logo


Arcandra Tahar: EOR Tidak Hanya Butuh Studi, Tapi Butuh Implementasi

Terkait potensi minyak yang besar tersebut, harus dibuat roadmap EOR yang detail. Untuk itu, kita boleh saja mengundang ahli-ahli EOR dr luar negeri.

12 Mei 2017 13:33 WIB

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar.
Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar. Esdm.go.id

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pemerintah terus mendukung semua pihak dalam mengeksploitasi dan mengeksplorasi minyak dan gas bumi di Indonesia. Teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) dinilai sebagai jawaban guna menempuh langkah tersebut.

"Teknologi EOR sebenarnya sudah ada di Indonesia sejak tahun 1980an", demikian disampaikan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar saat mengisi seminar tentan EOR di SKK Migas, Rabu (10/5), dalam keterangan resmi Kementeria ESDM, Jumat (11/5/2017).

Namun, kata Archandra, masih banyak Kontraktor Kerja Sama (KKKS) yang belum menerapkan teknologi EOR dalam mengeksplorasi lapangan minyaknya.

"Padahal, kita punya potensi minyak yang cukup besar 4,6 miliar barel", jelas Arcandra. Pemerintah pun terus mendorong semua pihak untuk terus meningkatkan produksi minyak, salah satunya melalui EOR.

Arcandra menambahkan, terkait potensi minyak yang besar tersebut, harus dibuat roadmap EOR yang detail. Untuk itu, kita boleh saja mengundang ahli-ahli EOR dr luar negeri.

Saat ini ada tiga lapangan minyak dengan teknologi EOR, yaitu: Kaji Semoga (Medco), Minas (Chevron), dan Pertamina EP. Arcandra menyampaikan harapannya agar EOR menjadi pertimbangan bagi KKKS untuk meningkatkan produksi minyak.

"EOR jangan berhenti di paper saja. Jangan diteliti terus, tapi juga diimplementasikan", tutup Arcandra.

Pemerintah Ingin Kapasitas Listrik di Papua Meningkat Dua Kali Lipat

Jonan Pertanyakan Mogoknya Karyawan Freeport

Penulis : Marselinus Gunas