logo


Kementan Klaim Strategi Peningkatan Produksi Jagung Diikuti Kebijakan Pengendalian Impor

Dilihat dari kinerja Import Dependency Ratio (IDR), terlihat pada Januari-Mei 2017, rasio ketergantungan impor jagung menurun drastis dibandingkan periode yang sama pada tahun 2016.

13 Juli 2017 14:43 WIB

Warga menyortir jagung hasil panen di Patean, Kendal, Jawa Tengah, Jumat (27/2).
Warga menyortir jagung hasil panen di Patean, Kendal, Jawa Tengah, Jumat (27/2). beritadaerah.co.id

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Fungsional Statistisi pada Pusat Data dan Sistem Informasi, Kementerian Pertanian, Wieta B Komalasari, mengatakan bahwa upaya peningkatan produksi jagung nasional saat ini diikuti dengan kebijakan lain yakni upaya pengendalian impor jagung.

Gubernur Banten Dukung Program Gempita Kementan Wujudkan Swasembada Jagung

"Dengan strategi ini, maka hasilnya mulai kelihatan, kebutuhan jagung domestik dipasok dari dalam negeri. Selain itu, sepanjang tahun 2016 total impor jagung turun 62 persen. Pada tahun 2017 tidak ada impor jagung untuk pakan ternak," kata Wieta, di Jakarta, Kamis (13/7).

Dilihat dari kinerja Import Dependency Ratio (IDR) pada Januari-Mei 2017, rasio ketergantungan impor jagung menurun drastis dibandingkan periode yang sama pada tahun 2016.


Temui Dubes Filipina, Mentan: Kita Akan Perluas Langkah Impor Jagung ke Filipina

Nilai IDR Januari-Mei 2017 sebesar 2,06 persen, menurun tajam dibandingkan periode Januari-Mei 2016 yang mencapai 6,84 persen. Bila dirinci, jagung segar, IDR tahun 2017 adalah 1,38 persen, turun dari tahun 2016 yang mencapai 6,10 persen.

Untuk diketahui, pada data BPS, pada periode Januari–Mei 2017 tidak ada impor jagung untuk pakan ternak. Pada periode tersebut, total impor jagung sebanyak 278.000 ton, turun 68,38 persen dibandingkan tahun 2016 yang mencapai 881.000 ton.

"Nilai ekonomi dari pengendalian impor pada bulan Januari sampai Mei 2017 ini saja sudah berhasil menghemat devisa Rp 1,5 triliun," lanjut Wieta.

Sementara itu, bila dilihat dari rasio kemampuan swasembada atau SSR (Self Sufficiency Ratio), total jagung (segar dan olahan) untuk bulan Januari-Mei 2017 meningkat menjadi 98 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2016.

Demikian juga jagung wujud segar. Berdasarkan nilai SSR, 98 persen total kebutuhan nasional untuk jagung pipilan kering sudah dapat dipenuhi oleh produksi jagung lokal.

"Nilai IDR dan SSR ini menunjukkan kinerja komoditas jagung semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kinerja produksi," tambahnya.

Selanjutnya, nilai Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) jagung wujud segar, sedikit meningkat dari -0,99 menjadi -0,97 pada tahun 2017 pada periode yang sama. Secara total, nilai ISP jagung nasional pada bulan Januari-Mei 2017 sebesar -0,88 meningkat dari tahun 2016 sebesar -0,96.

Nilai ISP ini menunjukkan bahwa jagung Indonesia masih pada taraf pengenalan dalam perdagangan. Beberapa negara eksportir yang dominan selama ini adalah Amerika Serikat, Argentina dan Brazil.

Satu pertanda yang baik bagi Indonesia untuk perdagangan ke depan. Pasalnya, kini telah dijajaki ekspor jagung ke Malaysia dengan permintaan 3 juta ton maupun ke Filipina 1 juta ton, yang rencananya akan dipasok dari hasil pengembangan jagung di wilayah perbatasan.

Enam Strategi Kementan Sukseskan Swasembada Jagung

Penulis : Siprianus Jewarut, Nugrahenny Putri Untari