logo


AHY dan Rakernas Demokrat

Demokrat hendak memainkan politik alternatif dengan mendorong AHY sebagai capres di tengah defisit tokoh nasional yang bebas dari beban masa lalu. AHY bukanlah siluman dadakan.

7 Mei 2017 01:19 WIB

Agus Harimurti Yudhoyono.
Agus Harimurti Yudhoyono. Instagram @agusyudhoyono

Prediksi publik terhadap Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai Demokrat tertuju pada sosok Agus Harimurti Yudoyono (AHY).  Hal itu wajar, karena Rakernas ini dilakukan di saat AHY dan Partai Demokrat sedang  gencarnya keliling nusantara, melalui program partai, “Demokrat Keliling Nusantara" .

AHY Bantah Semua Isu Soal Keikutsertaannya di Pilkada 2018

Rasa penasaran publik juga muncul mengemuka tatkala Partai Demokrat memilih Mataram, ibu kota Provinsi NTB sebagai tempat pelaksanaan Rakernas. Di sana, ada sosok gubernur Tuan Guru Bajang (TGB). Setidaknya ada tiga hal pokok yang hendak diantisipasi sehingga Partai Demokrat bergerak cepat melakukan konsolidasi partai.

Pertama, Calon Presiden (Capres) yang akan diusung di 2019. Koalisi menengah pendukung ambang batas perolehan suara untuk pencalonan presiden (PT) sebesar nol (0) persen atas RUU Pemilu di parlemen menguat. Dengan ketentuan ini, maka setiap parpol mesti mencalonkan calon presiden. Parpol harus mampu mendorong kader terbaik yang bisa diterima publik. Begitu juga dengan Partai Demokrat. Demokrat hendak memainkan politik alternatif dengan mendorong AHY sebagai capres di tengah defisit tokoh nasional yang bebas dari beban masa lalu.  AHY bukanlah siluman dadakan.


Selain Ucapkan Selamat, AHY Siap Diajak Diskusi oleh Anies Terkait Jakarta

Tetapi setidaknya hasil pilkada DKI bisa dianggap sebagai modal dasar  untuk bertarung di level politik praktis. Apalagi jika Demokrat memperkenalkan AHY dan isu strategis yang populis ke seluruh nusantara.


Kedua, kejutan pemenang putaran I Pilpres perancis Emanuel Marcon berusia muda 39 tahun dan baru setahun mendirikan partai mampu merontokan dominasi politisi kawakan sekelas Francois Fillon. Pesaing terberat Marcon adalah Marine Le Pen tokoh ekstremis sayap kanan yang menentang uni eropa dan pengungsi.  Marcon tokoh muda yang disokong penuh oleh gerakan En Marce membuat pilpres Peranciis menarik.

Ketiga, fenomena Jokowi, “orang ajaib” dari Solo yang mampu menggempur Batavia dan menguasai Indonesia. Melalui Jokowi, sulit dibantah, ada fase transisi dialektika berbagai hal dalam perpolitikan Indonesia. Mulai dari teori terapan tipologi kepemimpinan sampai pada etika komunikasi pejabat negara yang bergeser jauh dari referensi ilmu dan tradisi. Betapa tidak, loncat kelas bupati, gubernur dan presiden hanya dalam kurung waktu 3 tahun.  Sungguh sangat tidak mungkin jika hanya kerja dan faktor personal.

Ketiga, hal tersebut tentu menjadi vitamin bagi AHY dan Demokrat. Sebagai partai harus menjaga marwah dengan menawarkan calon pemimpin bagi publik. Kontribusi calon presiden turut mempengaruhi perolehan suara partai.  Soal menang kalah itu urusan rakyat. Tapi soal pengaruh besar atau kecil tergantung figur capres yang didorong.

Faktor trend dunia tentu turut memberi efek atas preferensi masyarakar dalam memilih. Figur seperti Macron dan Jokowi setidaknya memberi pesan bahwa masyarakat meletakan harapan terhadap masa depan.  Masyarakat akan tetap sabar juga menuntut pemenuhan janji.  Ketika janji tak terbukti bersiap lah menerima penolakan rakyat di kotak suara.

Langkah Kuda 2019

Posisi AHY sangatlah strategis.  Bisa bermain di berbagai posisi dan berperan di setiap lini.  Bisa menjadi Capres.  Bisa menjadi Calon Wakil Presiden. Yang paling memungkinkan jika Jokowi didampingi AHY setelah melihat koalisi pilkada DKI sebagai barometer.

Pilpres 2019 rasa lama pun terulang lagi.  Jokowi dan Prabowo akan berhadap-hadapan kembali dengan calon wakil yang bereda. Prabowo akan menggandeng Anis Baswedan. Jokowi akan bergandengan dengan AHY, misalnya.  Tentu Wapres Jusuf Kalla tidak akan maju kembali 2019. Dan dukungan JK kepada Anies jelas sebuah isyarat.

Perbedaan keberpihakan di pilkada DKI dan demo 411, 212 antara Jokowi dan JK adalah pemicunya.  Maka, Jokowi akan mencari wakil dari Golkar, PDIP, PKB dan Demokrat. Demokrat akan tetap menjadi bandul dalam koalisi nanti.  Karena apapun pilihannya, kartu as tetap hidup.  Termasuk dalam hal menduetkan AHY-TGB mungkin saja terjadi. Apalagi TGB salah satu bintang dari ufuk timur yang sedang bersinar.

Boni Jebarus, Anggota DPRD Provinsi NTT dari Partai Demokrat

Wisata Ziarah ke Makam Leluhur, SBY Sempatkan Besuk Mantan Mendagri di Yogya

×
×