logo


Per 1 September Nanti, Pemerintah Terapkan HET Beras Medium dan Premium

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan menetapkan harga eceran tertinggi (HET) untuk beras medium sebesar Rp9.450/kg dan beras premium sebesar Rp12.800/kg.

26 Agustus 2017 14:53 WIB

Pembeli memilih beras yang dijual di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, Kamis (27/7).
Pembeli memilih beras yang dijual di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, Kamis (27/7). Jitunews/Rezaldy

JAKARTA, JITUNEWS.COM – Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan menetapkan harga eceran tertinggi (HET) untuk beras medium sebesar Rp9.450/kg dan beras premium sebesar Rp12.800/kg. Ketentuan ini akan diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan yang akan segera ditandatangani dan akan mulai diberlakukan pada 1 September 2017.

“Penetapan HET beras ini dimaksudkan untuk menurunkan harga beras yang belakangan ini cenderung mengalami kenaikan. Dengan HET ini, konsumen mendapat kepastian harga dan terjaga daya belinya. Selain itu, HET beras juga dapat mencegah terjadinya spekulasi harga,” jelas Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita hari ini (24/8) di Kantor Kementerian Perdagangan.

Mendag menegaskan bahwa penetapan HET ini juga dengan memperhatikan kepentingan petani dan mengakomodasi pelaku usaha. “HET beras juga memberikan perlindungan tambahan kepada para petani karena menciptakan kepastian harga, sementara para pedagang tetap mendapatkan keuntungan yang wajar,” tegas Mendag.


Presiden PKS Minta Kasus Beras PT IBU Tak Dikaitkan dengan PKS

HET beras medium dan premium tersebut berlaku untuk pasar rakyat dan toko modern di Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Sedangkan di daerah Sumatera kecuali Lampung dan Sumatera Selatan, Kalimantan serta Nusa Tenggara Timur diberikan kelonggaran biaya distribusi ke wilayahnya sebesar Rp500/kg, sementara di Maluku dan Papua diberikan kelonggaran biaya distribusi ke wilayahnya sebesar Rp800/kg.

“Penerapan HET ini merupakan komitmen pemerintah untuk menciptakan dunia usaha yang berkeadilan,” kata Mendag.

Dalam penerapan HET ini, lanjut Mendag, pelaku usaha yang menjual beras secara eceran wajib mengikuti ketentuan ini. Pelaku usaha wajib mencantumkan label jenis beras medium atau premium, serta label harga HET pada kemasan. Ketentuan HET dikecualikan terhadap beras medium dan premium yang ditetapkan sebagai beras khusus oleh Menteri Pertanian. Sanksi bagi yang melanggar adalah pencabutan izin usaha setelah mendapat dua kali peringatan tertulis dari pejabat penerbit izin usaha.

Yang merupakan kriteria beras medium yaitu beras yang memiliki spesifikasi derajat sosoh minimal 95%, kadar air maksimal 14%, dan butir patah maksimal 25%. Sedangkan beras premium adalah beras yang memiliki spesifikasi derajat sosoh minimal 95%, kadar air maksimal 14%, dan butir patah maksimal 15%. Mendag juga mengingatkan kembali kepada pelaku usaha distribusi untuk mendaftarkan gudang dan perusahaannya serta melaporkan pengadaan, pendistribusian/penyaluran dan jumlah stok di gudang setiap bulan.

“Tujuannya, agar Pemerintah dapat memantau pergerakan stok dan mencegah terjadinya kelangkaan. Jika terjadi kelangkaan, Pemerintah akan melakukan pengecekan dan mengambil tindakan tegas kepada pelaku usaha yang menimbun stok,” pungkas Mendag.

Dengan berlakunya peraturan ini nantinya, maka ketentuan Harga Acuan Pembelian dan Penjualan untuk Komoditas beras pada Permendag No. 27 Tahun 2017 dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pedagang Sebut Pasokan Beras di PBIC Tetap Stabil

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan
×
×