logo


Trump Sukses Palak Miliaran Dolar dari Qatar, Krisis Teluk pun Mencair

Setidaknya, dengan adanya koper berisi uang USD 21,1 miliar, Qatar bisa terlepas dari tuduhan sebagai negara donatur teroris.

16 Juni 2017 17:37 WIB

Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson (kiri) berbicara dengan Presiden Donald Trump di sela-sela pertemuan dengan para pemimpin KTT Dewan Kerjasama kawasan Teluk, di King Abdulaziz Conference Center, Riyadh, Arab Saudi, 21 Mei 2017.
Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson (kiri) berbicara dengan Presiden Donald Trump di sela-sela pertemuan dengan para pemimpin KTT Dewan Kerjasama kawasan Teluk, di King Abdulaziz Conference Center, Riyadh, Arab Saudi, 21 Mei 2017. AP

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Kepungan negara-negara Arab yang mengucilkan Qatar belakangan menunjukan situasi yang mereda atau tak setegang di awal krisis. Belakangan, sangat mungkin jika Qatar keluar dari pengucilannya pasca urusan 'setoran upeti' ke Donald Trump rampung.

Prospek Komoditas Rumput Laut Masih Cerah di 2015

Setidaknya pasca mediasi yang dilakukan Kuwait gagal dan tanda-tanda gerakan militer untuk menggempur Qatar mengecil menunjukan bahwa tensi krisis mereda. Untuk sementara Qatar aman.

Tekanan yang dihujamkan kepada pemerintahan Qatar engan cara embargo ekonomi agar masuk dalam barisan 'maunya' Saudi cs rupanya justru menguntungkan negara kaya itu. Embargo ekonomi yang dilakukan oleh poros Saudi terhadap Qatar sepertinya bukan merugikan Qatar, tapi justru menguntungkan. Itu terlihat dari dukungan masyarakat internasional yang mendudukan Qatar sebagai korban dari sikap politik negara-negara Arab. Alhasil, negeri Emir Tamim bin Hamad Al Thani banyak kebanjiran dukungan khususnya di media sosial.


Peluang Ekspor Akar Gingseng Jepang (Gobo) Terbuka Lebar

Pemandangan Doha, Qatar dari udara. (Foto: Pixabay)

Qatar sendiri tak bisa disebut hanya diam saja dalam pengucilannya. Qatar bergerak. Mereka memanfaatkan media multi platform Al Jazeera yang dibarengi dengan diplomasi yang ampik, nyatanya berhasil menyulap ketakutan akan embargo ekonomi yang diterima menjadi kartu as yang berguna bagi Qatar.

Negara Teluk yang dituding mendanai kelompok teroris itu, di tingkat diplomasi sukses menjaga sikap, tenang dan play victim. Buah atas diplomasi yang sedemikian itu Qatar sukses memainkan peran sebagai pihak yang terzalimi. Tak hanya itu, Qatar pun terlihat sebagai satu-satunya pihak yang menerima upaya mediasi Kuwait.

Faktor yang Membuat Qatar Lolos dari Lubang Jarum

Poros atau koalisi Saudi sesungguhnya telah melakukan blunder sejak awal dengan memberikan saksi langsung atau tidak langsung yang notabene mengena ke rakyat bukan kepada penguasa di Qatar. Terlebih kebijakan yang diambil poros Arab yang menyulitkan rakyat Qatar itu terjadi di bulan Ramadhan.

Lihat saja pada saat kebijakan pengusiran waraga Qatar di empat negara Arab yang berlangsung alam tempo 14 hari. Mereka bahkan seperti luput dari efek pengusiran itu yang mana bisa dikatakan langsung merugikan masyarakat Qatar. Tentu tidaklah sama mengusir warga negara asing dengan mengusir duta besar negara asing.

Pengusiran duta besar dari sebuah negara bisa berlangsung dalam hitungan jam, tapi tidak untuk pengusiran warga sipil yang tinggal di negeri orang. Terlebih jika mereka memiliki keluarga dan terlebih lagi jika mereka memiliki investasi di negara yang hendak mengusirnya.

Melihat fakta bahwa warganya diusir, Qatar malah menunjukan sikap yang cerdas dan tak lantas bersikap reciprocal (melakukan aksi yang sama satu sama lain-red). Warga dari negara-negara yang mengusir masyarakat Qatar sama sekali tidak diusik oleh Emir Tamim bin Hamad Al Thani.

Setidaknya ada tiga opini tentang masa depan atau kelanjutan dari kemelut yang membungkus Qatar. Pertama, sanksi dan tekanan bakal terus berlanjut dan meningkat. Bahkan dikatakan dalam opini pertama ini bahwa dukungan dan simpati masyarakat internasional hanya bersifat sementara yang kemudian hilang dan dilupakan. Lihatlah contoh simpati kepada Irak, Iran, Suriah dan Palestina yang semua dukungan lambat laun menghilang. Seperti panas-panas 'tahi ayam'.

Opini yang kedua adalah yang menghendaki agar poros Saudi lebih keras dalam menjatuhkan sanksi kepada Qatar. Pasca embargo pemutusan diplomatis dengan Qatar, seharusnya poros Saudi lebih kejam dengan melakukan pembekuan selurus aset milik Qatar di wilayah Teluk. Maka, bisa dipastikan ekonomi Qatar lumpuh, selumpuh lumpuhnya. Dengan demikian, Qatar pun ditundukan.

Sedangkan opini yang terakhir melontarkan pernyataan bahwa harusnya intervensi militer bisa menjadi pilihan. Poros Saudi pun dikritisi, mengapa tak segera mengambil langkah militer pasca pengambilan sikap pemutusan hubungan diplomasi dan sebelum Qatar meminta bantuan Turki dan Iran. Ditambah lagi dengan pernyataan Trump bahwa Qatar memiliki sejarah pendanaan kelompok teroris, momen itu sangat perfect kalau dimanfaatkan oleh poros Saudi untuk
melakukan intervensi militer, dan pastinya hal itu akan mendapat restu dari AS.

Seperti diketahui, pada awalnya Qatar menolak secara keseluruhan untuk memenuhi 10 tuntutan poros Saudi. ika disingkat tuntutan itu berbunyi pemutusan hubungan dengan kelompok Ikhwan Muslimin, mengeluarkan para pemimpin IM dari Qatar, membubarkan stasiun TV Aljazeera, serius memerangi teroris dan terorisme, serta bergabung dengan 'NATO Arab Islam' sebagai anggota aktif melawan Iran.

Penolakan itu pun ditegaskan oleh Menlu Qatar Sheikh Muhammad bin Abdurrahman dalam sebuah jumpa persnya di Paris, Perancis bahwa negaranya tidak menerima intervensi siapapun terkait dengan kebijakan dalam dan luar negerinya. Terlebih hal yang berbau dengan kedaulatan Qatar, apalagi tentang masalah pembubaran stasiun TV Aljazeera.

Opsi Qatar Serahkan Upeti ke AS Sukses

Disusul setelah opini, opsi untuk Qatar dalam mengakhiri ketegangan pun terbagi menjadi tiga kategori besar. Pertama, Qatar harus menerima seluruh syarat yang diajukan oleh poros Saudi-Emirates-Bahrain-Mesir. Syarat yang paling menonjol dari poros itu adalah soal pemutusan hubungan Qatar dengan Iran dan Ikhwan Muslimin. Syarat itu termasuk pula dengan dikeluarkannya para pimpinan Hamas yang selama ini ditampung di Doha. Hal terakhir tersebut juga pernah dilakukan Turki atas tekanan Israel.

Opsi yang selanjutnya atua yang kedua adalah Qatar bergabung dengan poros Iran-Suriah-Irak untuk menghadapi poros Saudi-Emirates-Bahrain-Mesir. Jika ini menjadi kenyataan, bukan tak mungkin Turki akan memiliki peran penting dalam opsi ini, mengingat Qatar dan Turki memiliki Joint Defense Agreement dan Turki juga memiliki pangkalan militer dekat Doha.

Opsi terakhir yang mungkin diambil Qatar adalah pergi ke Trump dengan membawa koper berisi USD 200 miliar sebagai upeti seperti yang dilakukan pangeran Muhammad bin Salman. Setidaknya, USD 200 miliar bisa dipakai untuk transaksi senjata atau investasi di AS. Jika cara ini yang diambil, maka inilah cara agar krisis Qatar berakhir happy ending.

Sepertinya, Qatar telah memilih opsi ketiga. Info terbaru menyebutkan bahwa Qatar telah menandatangani transaksi pembelian pesawat tempur F-15 dengan perkiraan awal senilai USD 12 miliar. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Menteri Negara Urusan Pertahanan Qatar Khalid bin Mohammad Al Attiyah yang beberapa waktu terakhir berada di AS dan menyatakan bahwa pihaknya telah membeli sejumlah pesawat tempur.

Pesawat tempur F-15. (Foto: Dok. Af.mil)

Rupanya kunci dari meredakan krisis Qatar tak lain dan tak bukan adalah upaya Amerika Serikat untuk cuci gudang senjata. Hal itu diperlihatkan saat saat dua kapal perang Combat Navy Ships milik AS tiba di Qatar 'drills days' bersama dengan Angkatan Laut Qatar.

Hal itu menegaskan sekaligus menjelaskan kalau konflik di Teluk sengaja diciptakan hanya untuk cuci gudang senjata AS. Adapun Iran, Ikhwan Muslimin, Hamas dan lain-lain hanya alasan yang dibuat-buat oleh AS melalui tangan-tangannya di Teluk dan di Timur Tengah.

Setelah penandatanganan transaksi pembelian 36 pesawat tempur F-15 antara AS dan Qatar di Pentagon, sepertinya konflik Saudi-Qatar mulai sedikit tenang dan kemungkinan intervensi militer pun semakin jauh. Pencabutan embargo sendiri terhadap Qatar seperti sedang menunggu momen yang pas untuk diumumkan.

Password Krisis Teluk Adalah Miliar Dolar

Ternyata, Presiden Trump terindikasi ada dibalik konflik ini. Presiden AS terpilih itu sukses 'mengompori' agar Qatar mau membayar upeti dalam bentuk transaksi senjata atau pun investasi di AS dengan menggunakan aliansi Saudi. Pertanyaan menariknya, apakah aliansi sadar jika mereka sedang dijadikan alat oleh Trump demi kepentingan bisnis senjata?

Dengan terjadinya transaksi senilai USD 12 miliar itu (sekitar Rp 160 triliun), mulai banyak perbincangan tentang rekonsiliasi. Sejumlah negara pun seketika memunculkan diri bersedia sebagai mediator dari krisis Teluk itu yang menandakan bahwa Qatar hampir bisa dikatakan keluar dari 'perangkap'.

Jika melihat adanya kondisi yang mencair pasca pembelian senjata, maka bisa disimpulkan password untuk membuka pintu krisis itu adalah 'miliar dollar'. Otak bisnis Trump terang-terangan memalak negara Teluk. Hal itu dapat dilihat dari pernyataan Trump yang penuh bangga pasca kembali dari KTT Riyadh. Ia menyatakan, dirinya telah membawa miliaran dolar yang semuanya akan digunakannya untuk membuka lapangan kerja baru bagi rakyat AS.

Total transaksi Qatar-AS mencapai USD 21,1 miliar atau sekitar 72 pesawat tempur. Menariknya, perusahaan Boeing yang memproduksi pesawat tempur tersebut menyatakan bahwa transaksi ini sangat penting untuk menjaga kelangsungan produksi pesawat jenis ini dan sekaligus membuka 60 ribu lapangan kerja di 42 wilayah AS.

Artinya, kalau tidak ada transaksi ini, maka bisa jadi produksi pesawat tempur jenis ini akan berhenti dan 60 ribu lapangan kerja akan melayang. So thank you, Arab!

Tweet Trump sendiri yang menyatakan atau menuduh Qatar sebagai negara donatur kelompok teroris seolah hilang begitu saja. Dalam arti, tak menjadi sebuah momok penting bagi Trump dan 'mungkin' Qatar atas cuitan Trump itu. 

 

Qatar seolah telah menjadi mitra bagi AS. Kenapa demikian? Karena transaksi pembelian 72 pesawat tempur.

Simbol-simbol lain yang ditunjukan AS pun kian membenarkan kecurigaan bahwa krisis Teluk benar-benar sengaja diciptakan dan selesai saat Qatar setuju membelanjakan uang miliaran dollar kepada Paman Sam. Lihat saja Menhan james Mattis langsung memerintahkan dua kapal perang AS untuk mampir di pelabuhan Hamad Qatar, beberapa jam setelah transaksi ditandatangani. Kode dari AS kepada Qatar, you never walk alone.

Konflik ini jelas-jelas sinetron, skenarionya ditulis di Gedung Putih, dan pembagian peran dilakukan pada KTT Riyadh kemarin, yang disaksikan oleh 56 kepala negara Arab dan Islam (termasuk Indonesia).

Setidaknya, dengan adanya koper berisi uang USD 21,1 miliar, Qatar bisa terlepas dari tuduhan sebagai negara donatur teroris.

Tinggal menunggu keputusan UU JASTA diterapkan. Dimana hukum ini dibuat untuk memungkinkan para korban 11 September, atau korban terorisme untuk menuntut pemerintah atau pemimpin ngara asing. Kabarnya Arab Saudi termasuk negara asing yang bisa dituntut warga AS korban peristiwa yang dikenal 911 itu.

UU ini menegaskan pada pemimpin Arab bahwa pemerintahan AS (khususnya era Barack Obama) telah melepaskan para sekutunya dalam area ini demi menjalin kedekatan politik dengan Iran.

Maka dari itu , beberapa negara yang accused (dituduh) sering mendanai teroris, siap-siap saja dengan koper berisi Dolar dengan password "miliar dolar". Meski demikian, upeti Qatar untuk AS memang bisa dibilang recehan jika dibandingkan Arab Saudi yang mencapai USD 110 miliar.

Sinetron ini mungkin memiliki beberapa season, ini baru season pertama, dan korbannya Arab. Let's wait for next season. Selamat kepada Rakyat AS atas miliaran Dolar serta lapangan-lapangan kerja yang baru, dan deep condolence buat para jurangan minyak.

Seperti yang dinyatakan Komandan pasukan PBB di Kongo Kolonel Ralf Jäger kepada anak buahnya Sersan Brandon Beckett ketika diketahui menjual senjata kepada kedua belah pihak yang bertikai di Kongo.

Begini ucap Jager, "We sold weapons to both sides. Because we didn't know who was going to win. We need leverage with whoever is going to run the region. That's the way we have done things for hundreds of years, it’s called politics, son!".

Tapi jangan terlalu serius, hal yang dinyatakan Jager tersebut hanya sepenggal dialog yang terjadi dalam film Spiner Reloaded.

Melon Granat, Primadona Baru Buah Melon?

Penulis : Syukron Fadillah
×
×