logo


Kuartal I Tahun 2017, PT Astra International Bukukan Laba Bersih Rp 5,08 Triliun

Jumlah laba tersebut didukung dari kinerja sebagian besar bisnis Grup Astra yang berjalan sangat baik.

25 April 2017 10:24 WIB

Astra International.
Astra International. Istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Selama tiga bulan pertama di tahun 2017, PT Astra International Tbk (ASII) berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp5,08 triliun. Jumlah laba tersebut didukung dari kinerja sebagian besar bisnis Grup Astra yang berjalan sangat baik.

Astra International Terus Berupaya Berkontribusi Positif untuk Indonesia

“Sebagian besar bisnis Grup Astra memiliki kinerja yang baik pada kuartal pertama tahun 2017. Ke depan, Grup Astra berharap mendapatkan manfaat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan, didukung oleh harga komoditas yang lebih baik, walaupun bisnis otomotif diperkirakan menghadapi persaingan harga yang lebih kompetitif,” ujar Presiden Direktur Astra Internasional, Prijono Sugiarto.

Pada kuartal pertama tahun 2017, segmen otomotif Grup Astra mencapai pangsa pasar yang kuat untuk mobil dan motor. Penjualan mobil secara nasional mengalami peningkatan, sementara penjualan motor secara nasional menurun, di mana yang terakhir merupakan dampak atas peningkatan pajak kendaraan yang mulai diberlakukan pada awal tahun.


PGN Catatkan Laba Bersih Rp 1,29 Triliun di Kuartal I 2017

Kinerja segmen jasa keuangan mengalami peningkatan ditandai dengan perolehan laba dari PT Bank Permata Tbk. Sementara itu, kenaikan harga komoditas menghasilkan perbaikan kinerja dari divisi alat berat dan agribisnis.

Otomotif

Laba bersih dari bisnis otomotif Grup meningkat 45% menjadi Rp 2,3 triliun, terutama diakibatkan oleh momentum kesuksesan dari penjualan model-model baru yang diluncurkan pada tahun 2016 dan terus berlanjut hingga tahun 2017.

Penjualan mobil secara nasional meningkat 6% menjadi 283.000 unit. Penjualan nasional mobil Astra meningkat sebesar 27% menjadi 161.000 unit, mengakibatkan peningkatan pangsa pasar dari 48% menjadi 57%. Grup telah meluncurkan satu model baru dan dua model revamped selama periode ini.

Penjualan sepeda motor nasional menurun sebesar 7% menjadi 1,4 juta unit. Walaupun penjualan sepeda motor dari PT Astra Honda Motor (AHM) mengalami penurunan sebesar 2% menjadi 1,1 juta unit, namun pangsa pasar AHM meningkat dari 72% menjadi 77%, didukung oleh peluncuran empat model baru dan enam model revamped selama periode ini.

Astra Otoparts, bisnis komponen Grup, mencatat peningkatan laba bersih sebesar 83% menjadi Rp148 miliar, didukung oleh peningkatan pendapatan dari bisnis pasar pabrikan otomotif (OEM/ original equipment manufacturer) dan bisnis aftermarket serta peningkatan kontribusi dari perusahaan patungan dan entitas asosiasi.

Jasa Keuangan

Laba bersih bisnis jasa keuangan Grup meningkat 75% menjadi Rp1,1 triliun, sebagai hasil peningkatan kontribusi dari sebagian besar bisnis jasa keuangan, termasuk Bank Permata.

Sektor bisnis pembiayaan konsumen Grup menunjukkan kenaikan total pembiayaan sebesar 17% menjadi Rp18,7 triliun, termasuk melalui joint bank financing without recourse. PT Astra Sedaya Finance (ASF) yang fokus pada pembiayaan roda empat mencatat peningkatan laba bersih sebesar 11% menjadi Rp237 miliar, sementara pembiayaan roda empat lainnya, PT Toyota Astra Financial Services (TAFS), mencatat peningkatan laba bersih sebesar 25% menjadi Rp100 miliar. Peningkatan ini merupakan hasil dari pertumbuhan pasar mobil nasional dan peningkatan pangsa pasar mobil Astra. Federal International Finance (FIF) yang fokus pada pembiayaan roda dua mencatat kenaikan laba bersih sebesar 13% menjadi Rp444 miliar, sebagai hasil dari kenaikan pangsa pasar sepeda motor Honda serta diversifikasi produk pinjaman.

Total pembiayaan yang dikucurkan oleh Grup pembiayaan alat berat meningkat 28% menjadi Rp1,3 triliun. PT Surya Artha Nusantara Finance (SANF) yang fokus pada pembiayaan alat berat kelas kecil dan menengah, melaporkan laba bersih yang lebih rendah, yaitu sebesar Rp20 miliar.

Bank Permata, yang 44,6% sahamnya dimiliki oleh Perseroan, mencatat laba bersih sebesar Rp453 miliar dibandingkan kerugian bersih sebesar Rp376 miliar pada periode yang sama tahun 2016. Rasio kredit bermasalah kotor Bank Permata menurun dari 8,8% pada akhir tahun 2016 menjadi 6,4% pada akhir bulan Maret 2017. Kinerja positif Bank Permata merupakan hasil dari pendapatan bisnis utama yang tetap berjalan baik serta penjualan sebagian porsi aset pinjaman bermasalah sebagaimana yang telah direncanakan. Dalam rangka memperkuat permodalannya, Bank Permata diharapkan dapat melaksanakan rights issue sejumlah Rp3 triliun pada semester pertama tahun 2017, dimana kedua pemegang saham utama Bank Permata, Astra International dan Standard Chartered Bank, telah menyertakan capital advance sejumlah Rp1.5 triliun pada bulan Desember 2016.

Perusahaan asuransi kerugian Grup, PT Asuransi Astra Buana (AAB), mencatat peningkatan laba bersih sebesar 4% menjadi Rp215 miliar, terutama disebabkan oleh peningkatan pendapatan underwriting segmen otomotif.

Perusahaan patungan bersama asuransi jiwa Grup, Astra Aviva Life, menambah hampir 67.000 nasabah asuransi jiwa perorangan dan 145.000 nasabah asuransi program kesejahteraan karyawan, sehingga pada akhir kuartal pertama tahun 2017 jumlah nasabah perorangan dan nasabah melalui program kesejahteraan karyawan, masing-masing menjadi 267.000 dan 637.000 nasabah.

Alat Berat dan Pertambangan

Laba bersih Grup Astra dari segmen alat berat dan pertambangan meningkat sebesar 104% menjadi Rp902 miliar.

PT United Tractors Tbk (UT), yang 59,5% sahamnya dimiliki oleh Perseroan, melaporkan peningkatan laba bersih sebesar 105% menjadi Rp1,5 triliun, disebabkan oleh peningkatan volume bisnis pada mesin konstruksi, kontraktor penambangan dan kegiatan pertambangan, yang seluruhnya mendapatkan keuntungan dari peningkatan harga batu bara.

Pada segmen usaha mesin konstruksi, volume penjualan alat berat Komatsu mengalami peningkatan sebesar 70% menjadi 847 unit, dimana pendapatan dari suku cadang dan jasa juga meningkat. PT Pamapersada Nusantara (PAMA), anak perusahaan UT di bidang kontraktor penambangan batu bara, mengalami peningkatan produksi batu bara sebesar 2% menjadi 25 juta ton, sementara peningkatan kontrak pengupasan lapisan tanah (overburden removal) meningkat sebesar 3% menjadi 171 juta bank cubic metres. Anak perusahaan UT dalam bidang pertambangan melaporkan peningkatan penjualan batu bara sebesar 9% menjadi 1,9 juta ton.

PT Acset Indonusa Tbk, perusahaan kontraktor umum yang 50,1% sahamnya dimiliki UT, melaporkan peningkatan laba bersih sebesar 63% menjadi Rp31 miliar dan mencatat penambahan kontrak baru senilai Rp6,9 triliun sepanjang kuartal pertama tahun 2017 dibandingkan Rp2,4 triliun yang berhasil diterima pada kuartal pertama tahun 2016.

Pada bulan Maret 2017, Bhumi Jati Power yang 25% sahamnya dimiliki oleh UT dan akan mengembangkan serta mengoperasikan pembangkit listrik tenaga uap berkapasitas 2x1.000 MW di Jawa tengah, telah menyelesaikan perjanjian pendanaan proyek dengan para kreditur. Proyek BOT (build, operate and transfer) ini diperkirakan menelan biaya sekitar US$4,2 miliar dan direncanakan akan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2021. Bhumi Jati Power merupakan perusahaan patungan bersama antara anak usaha UT, Sumitomo Corporation dan Kansai Electric Power Co Inc.

Pada bulan Maret 2017, UT melalui anak usahanya PT Tuah Turangga Agung, menyelesaikan akuisisi 80,1% kepemilikan PT Suprabari Mapanindo Mineral, sebuah perusahaan coking coal (batu bara berkalori tinggi yang biasa digunakan sebagai campuran dalam peleburan baja) yang berlokasi di Kalimantan Tengah.

Agribisnis

Laba bersih dari segmen agribisnis Grup meningkat sebesar 92% menjadi Rp 638 miliar pada kuartal pertama tahun 2017.

PT Astra Agro Lestari Tbk (AAL), yang 79,7% sahamnya dimiliki oleh Perseroan, membukukan laba bersih sebesar Rp801 miliar, meningkat dari Rp 418 miliar pada kuartal pertama tahun 2016, disebabkan oleh peningkatan pendapatan dari harga kelapa sawit yang lebih tinggi serta peningkatan produksi dan penjualan kelapa sawit. Harga rata-rata minyak kelapa sawit (CPO) mengalami peningkatan sebesar 36% menjadi Rp8.953/kg. Sementara itu, penjualan kelapa sawit dan produk turunannya meningkat sebesar 1% menjadi 410.000 ton dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Infrastruktur dan Logistik

Laba bersih segmen infrastruktur dan logistik Grup menurun sebesar 3% menjadi Rp67 miliar, sebagian besar disebabkan oleh kerugian awal dari dimulainya ruas jalan tol Cikopo-Palimanan serta pendapatan yang lebih rendah dari bisnis penyedia air bersih.

PT Marga Mandala Sakti (MMS), operator jalan tol yang mengoperasikan jalur Tangerang-Merak sepanjang 72 kilometer (km), yang 79,3% sahamnya dimiliki Perseroan, mencatat peningkatan volume trafik kendaraan sebesar 5% menjadi 12 juta kendaraan. Pembangunan konstruksi ruas jalan tol Jombang-Mojokerto sepanjang 41 km, yang seluruhnya dimiliki Perseroan dan telah mulai beroperasi sepanjang 20 km, terus berlanjut. Ruas jalan tol Semarang-Solo sepanjang 73 km, yang 25% sahamnya dimiliki Grup, telah mulai beroperasi sepanjang 23 km.

Pada Januari 2017, Grup menuntaskan akuisisi awal kepemilikan 40% atas PT Baskhara Utama Sedaya (BUS), pemilik 45% saham operator ruas jalan tol Cikopo-Palimanan sepanjang 116 km, dan selanjutnya telah menyetujui untuk mengakuisisi sisa kepemilikan sebesar 60% di BUS. Berikut dengan kepemilikan 40% dari ruas jalan tol Kunciran-Serpong sepanjang 11 km dan kepemilikan 25% dari ruas jalan tol Serpong-Balaraja sepanjang 40 km, dimana keduanya merupakan proyek greenfield, total kepemilikan jalan tol Grup secara keseluruhan menjadi 353 km.

PAM Lyonnaise Jaya, perusahaan penyedia air bersih yang melayani wilayah barat Jakarta mencatat penurunan penjualan volume air bersih sebesar 2% menjadi 38 juta meter kubik.

PT Serasi Autoraya (SERA) mengalami kenaikan laba bersih sebesar 82% menjadi Rp40 miliar, disebabkan oleh kenaikan marjin kontrak sewa mobil dan bisnis logistik, meskipun terjadi penurunan sebesar 2% atas jumlah kontrak sewa kendaraan di bisnis rental kendaraan.

Teknologi Informasi

Laba bersih dari segmen teknologi informasi Grup turun sebesar 23% menjadi Rp26 miliar.

PT Astra Graphia Tbk, yang 76,9% sahamnya dimiliki oleh Perseroan, melaporkan 23% penurunan laba bersih menjadi Rp 33 miliar yang terutamanya disebabkan oleh perolehan pendapatan yang lebih rendah dari bisnis solusi teknologi informasi.

Properti

Laba bersih dari divisi properti Grup sebesar Rp 42 miliar, secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan Rp 13 miliar yang dihasilkan pada kuartal pertama tahun 2016, terutama disebabkan oleh adanya peningkatan atas laba yang dihasilkan oleh Anandamaya Residences.

Prospek Bisnis

Sebagian besar bisnis Grup Astra memiliki kinerja yang baik pada kuartal pertama tahun 2017. Ke depan, Grup Astra berharap mendapatkan manfaat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan, didukung oleh harga komoditas yang lebih baik, walaupun bisnis otomotif diperkirakan menghadapi persaingan harga yang lebih kompetitif.

Impor Barang Konsumsi Melonjak, INDEF Sebut Indonesia Diserbu Produk Asing

Penulis : Vicky Anggriawan