logo





Dirjen Perkebunan: Tingkatkan Produksi Gula dengan Program Revitalisasi Perkebunan

Langkah peremajaan terhadap tanaman tebu nasional perlu untuk di lakukan guna meningkatkan produktivitas.

20 Juni 2017 15:04 WIB

Pekerja memanen tebu di lahan perkebunan tebu.
Pekerja memanen tebu di lahan perkebunan tebu. pindai.org

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Direktur Jenderal (Dirjen) Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan), Bambang, mengatakan bahwa pada saat ini banyak upaya yang dilakukan pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) dalam meningkatkan produksi gula nasional.

Investasi Kementan Kembali Dua Kali Lipat dalam Dua Tahun

Salah satu program yang dicanangkan Kementan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 33/Permentan/OT.140/7/ 2006 tentang Pengembangan Perkebunan melalui Program Revitalisasi Perkebunan.

Bambang mengatakan bahwa peremajaan terhadap tanaman tebu nasional perlu dilakukan guna meningkatkan produktivitas.


Dirjen Perkebunan Optimis Target Capaian Swasembada Gula 2019 Bisa Terwujud

"Saat ini produksi tebu kita berada pada kisaran 70 sampai 80 ton per hektar. Kalau kita lakukan peremajaan, produksinya pasti akan semakin meningkat karena potensi tanaman perkebunan kita bisa mencapai 100 ton per hektar," ujar Bambang saat melakukan konferensi pers di Jakarta, Selasa(20/6).

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa program revitalisasi perkebunan merupakan terobosan yang paling utama untuk mewujudkan swasembada gula Indonesia.

Ia menegaskan bahwa langkah peremajaan merupakan upaya pengembangan perkebunan dengan melakukan penggantian tanaman tua/tidak produktif dengan tanaman baru baik secara keseluruhan maupun secara bertahap dengan menggunakan teknologi.

"Tebu merupakan tanaman perkebunan berumur pendek dengan masa panen 10-12 bulan.Yang dilakukan perkebunan tebu setelah panen yang asal bahan tanamannya belum dipanen, tidak langsung menanam dengan tanaman baru, tetapi dengan pemeliharaan tebu ratoon," katanya.

Ia menegaskan langkah tersebut cukup membantu petani, tetapi menurutnya, pemanfaatan tebu ratoon tersebut memiliki masa dan jangka waktu.

"Kalau tidak dilakukan peremajaan maka produksi tebu pasti akan menurun dan kualitas juga pasti menurun," tegasnya.

Namun, ia mengakui bahwa upaya peremajaan tebu ratoon milik petani sangat tidak mudah, karena akan mengeluarkan biaya tidak sedikit dan harus menunggu waktu lama untuk bisa dipanen kembali.

"Kita akan lakukan sosialisasi terus menerus kepada para petani kita, agar bisa merelakan lahannya untuk diremajakan, supaya produktifitas bisa meningkat," tukasnya.

Kementan Klaim Harga Komoditas Hortikultura Berada pada Kisaran Normal

Penulis : Siprianus Jewarut, Ratna Wilandari