logo





IPA: Industri Migas Berefek Ganda terhadap Ekonomi Indonesia

Jika industri migas dikombinasikan dengan berbagai sektor pendukungnya, tentu akan memiliki efek ganda yang sangat besar terhadap ekonomi Indonesia.

17 Mei 2017 13:57 WIB

Pembukaan pameran Indonesian Petroleum Association (IPA) ke-41 di JCC.
Pembukaan pameran Indonesian Petroleum Association (IPA) ke-41 di JCC. Jitunews/Garry Talentedo Kesawa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Konvensi dan Pameran Indonesian Petroleum Association (IPA) ke-41 tahun 2017 secara resmi dibuka oleh Presiden IPA, Christina Verchere, Rabu (17/5/2017).

Pemerintah Kirim Tim Sektor Energi Indonesia ke India

Turut hadir mendampingi Christina pada acara tersebut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan; Dirjen Migas, I Gusti Nyoman Wiratmaja; dan Kepala SKK Migas, Amin Sunaryadi.

Konvensi dan pameran yang tahun ini yang mengambil tema 'Accelerating Reform to Re-Attract Investment to Meet the Economic Growth Target' menggarisbawahi kebutuhan Indonesia terhadap investasi yang sangat besar untuk melakukan kegiatan eksplorasi untuk mendapatkan sumber migas baru yang kebanyakan terletak di laut dalam di sebelah timur Indonesia.


Pemerintah Ingin Kapasitas Listrik di Papua Meningkat Dua Kali Lipat

Menurut Christina, jika industri migas dikombinasikan dengan berbagai sektor pendukungnya, tentu akan memiliki efek ganda yang sangat besar terhadap ekonomi Indonesia.

"Karena itu akan membuat Indonesia menjadi kompetitif dan atraktif bagi investasi harus menjadi prioritas utama pemerintah Indonesia," ujar Christina dalam pidato pembukaan IPA Convention Exhibition di Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu (17/5).

Meskipun kontribusi sektor migas yang masuk ke kas negara menurun, tidak dapat dipungkiri bahwa kontribusi industri ini merupakan pendorong pertumbuhan ekonomi dan menjadi katalisator perkembangan daerah melalui efek gandanya.

Sayangnya, dampak ekonomi tersebut terhalang oleh beberapa tantangan yang dihadapi oleh industri hulu migas Indonesia, seperti ketidakpastian hukum, aturan fiskal yang tidak kompetitif, reformasi regulasi (revisi dari Peraturan Pemerintah Nomor 79/2010 dan keekonomian skema gross split), dan biaya investasi yang diakibatkan oleh turunnya produksi minyak, rasio penggantian sumber migas yang rendah, investasi yang lambat dalam infrastruktur gas serta rendahnya minat dalam blok baru yang ditawarkan pemerintah Indonesia.

Dalam hal ini, Christina menjelaskan, bahwa investasi untuk melakukan kegiatan eksplorasi sumber migas baru sangat penting dilakukan demi mencapai ketahanan energi Indonesia di masa mendatang.

"Bersama pemerintah, kami akan terus bekerja untuk menarik kembali investasi ke Indonesia demi mencapai target pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri ESDM, Ignasius Jonan, berbicara mengenai berkurangnya dana investasi global yang dikarenakan oleh jatuhnya harga minyak dalam 3 tahun terakhir. Perusahaan minyak didorong untuk menjadi lebih kompetitif dan efisien untuk menghadapi situasi bisnis tersebut.

"Tantangan dari industri ini bukan saja biaya operasional. Kita masih harus menghadapi tantangan rendahnya harga minyak global. Industri ini merupakan pendorong utama dari pertumbuhan ekonomi Indonesia dan karenanya pemerintah terus berusaha untuk melakukan berbagai usaha untuk meningkatkan kemudahan proses bisnis di Indonesia. Deregulasi dengan cara mengurangi jumlah perizinan serta reformasi birokrasi dilakukan demi untuk mendorong investasi di Indonesia," paparnya.

Pertamina Siapkan SPBU 'Darurat' Antisipasi Lonjakan BBM

Penulis : Garry Talentedo Kesawa, Nugrahenny Putri Untari