logo





Pesantren akan Menjadi Sentra Budidaya Lele Sistem Bioflok

Masyarakat pesantren kini menjadi salah satu andalan untuk mendongkrak produksi budidaya ikan lele dengan sistem bioflok (kolam dari terpal).

17 Mei 2017 19:55 WIB

Slamet Soebjakto, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya ;  Pesantren akan menjadi sentra produksi ikan lele dengan sistem bioflok.
Slamet Soebjakto, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya ; Pesantren akan menjadi sentra produksi ikan lele dengan sistem bioflok. Istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Sistem budidaya bioflok untuk ikan lele merupakan teknologi peningkatan produktivitas yang disertai efisiensi biaya pakan yang terbukti sukses yang dialami koperasi-koperasi kelompok pembudidaya lele di Tabanan-Bali dan Banyuwangi-Jawa Timur.

Slamet Soebjakto: Budidaya Lele Metode Bioflok Terbukti Dongkrak Produksi Ikan

Berangkat dari kesuksesan itu, maka Ditjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan kini giat mengembangkan teknologi biosflok yang berasal dari Sragen, Jawa Tengah itu dengan mensasar masyarakat pesantren -- sebagai salah satu target sentra produksi ikan lele di seluruh wilayah pedesaan Indonesia -- termasuk di daerah perbatasan.

Khusus masyarakat pesantren ada 1.000 lebih pesantren di seluruh Indonesia yang akan disasar semuanya untuk menerima bantuan pemerintah. Setiap pesantren harus memiliki koperasi yang berbadan hukum dan identitas yang jelas dari para anggotanya sebagai pembudidaya.  Paket bantuannya berupa bibit, indukan, prasarana kolam dan pakan ikan.


KH Said Aqil Siradj: Kiai Menjadi Tonggak Pembangun Karakter Bangsa

Namun begitu, Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebijakto, dalam jumpa pers tadi siang di kantornya, Jakarta, menyatakan ”Tetap harus harus dicek ulang sebelum serah terima bantuan -- apakah ada koperasinya dan SDMnya ?. Semuanya ada 103 paket bantuan yang diproyeksikan bisa menghasilkan 1.452 ton ikan lele per tahun dengan menyerap tenaga kerja sekitar 1030 orang.”

Tujuan Ditjen Perikanan Budidaya tersebut adalah sebagai upaya ketahanan pangan dan meningkatkan gizi warga santri yang seme ntara i ni jumlah konsumsi ikannya masih kecil, yaitu semula hanya 9 kg per kapita per tahun.

”Sekarang mulai meningkat 15 kg per kapita per tahun. Diharapkan dengan bantuan bibit, indukan, prasarana kolam dan pakan dari pemerintah kepada kelompok pembudidaya ikan lele pesantren maka meningkat produksi lele menjadi 41 kg per kapita per tahun atau sama juga mengkonsumsi 3,5 kg per bulan bagi tiap santri. Ini berarti meningkatkan gizi masyarakat dan berkontribusi bagi ketahanan pangan,” ujar Slamet Soebjakto.

Slamet Soebjakto juga mengatakan, pondok pesantren sebagai lembaga non formal merupakan lingkungan yang efektif untuk mengembangkan usaha yang mudah untuk mengenalkan usaha lele dengan sistem bioflok.

Budidaya ikan bioflok yang juga ditulis biofloc atau bioflock adalah istilah yang sedang naik daun, yakni sistem baru budidaya ikan yang banyak diterapkan pada pemeliharaan ikan lele. Sampai ada Restoran Biofloc 165 di depok, Jawa Barat, yang mengembangkan budidaya lele sistem bioflok yang menawarkan aneka menu lele olahan, seperti lele goreng krispi, pepes lele, gulai lele, dan sate lele.

Soebjakto juga menjelaskan, bahwa Ditjen Perikanan Budidaya menyiapkan 103 paket bantuan dengan rincian 71 dari pusat dan 32 dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang akan diberikan ke 73 pondok pesantren, 12 kelompok budidaya non pesantren dan 2 lembaga pendidikan yang tersebar di 16 provinsi termasuk wilayah perbatasan yaitu Kabupaten Belu, NTT serta Kabupaten Sarmi dan Wamena Papua.

Dukungan itu diharapkan mampu menghasilkan produksi ikan lele dengan konsumsi sebanyak 370,8 ton per siklus atau 1.452 ton dengan nilai ekonomi produksi sebesar 21,78 miliar per tahun -- yang mampu menyedot tenaga kerja mencapai 1.030 orang.

”Dukungan ini diharapkan bisa memicu frekuensi konsumsi ikan di pondok pesantren yang semula kurang dari satu kali dalam seminggu menjadi paling tidak dua kali dalam seminggu,” urai Soebjakto.

Dalam konteks ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan akan menggandeng pihak independen seperti perguruan tinggi dan LSM ikut serta melakukaan pembinaan dan pendampingan teknologi. Sehingga usahanya berkelanjutan. Selain itu juga akan menggandeng organisasi keagamaan seperti PP Muhammadyah dan Nahdlatul Ulama.

Jaga Kharakter Anak Bangsa, Puan Maharani: Kita Harus Mulai dari Para Sesepuh di PBNU

Penulis : Yusran Edo Fauzi,Marselinus Gunas