logo





KKP Identifikasi Spesimen Biota Laut yang terdampar di Maluku

Bangkai mamalia laut tersebut, diduga merupakan paus (whale) pemakan plankton (plankton feeder), bukan cumi-cumi atau gurita.

16 Mei 2017 20:41 WIB

Bangkai Mamalia laut yang terdampar di pesisir pantai Dusun Hulung, Desa Iha, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku.
Bangkai Mamalia laut yang terdampar di pesisir pantai Dusun Hulung, Desa Iha, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku. Humas kkp

MALUKU, JITUNEWS.COM – Bangkai hewan yang diduga mamalia laut ditemukan pada hari Selasa, (9/5), terdampar di pesisir pantai Dusun Hulung, Desa Iha, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku.

Tidak Ada Diskriminasi bagi Penerima Bantuan Perikanan Budidaya

Kepala BRSDM KKP, M. Zulficar Mochtar mengatakan bahwa identifikasi awal menggunakan foto di lokasi. Diperkirakan bangkai tersebut merupakan bangkai mamalia laut.

“KKP telah memiliki panduan penanganan mamalia laut terdampar, baik yang masih hidup maupun telah mati. Untuk mendapatkan analisa yang lebih akurat, satu hari setelah penemuan bangkai kami menugaskan 3 (tiga) orang peneliti ahli identifikasi ikan dari Balai Riset Perikanan Laut (BRPL) Muara Baru, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Jakarta ke lokasi di Ambon”, ujarnya seperti dalam keterangan tertulis yang diterima Jitunews.com, Selasa(16/5).


Atasi Masalah Cantrang, DPR Desak Menteri Susi Lakukan Dialog Dengan Nelayan

Selanjutnya tim peneliti KKP bersama pihak terkait telah melakukan pengecekan kondisi spesimen, pengukuran morfometrik dan sampling biologi. Hasilnya, bangkai tersebut termasuk kelompok paus (whale) pemakan plankton (plankton feeder), bukan cumi-cumi atau gurita. Spesies paus diharapkan akan dapat ditentukan dari hasil analisis genetik (DNA barcoding) yang akan dilakukan kemudian di Jakarta.

Anggota tim peneliti BRPL KKP, Suwarso MSi menyampaikan bahwa dugaan penyebab kematian masih sulit diidentifikasi secara pasti, namun beberapa indikator dapat menginformasikan penyebab kematiannya antara lain spesimen terdampar secara tunggal dan tidak terlihat adanya paus lain yang terlihat di perairan Saparua, maka diduga spesimen yang diidentifikasikan sebagai paus tersebut telah mati selama lebih dari seminggu.

Sementara itu, melihat kondisi spesimen dimana kepala tidak utuh, dan bagian perut terurai, diduga paus mengalami sakit dan luka sebelum mati. Spesimen terbawa arus ke arah barat dan terdampar di pantai Hualang.

KKP Buka Peluang Investasi Perikanan di Indonesia Timur

Penulis : Siprianus Jewarut, Ratna Wilandari