong produktivitas sumber daya berbasis pangan dalam kerangka pengelolaan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Oleh sebab itu, KKP terus melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan produksi pangan dari sektor perikanan, salah satunya melalui peningkatan produktivitas lahan. Namun demikian, hal itu harus tetap mempertimbangkan kelestarian lingkungan dan keberlanjutan usaha sebagaimana kebijakan yang sudah digariskan oleh Bu Susi (Menteri Kelautan dan Perikanan, red)," jelas Slamet.


Usung Teknologi Bioflok dan Akuaponik, KKP Ajak Santri Beternak Lele

Untuk itu KKP terus melakukan inovasi teknologi yang efektif dan efisien dalam kegiatan budidaya, di antaranya melalui mina padi -- yang diharapkan dalam satu lahan tidak hanya dikembangkan satu jenis komoditas saja tetapi multi komoditas, sehingga produktivitas lahan akan meningkat.

Teten Masduki menyampaikan apresiasinya kepada KKP atas pelaksanaan program prioritas budidaya mina padi. Merupakan kegiatan luar biasa, di mana kultur masyarakat Jawa Barat biasanya melakukan budidaya padi dan ikan secara terpisah. Tetapi dengan mina padi, maka padi dan ikan dapat dibudidayakan dalam satu lahan, sehingga memberikan manfaat ganda bagi petani.

Teten juga menyampaikan, Presiden Jokowi berkali-kali menyampaikan pentingnya budidaya ikan. Sebelumnya, Presiden Jokowi terkejut mendapat penjelasan dari Kementerian Luar Negeri Norwegia, bahwa 60 persen sumber PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) di Norwegia berasal dari ikan Salmon.

Berkaca dari Norwegia, Presiden Jokowi yakin Indonesia mampu melakukan hal serupa, karena memiliki potensi besar baik untuk budidaya laut, payau mau pun tawar. Menggalakkan budidaya ikan juga dapat meningkatkan konsumsi masyarakat untuk memperbaiki gizi dan ekonomi masyarakat.

Ke depan, budidaya ikan juga mengupayakan kemitraan antara pesantren, pembenih ikan, pembudidaya ikan, petani serta pengusaha besar -- sehingga terbangun kerjasama ekonomi yang baik antar pelaku usaha perikanan.

Kalkulasi keuntungan budidaya ikan mina padi

Budidaya mina padi memiliki berbagai keuntungan, yaitu pertama, meningkatkan produksi padi dari 5-6 ton menjadi 8-10 ton per hektare.

Penggunaan 20 persen lahan untuk budidaya ikan tidak akan mengurangi produktivitas padi, karena kotoran ikan dapat digunakan sebagai pupuk yang mampu meningkatkan jumlah rumpun padi dan buliran padi.

Kedua, tambahan pendapatan petani dari panen ikan. Dari udang galah misalnya, petani mampu mendapatkan tambahan pendapatan sebesar Rp 50-60 juta per hektare. Kemudian ikan Nila sebesar Rp 15-17 juta per hektare dan ikan lele Rp 10-20 juta per hektare.

Ketiga, efisien dalam penggunaan pupuk, bibit padi dan pakan ikan.

Keempat, padi terhindar dari hama dan penyakit, tikus misalnya, tidak akan masuk karena adanya genangan air.

Kelima, hasil pengujian juga menunjukkan padi hasil mina padi memiliki kandungan glukosa lebih rendah, sehingga sangat baik untuk dikonsumsi penderita diabetes.

Pada kesempatan itu, juga dilakukan penyerahan bantuan percontohan mina padi seluas 50 hektare senilai Rp 1,65 miliar dan lima paket budidaya lele sistem bioflok senilai Rp 1 miliar kepada pembudidaya dan pondok pesantren di Kabupaten Sukabumi.

Selain pengembangan mina padi, Dirjen Perikanan Budidaya juga berkesempatan melakukan tebar perdana bantuan budidaya lele sistem bioflok di Pondok Pesantren Al Ghifari, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi.

Sentra-sentra mina padi

Saat ini, budidaya mina padi menunjukkan perkembangan menggembirakan dengan terus bertambahnya daerah-daerah sentra mina padi. Antara lain Provinsi Sumatera Utara seluas 8.770 hektare, Sumatera Selatan seluas 14.575 hektare, Jawa Barat seluas 31.753 hektare, Jawa Tengah seluas 6.176 hektare, Jawa Timur seluas 25.654 hektare, Sulawesi Selatan seluas 12.962 hektare dan Sulawesi Tenggara seluas 5.038 hektare.

Selain itu, KKP juga terus bekerja sama dengan Kementerian Pertanian untuk mendorong pengembangan mina padi di berbagai daerah di Indonesia.

Sebagai gambaran, saat ini Indonesia memiliki potensi lahan mina padi sebanyak 4,9 juta hektar. Namun pemanfaatannya baru mencapai 128 ribu Ha atau hanya 2,6 persen. Berdasarkan data ini, maka peluang pengembangan mina padi masih sangat terbuka. Jika potensi lahan mina padi dapat dioptimalkan maka akan didapatkan paling tidak produksi padi sebanyak 68 juta ton per tahun dan produksi ikan 9,8 juta ton per tahun. Angka ini tentunya akan mampu mendongkrak kebutuhan pangan dan gizi masyarakat secara nasional.

Dalam kancah dunia, Indonesia juga tercatat sebagai pionir pengembangan mina padi di dunia dan kini telah menjadi rujukan bagi negara lain, khususnya di Asia Pasifik.

Sejak tahun 2014, FAO telah menginisiasi kerja sama dengan KKP dan Kementerian Pertanian melalui program FAO Regional Initiative 'Sustainable Intensification of Aquaculture for Blue Growth on Asia-Pasific'.

Slamet mengapresiasi atas keseriusan pesantren dalam melakukan budidaya lele bioflok. Dia juga optimis panen lele perdana bisa dilakukan dalam waktu dua bulan mendatang. Selain itu, dengan ukuran tebar 7-8 cm diharapkan dapat mengurangi kematian.

Lele menjadi komoditas yang familiar dibudidayakan masyarakat, sehingga pengembangannya perlu didorong melalui teknologi bioflok, karena mampu menekan FCR (konversi pakan) menjadi 0,8 – 1 dari semula 1,6.

Slamet mengharapkan, pemeliharaan ini dapat dilakukan oleh santri dan dikelola koperasi. Selain itu, dia juga berharap agar pesantren mampu mengembangkan bantuan ini menjadi beberapa unit, sehingga kebutuhan gizi protein santri dapat terpenuhi. Pesantren juga diharapkan dapat membuat pakan mandiri yang akan menghemat biaya produksi sehingga keuntungan akan meningkat.

Slamet berharap, keberadaan percontohan lele bioflok di pesantren dapat menjadi sarana belajar para siswa/santri. Baik belajar ikan secara biologis, lingkungan dan kualitas airnya maupun ekonomi.

KKP Realisasikan Lele Bioflok Masuk Pesantren

Penulis : Riana,Yusran Edo Fauzi