logo





Total 16 Gubernur DKI Hanya Dua Kelahiran Jakarta, Anak Betawi Kemana?

Orientasi budaya yang mengacu pada agama rupanya membuat orang Betawi memiliki jarak dengan kekuasaan.

30 April 2017 04:00 WIB

Pengunjung bermain layang-layang di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta.
Pengunjung bermain layang-layang di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta. dok. Jitunews/Johdan A.A.P

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) atau Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta akhirnya menemui ujung jalan episode. Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat harus merelawan jabatannya terbang ke Anies Baswedan-Sandiaga Uno setelah dalam penghitungan cepat atau quick qount suara pasangan petahana tertindih oleh sang penantang.

Prospek Komoditas Rumput Laut Masih Cerah di 2015

Berbulan-bulan atau mungkin setahun lamanya publik di Jakarta bahkan meluas hingga nasional dilibatkan dalam keruwetan kontestasi calon pemimpin jakarta periode 2017-2022. Perdebatan pun ramai tak hanya saat atau pun menjelang kick off, tetapi hujatan antar simpatisan mulai saling serang dari ruang ganti.

Pluit panjang tanda pertandingan usai pun terdengar pada, Rabu, 19 April 2017 lalu dengan suara signifikan warga Jakarta yang memilih Anies Baswedan sebagai gubernur pengganti Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Seperti halnya pertandingan, tentu ada kontradiksi keadaan di masing-masing pihak.


Peluang Ekspor Akar Gingseng Jepang (Gobo) Terbuka Lebar

Saat penghitungan cepat dengan jumlah suara masuk baru sebesar lima persen, kubu Anies langsung bersorai dan memaknai kondisi tersebut sebagai sebuah kemenangan. Jumpa pers di Kantor DPP PKS pun digelar. Selain sebagai ajang deklarasi awal, pernyataan menang di awal itu bisa diartikan sebagai psy war ke pihak Ahok-Djarot, yang mana suara masuk untuk pasangan tersebut tak bergerak drastis.

"Kami mendapat kabar gembira dari beberapa lembaga survei bahwa hasil exit poll menunjukkan pasangan Anies-Sandi unggul dibandingkan lawannya," kata Presiden PKS Sohibul Iman pada konferensi pers di Kantor DPP PKS, Jakarta, Rabu (19/4).

Barulah menjelang sore atau tepatnya saat suara total telah masuk versi penghitungan cepat, kubu yang kalah, Ahok-Djarot tampil ke muka publik dengan menyatakan ucapan selamat kepada Anies-Sandi serta mengajak seluruh pihak yang selama ini bersaing untuk melupakan semua pahit getirnya kompetisi.

"Kita sudah melihat hasil hitung secara quick count. Dan tentunya nanti kita menunggu hasil real count. Hasil penghitungan quick count, Pak Anies dan Pak Sandi unggul. Oleh sebab itu, saya mengucapkan selamat kepada beliau," kata Djarot, Rabu (19/4).

"Kami harap ke depan kami ingin semua lupakan persoalan selama kampanye dan pilkada karena Jakarta rumah bersama," ucap Ahok menambahkan.

Baik Basuki, Djarot, Anies dan Sandi rupanya tak ada satu pun dari keempatnya yang merupakan orang asli Jakarta atau Betawi. Jakarta yang mengalami pembangunan secara masif dan cepat sesungguhnya telah menggusur atau memojokan warga pribumi asli di sudut dan pinggiran kota, bahkan keluar dari zona otoritas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Menariknya, dari 15 mantan gubernur DKI Jakarta dari September 1945 hingga 2017 hanya dua nama saja yang memiliki tempat kelahiran di Jakarta, yakni Soerjadi Soedirdja (Batavia, 11 Oktober 1938) dan Fauzi Bowo (Jakarta, 10 April 1948).

Lalu siapakah atau seperti apakah orang Betawi?

Seperti yang sempat dituliskan oleh Anton DH Nugrahanto pada periode 2007 lalu, ia menjelaskan bahwa orang asli Betawi seolah tidak peduli tentang siapa pemegang kekuasaan. Mungkin ini pula yang menjadi jawaban mengapa dari 15 mantan gubernur DKI Jakarta hanya dua orang saja yang lahir di Jakarta. Suku Betawi amat jauh dari jabatan-jabatan penting dipemerintahan yang mengatur kota dimana mereka tinggal.

Paling 'banter' orang Betawi jika pun menjabat tidak jauh dari posisi yang berkaitan dengan urusan keagamaan. Rupanya pula, orang Betawi memiliki kecintaan atau lebih menyenangi jabatan-jabatan yang berhubungan dengan agama, makanya banyak sekali dari orang-orang Betawi yang terdidik bekerja di Departemen Agama.

Jauh sebelum pertempuran Perang Baratayudha di Pilkada DKI putaran II antara Ahok dan Anies, sesungguhnya Jakarta, Sunda Kelapa, Jayakarta atau pun Batavia dalam sejarahnya rupanya tak asing dengan perebutan kekuasaan.

Kita mulai dari periode 1520-an kala Portugis mati-matian ingin menaklukan pelabuhan-pelabuhan dagang Banten. Saat itu, koalisi Pajajaran-Hindu dijadikan martir oleh Portugis untuk membendung geliat politik Banten-Islam. Upaya merebut, mungkin jika diibaratkan dengan Pilkada adalah DKI I, Portugis yang menggunakan Pajajaran-Hindu menemui kegagalan saat Fatahillah yang baru datang dari Malaka, diutus pihak Banten yang mendapat sokongan koalisi jawara Banten dan pasukan asal Cirebon masuk gelanggang pertempuran pada periode 1590.

Saat itulah, Portugis gagal total di ujung utara Jakarta dengan berdirinya pelabuhan dagang Sunda Kelapa. Meski begitu, pelabuhan Sunda Kelapa masih jauh kalah ramai dibandingkan pelabuhan dagang Banten. Sampai sinilah nenek moyang pertempuran 'DKI I' bermula.

Tantangan untuk mempertahankan DKI I kemudian hadir saat 'londo-londo' merapat di ujung utara Jakarta. Pasalnya, saat itu hegemoni Sunda Kelapa sebagai sebuah pelabuhan dagang telah menunjukan keramaian. Armada dagang Belanda pun bersandar lalu mendirikan loji-loji dagang di sekitar Sunda Kelapa.

Pertempuran 'DKI I' kembali pecah. Kali ini yang menjadi oposan adalah kelompok dagang Belanda yang dipimpin oleh Jan Pieter Zoen. Meski pada awalnya Pengeran Jayawikarta menyukai keberadaan Belanda di Sunda Kelapa, namun pihak Kesultanan Banten justru sebaliknya. Lantas Jayawikarta didesak untuk melawan Belanda lantaran gemar ikut campur dalam urusan politik di Kesultanan Banten.

Singkatnya Belanda sukses membuat Pangeran Jayawikarta beserta pasukannya angkat kaki dari kota pelabuhan Sunda Kelapa. Pada tahun 1614 Pangeran Jayawikarta menyingkir ke daerah rawa-rawa yang kini dikenal sebagai Sunter, sekaligus mendirikan pusat-pusat perlawanan gerilya. Empat tahun berselang, atau pada 1618, pasukan Kesultanan Banten sukses merangsek ke Jayakarta melalui Bogor. Kawasan hutan jati yang amat lebat atau kini bernama Jatinegara dijadikan basis pasukan banten demi merebut kembai 'DKI I'.

Sayangnya, upaya pemenangan DKI I tercium oleh Murjangkung (sebutan orang Betawi kepada Zoen Coen) dan langsung saja memutuskan untuk menyerang habis-habisan koalisi Banten-Jayakarta sebelum datangnya pasukan yang jauh lebih besar dari Mataram atau Sultan Agung.

Intelijen JP Zoen Coen mendengar bahwa pasukan Mataram akan melakukan penyerbuan-penyerbuan ke wilayah pesisir dan pada saat itu sedang bertarung di wilayah priangan untuk menaklukkan bekas wilayah Pajajaran-Hindu yang dikuasai raja-raja kecil Islam. Menurut hitung-hitungan JP Zoen Coen, lambat tapi pasti Mataram akan menyerang Jayakarta untuk membangun pelabuhan dagangnya yang dekat dengan pelabuhan Malaka. Untuk itu dia membereskan separatis Betawi di tanah-tanah yang diakui sebagai hak VOC.

Hitungan JP Zoen Coen ternyata sangat tepat, ia berkonsentrasi menghabisi pasukan Banten-Jayakarta untuk itu ia mengambil ratusan tentara bayaran dari Jerman dan beberapa budak yang didatangkan dari Bali, Bugis dan Ambon untuk menyerbu markas Pangeran Jayakarta. Pada tahun 1620, markas pangeran jayakarta diserbu oleh JP Zoen Coen dan sejarah membuktikan Pangeran tu mengalami kekalahan, Pada saat pasukan Belanda mengepung masjid yang digunakan Pangeran untuk berlindung, Pangeran masuk ke dalam sumur yang berada di dalam masjid, dan Belanda mengira Pangeran sudah mati di dalam sumur itu, Masjid itu kini bernama Masjid Salafiyah yang berdiri di wilayah Jatinegara.

Setelah beres dengan perlawanan dari unsur Banten, Zoen Coen menghadapi pasukan Mataram yang berada dibawah pimpinan Sura Agul-Agul dan beberapa senopati perang lainnya yang dibantu orang-orang Priangan. Namun taktik penghancuran logistik terhadap sawah-sawah yang menjadi sumber makanan pasukan Mataram dan diracunnya sungai Ciliwung menjadi kunci kemenangan VOC. Kota Jayakarta-pun diganti nama menjadi Batavia oleh Zoen Coen nama ini diambil dari kata Bataafs, sebuah dinasti yang menguasai Belanda dan Jerman Utara.

Atas perebutan kekuasaan itu, ternyata orang asli Betawi justru seakan-akan tak peduli siapa yang berkuasa atau pihak mana yang memegang kekuasaan. Seperti yang disampaikan sebelumnya, bahwa suku betawi jarang sekali menduduki jabatan-jabatan penting di pemerintahan kotanya sendiri, jabatan yang paling disenangi orang Betawi adalah jabatan-jabatan yang berhubungan dengan agama.

Orientasi budaya rupanya yang membuat orang Betawi memiliki jarak dengan kekuasaan. Kebiasaan hidup atau budaya orang Betawi sangat unik jika dideratkan dengan budaya-budaya urban di kota-kota besar seperti Kyoto (Jepang) dan Huan Long (Vietnam) kala itu. Orang Betawi tak menyukai sektor perdagangan dan mengabdikan orientasi hidupnya untuk agama, dalam hal ini agama Islam.

Mungkin ini pula jawaban mengapa Ahok akhirnya terhempas dari kursi pimpinan DKI Jakarta. Selain karena non muslim, Ahok memiliki masalah besar saat dirinya dituding telah menistakan agama dengan menyebut 'jangan mau dibohingi pakai Al Maidah 51'. Mengingat, jika ingin dijelaskan tentang pola pikir, orang Betawi menjadikan Islam sebagai cara pandang. Cita-cita orang Betawi pun tidak macam-macam kecuali adalah naik haji dan bergelar haji. Bagi mereka, dunia tak memiliki arti yang signifikan untuk dikejar mati-matian.

Mungkin pola pandang orang Betawi itu pulalah cikal bakal adanya istilah gelar haji bagi mereka yang telah menunaikan ibadah haji di Mekah dan Madinah.

Meski beberapa pihak mengaku puas akan kinerja Ahok sebagai gubernur DKI Jakarta menggantikan Joko Widodo, tetapi hal itu rupanya tidak cukup baginya untuk bisa menang dalma Pilkada DKI Jakarta. Meski banyak orang Betawi asli yang telah meninggalkan ibu kota, sehingga tak memiliki KTP Jakarta demi bisa mengikuti pemilihan gubernur, tak menyurutkan sikap orang Betawi yang masih tersisa untuk terus menjalankan budaya Betawi yang perpatokan pada Islam.

Yang jelas, orang Betawi menilai pendidikan itu adalah pendidikan agama, itulah yang menjadi orientasi mereka. Betawi yang dalam sejarah dekat dengan Banten sekali pun seperti yang dijabarkan di atas, ternyata memiliki perbedaan dalam melihat pendidikan. Suku Banten, Jawa dan Sunda justru secara perlahan menganggap pendidikan ala Belanda atau sekuler sebagai hal yang penting. Sebaliknya, suku Betawi tetap pada pendiriannya yang menganggap pendidikan agama adalah segalanya di atas pendidikan sekuler.

Anton DH Nugrahanto dalam sebuah tulisannya mengkritik Rano Karno sebagai penulis ide cerita yang menggambarkan realitas orang Betawi dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Adalah sebuah kesalahan fatal dari penilaian Rano Karno yang menganggap Betawi itu sebagai orang-orang yang terbelakang secara pendidikan. Mengapa salah? Karena Rano Karno memandang dari sudut cara pendidikan Betawi justru melalui jendela orang yang dididik dan dibesarkan dalam pendidikan sekuler dan ala barat.

Ternyata, orang Betawi sesungguhnya sangat berpendidikan. Bagi sejumlah orang Betawi kaya seperti halnya kalangan Betawi Kuningan dan Betawi Tenabang banyak menyekolahkan keturunannya hingga ke Mesir dan Irak. Hanya saja berpendidikan di sini lebih pada penguasaan ilmu agama Islam. Orang Betawi lebih condong pada akhirnya mendirikan madrasah-madrasah guna mendidik generasi anak Betawi.

Hal tersebut itu tidak dilakukan oleh suku lain seperti Bugis, Jawa, Batak, Sunda dan Minang yang mana lebih mengorientasikan pendidikan ala barat yang mana patokan dari tingkat kecerdasan berada pada tingkat intelektual seseorang. Tak heran suku Betawi ditelan dominasi arus intelektual berbasis ijazah seperti gayanya sekolah barat yang sekuler oleh suku-suku tersebut.

Lain ladang lain belalang, bagi orang Betawi keberhasilan adalah bagaimana ia menyelesaikan pendidikan agama dan menjalani hidup dengan irama yang diyakini selama ini. Yakni berorientasi pada alam akhirat dengan mengambil pahala sebanyak-banyaknya.

Perbedaan orientasi inilah yang kerap menimbulkan salah paham bahwa orang-orang Betawi sangat tidak menghargai pendidikan. Mereka justru sangat menghargai dasar-dasar pendidikan, hanya orang Betawi-lah yang mengenal kultur 'pagi sekolah umum, siang atau sore mengaji'. Pandangan mereka, pendidikan haruslah holistik bukan kompartemental yang berakibat tidak seimbangnya nalar dan hati.

Dengan mengenal budaya Betawi yang meninggikan nilai-nilai agama, harusnya Jakarta menjadi kota yang baik bagi semua makhluk hidup yang menetap di dalamnya. Tetapi, hingga zamannya 'Bang Anies' gubernur DKI Jakarta yang betul-betul asli Betawi hanyalah Soerjadi Soedirdja dan Fauzi Bowo. Mungkin, periode 2022-2027 akan Betawi yang meninggikan nilai-nilai agama bisa mendapat tempat bersaing panasnya kursi DKI I. Sehingga konsep 'Maju Kotanya Bahagia Warganya' benar-benar bisa terealisasi oleh anak-anak Betawi lebih dari sekedar retorika.

Melon Granat, Primadona Baru Buah Melon?

Penulis : Syukron Fadillah