logo


Eni Mulai Produksi dari Proyek Jangkrik di Laut Dalam Lebih Cepat dari Jadwal

Produksi ini disalurkan melalui sepuluh sumur bawah laut yang terhubung dengan Jangkrik Floating Production Unit (FPU) yang baru saja dibangun

15 Mei 2017 19:20 WIB

Jangkrik Floating Production Unit
Jangkrik Floating Production Unit dok. SKK Migas

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Produksi dari Jangkrik, yang dijadwalkan pada pertengahan tahun ini dan menyusul start-up East Hub di Angola, semakin mengukuhkan Eni sebagai yang terdepan dalam kemampuan time-to-market industrinya.

Produksi Migas Awal Tahun Lebihi Target

San Donato Milanese (Milan), 15 Mei 2017 – Eni telah memulai produksi dari Proyek Pengembangan Kompleks Jangkrik di lepas pantai laut dalam Indonesia, lebih cepat dari jadwal yang telah ditetapkan. Proyek ini mencakup lapangan Jangkrik dan Jangkrik North East yang terletak di blok Muara Bakau, Cekungan Kutei, di perairan laut dalam Selat Makassar.

Produksi ini disalurkan melalui sepuluh sumur bawah laut yang terhubung dengan Jangkrik Floating Production Unit (FPU) yang baru saja dibangun, akan mencapai 450 juta kaki kubik per hari (mmscf/d) secara bertahap atau setara dengan 83,000 barel setara minyak per hari (boed).
Setelah diproses di atas FPU, gas akan dialirkan melalui pipa khusus sepanjang 79 km ke Fasilitas Penerima di Darat atau Onshore Receiving Facility yang keduanya baru dibangun oleh Eni, melalui Sistem Transportasi Kalimantan Timur, hingga tiba di kilang LNG Badak di Bontang.


Terkait Revisi UU Migas, Arcandra Ingin Gap Segera Diselesaikan

Produksi gas dari Jangkrik akan memasok pasar domestik dan juga pasar ekspor LNG, sehingga memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kebutuhan energi Indonesia saat ini dan pembangunan ekonomi di masa depan.

Dimulainya produksi hanya berselang tiga setengah tahun sejak persetujuan proyek diberikan merupakan konfirmasi lebih lanjut akan kemampuan Eni dalam pengembangan proyek secara 2 cepat. Start-up Jangkrik ini menorehkan rekor baru dalam industri ini dan merupakan sebuah langkah maju bagi kegiatan-kegiatan Eni di Indonesia.

"Kami merasa bangga atas apa yang telah kami capai dengan Proyek Jangkrik ini," tutur CEO Eni, Claudio Descalzi.

"Penyelesaian proyek dan dimulainya produksi lebih cepat dari jadwal yang telah ditetapkan semakin mengukuhkan strategi dan kemampuan global Eni. Selain itu, hal ini juga membuka kesempatan bagi FPU Jangkrik untuk menjadi penghubung atau hub bagi lapangan Merakes (Eni 85%, Pertamina 15%), penemuan gas kami yang letaknya dekat dari sana, yang berpotensi untuk dapat berproduksi dalam kurun waktu dua tahun ke depan. Kami juga akan menggabungkan strategi eksplorasi dan model operasional dekat lapangan serta memaksimalkan pengembangan terintegrasi proyek-proyek kami di Indonesia.”

Eni adalah operator KKS Muara Bakau dengan 55% saham yang dipegang melalui anak perusahaannya, Eni Muara Bakau BV. Mitra-mitra lainnya adalah Engie E&P (melalui anak perusahaannya GDF SUEZ Exploration Indonesia BV) dengan 33.334%, dan PT. Saka Energi Muara Bakau dengan 11.664%. Eni sebagai operator wilayah kerja Muara Bakau dalam operasinya berada dalam pengawasan dan pengendalian SKK Migas, sebagai wakil pemerintah RI.

Eni telah beroperasi di Indonesia sejak tahun 2001 dan saat ini memiliki portofolio aset yang besar dalam bidang eksplorasi, produksi, dan pengembangan. Kegiatan produksinya selama ini terpusat di delta sungai Mahakam, Kalimantan Timur, dengan partisipasi di VICO Ltd. (Eni 50%,Saka Energi 50%) sebagai operator KKS Sanga Sanga yang menghasilkan produksi ekuitas rata-rata sebanyak 14,000 barel setara minyak per hari.

Kunjungan ke Tokyo, Jonan Bahas Investasi Listrik dan Migas

Penulis : Vicky Anggriawan
×
×