logo





Peresmian Revitalisasi Pasar Klewer, Momentum Pengelolaan pasar

Untuk diketahui, pembangunan Pasar Klewer dilaksanakan secara bertahap dengan total anggaran sebesar Rp 157,8 miliar

22 April 2017 09:16 WIB

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Jitunews/Johdan A.A.P

SOLO, JITUNEWS.COM – Revitalisasi Pasar Klewer, Solo, setelah mengalami musibah kebakaran pada Desember 2014, membawa harapan agar pasar yang berdiri sejak 1971 itu kembali berfungsi menjadi jantung perekonomian kota Solo dan Jawa Tengah.

Pasar Klewer Siap Digunakan, Pedagang Tak Perlu Sewa Kios

“Pasar Klewer ini ibarat jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh,” tutur Menteri Perdagangan (Mendag) RI, Enggartiasto Lukita, dalam keterangan resminya kepada Jitunews.com.

Selain itu, hari peresmian yang bertepatan dengan peringatan Hari Kartini menandai momentum ‘habis gelap terbitlah terang’ di mana menjadi saat yang disyukuri pedagang dan masyarakat setelah melewati masa-masa sulit pasca kebakaran.


Sekilas Kisah dan Sejarah Pasar Klewer yang Diresmikan Jokowi Hari Ini

Untuk diketahui, pembangunan Pasar Klewer dilaksanakan secara bertahap dengan total anggaran sebesar Rp 157,8 miliar. Pada 2015, pasar kebanggaan warga Surakarta ini mendapat alokasi APBN melalui dana Tugas Pembantuan sebesar Rp 61,8 miliar untuk pembangunan basement dan lantai 1.

Selanjutnya, pada tahun anggaran 2016, Pasar Klewer mendapat alokasi Rp 96 miliar untuk pembangunan struktur lanjutan dan finishing empat lantai, yaitu basement, semi basement, lantai 1, dan lantai 2.

Enggar berkomitmen, Pasar Klewer harus menjadi pasar yang dapat dicontoh bagi pasar-pasar lainnya di Indonesia. Seperti amanat Presiden Jokowi yang disampaikan saat peresmian, kata Enggar, Pasar Klewer tidak boleh kalah dengan mal-mal besar.

“Pasar Klewer harus jadi pasar tradisional yang modern, nyaman, dan aman bagi pedagang dan pembeli. Keramahan pedagang dan kualitas produk harus tetap terjaga. Selain itu ciri khas Pasar Klewer sebagai pasar rakyat dengan tradisi tawar-menawar juga tidak boleh hilang,” ujar Enggar.

Pasar ini juga akan dikelola secara modern, antara lain dengan pembagian kartu E-retribusi, kartu BPJS Ketenagakerjaan, dan kartu Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Menurut Mendag Enggar, kartu E-retribusi merefleksikan niat menegakkan transparansi dalam pengelolaan pasar ini.

Pedagang bisa mengetahui berapa yang sudah dibayarkan dan kapan pembayarannya. Dengan demikian pengelola pasar juga dituntut untuk transparan mengenai apa saja pelayanan dan bagaimana kualitas layanan yang diberikan.

“Tidak ada lagi pasar yang retribusinya jalan terus tapi kotor dan tidak nyaman. Transparansi menuntut kedua belah pihak untuk mematuhi peraturan yang berlaku,” ujar Enggar.

Sedangkan, dengan kartu BPJS Ketenagakerjaan, pedagang pasar bukan lagi sektor informal, tetapi sektor formal yang diakui memberi kontribusi nyata bari perekonomian regional dan nasional.

Pada peresmian yang dihadiri Presiden Joko Widodo tersebut, Enggar menyampaikan apresiasi kepada Direktorat Jenderal Pajak yang terus melakukan penyadaran dan sosialisasi kepada pedagang, sehingga semua pedagang memiliki NPWP.

Menurut Enggar, kepemilikan NPWP dan BPJS ini adalah tanda bahwa Pasar Klewer siap menjadi pasar modern tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal.

“Ke depan, NPWP dan BPJS Ketenagakerjaan akan menjadi standar layanan pemerintah kepada pedagang di pasar-pasar rakyat,” ujar Enggar.

Enggar juga mengapresiasi hal yang menarik di Solo, yaitu kota ini memiliki tiga pasar yang ramah terhadap warga berkebutuhan khusus atau difabel. Pasar-pasar tersebut yaitu Pasar Gading, Pasar Tanggul, dan Pasar Gilingan. Pasar Gading dibangun pada tahun 2009 saat Presiden Jokowi masih menjabat sebagai Wali Kota Solo.

Presiden Jokowi Ingin Pasar Klewer Jadi Tempat Nyaman bagi Pengunjung

Penulis : Riana