logo


Fadli Zon Berharap TNI Segera Selidiki Insiden Ledakan Meriam Tempur di Natuna

Insiden meledaknya meriam tempur tipe 80 Giant Bow pelontar peluru kaliber 23 mm buatan Cina saat gladi resik latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di Natuna, mengundang keprihatinan Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon

19 Mei 2017 18:11 WIB

Ledakaan saat latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI di Tanjung Datuk Natuna, Rabu (17/5/2017).
Ledakaan saat latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI di Tanjung Datuk Natuna, Rabu (17/5/2017). Istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Insiden meledaknya meriam tempur tipe 80 Giant Bow pelontar peluru kaliber 23 mm buatan Cina saat gladi resik latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) Kostrad, di Tanjung Datuk, Natuna, Kepulauan Riau, mengundang keprihatinan Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon. 

DPR: Mabes TNI Harus Pastikan Tingkat Safety Peralatan Tempur

“Pertama saya menyampaikan dukacita sedalam-dalamnya kepada keluarga empat prajurit TNI yang wafat kemarin. Semoga diberi ketabahan dan keikhlasan dalam menghadapi musibah ini. Mereka meninggal sewaktu menjalankan tugas, harus diberi apresiasi dan penghormatan oleh negara. Untuk delapan prajurit lainnya yang harus menjalani perawatan, kita berharap mereka bisa segera pulih.” ujar Fadli Zon saat mengikuti kegiatan Global Legislative Openness Conference di Kiev, Ukraina, Jumat (19/5). 

Dalam kesempatan itu, Fadli berharap TNI segera melakukan penyelidikan atas insiden tersebut. Alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan peralatan tempur yang disiagakan seharusnya selalu berada dalam kondisi prima, terlebih alutsista ini di wilayah Natuna, daerah yang menempati posisi strategis bagi pertahanan negara, karena berhadapan dengan wilayah konflik Laut Cina Selatan. Sehingga insiden ini mengurangi kredibilitas armada pertahanan Indonesia di mata negara lain.


Presiden Jokowi Ungkapkan Rasa Bangganya terhadap TNI

“Penyelidikan itu harus dilakukan sangat serius, karena insiden itu terjadi persis dua hari sebelum kunjungan Presiden ke Natuna. Ini insiden yang sangat serius," tambahnya.

Kemudian juga perlu untuk segera melakukan evaluasi dan audit alutsista, termasuk mengevaluasi rencana-rencana pengadaan yang sedang berlangsung. Hal ini dikarenakan alutsista seharusnya berasal dari produsen-produsen terbaik dan melalui proses terbuka dan terawasi.

"Sejumlah alutsista yang proses pengadaannya bermasalah bisa melahirkan masalah dan insiden. Pengadaan alutsista bekas juga seharusnya tak boleh ada lagi.Saat ini anggaran pertahanan kita mencapai Rp108 triliun. Meskipun angka itu masih di bawah 1,5 persen PDB (Produk Domestik Bruto), namun itu merupakan anggaran terbesar bidang pertahanan dalam satu dekade terakhir," tuturnya.

Menurutnya dengan anggran terbilang besar tersebut semestinya dengan perencanaan yang baik dan belanja alutsista yang transparan, anggaran itu bisa digunakan untuk memperbaiki sistem alutsista secara bertahap. 

“Insiden itu seharusnya mengingatkan kembali TNI pada khittah sebagai militer profesional. Untuk itu TNI harus melakukan evaluasi,” tutupnya.

LIMA: Pembahasan RUU Pemilu Sebaiknya Jangan Sampai Molor

Penulis : Khairul Anwar, Aurora Denata