logo





Rumah Faye, 'Senjata' untuk Perang Melawan Perdagangan Anak

Berada di bawah naungan Yayasan Del, Rumah Faye resmi berdiri pada tahun 2013. Saat ini terdapat lebih dari 100 relawan yang turut berkontribusi.

10 April 2017 12:38 WIB

Faye Simanjuntak, pendiri Rumah Faye.
Faye Simanjuntak, pendiri Rumah Faye. Istimewa

SOLO, JITUNEWS.COM - Indonesia adalah negara terbesar ke 46 dari 194 negara dengan kasus perdagangan anak, bahkan menduduki peringkat ke-3 di Asia Tenggara. Selain human trafficking, permasalahan lainnya adalah sex trafficking yang terjadi pada anak di bawah umur. 43.5% orang yang diperdagangkan berusia di bawah 14 tahun.

Kemenag: Lembaga Penjamin Mutu Bukan Lembaga Akreditasi

Rendahnya taraf pendidikan, status sosial dan ekonomi, sering menjadi pemicu munculnya permasalahan sosial tersebut. Banyak anak yang tidak memiliki kesempatan lain seperti mengenyam pendidikan, mereka justru memilih untuk menjual belikan diri.

Penanganan masalah perdagangan anak tidak bisa sepenuhnya dilimpahkan kepada pemerintah. Dalam hal ini, peran masyarakat sangat dibutuhkan. Pemerintah memang bertugas untuk mengeluarkan kebijakan hukum, tetapi tanpa peran masyarakat, perubahan tidak akan pernah terjadi. Peran masyarakat dapat diwujudkan dalam beberapa hal. Salah satunya adalah melalui organisasi atau LSM.


Polisi Temukan Sejumlah Kejanggalan Pada 'Bus Maut' di Puncak

Faye Simanjuntak tergerak untuk mendirikan sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bernama “Rumah Faye”. Berada di bawah naungan Yayasan Del, Rumah Faye resmi berdiri pada tahun 2013. Saat ini terdapat lebih dari 100 relawan yang turut berkontribusi. Bahkan, Rumah Faye telah memiliki Rumah Aman yang digunakan sebagai tempat untuk pemulihan korban perdagangan anak.

Tepat pada tanggal 9 April 2017, tim Jitunews.com mendatangi rumah dinas Danrem Maruli Simanjuntak untuk bertemu dengan putrinya, Faye Simanjutak, sebagai pendiri Rumah Faye. Berikut wawancara eksklusif Jitunews.com dengan Faye Simanjuntak:

Jitunews.com: Terima kasih atas waktu dan izin yang telah diberikan kami untuk berkunjung di Rumah Mbak Faye. Untuk mengawali perbincangan Mbak, bisa dijelaskan tentang Yayasan Del dan bagaimana aktivitas Rumah Faye?

Faye Simanjuntak: Oh itu sebenarnya Rumah Faye, kalau yayasan Del itu kayak umberellanya yang menaungi Rumah Faye. Jadi Rumah Faye itu seperti LSM yang ada di bawahnya. Rumah Faye adalah LSM yang menaungi anak-anak korban prostitusi di Indonesia. Kenapa? Karena Indonesia adalah negara terbesar ke-46 dengan kasus perdagangan anak terbesar dari 194 negara di dunia bahkan nomor 3 di Asia Tenggara. Kalau aku tuh masalahnya bukan itu, 43.5% dari orang yang diperdagangkan berusia di bawah 14 tahun. Usia mereka tuh setara sama aku, kalau aja aku dilahirkan di keluarga yang beda, bisa saja itu aku.

Sebenarnya Rumah Faye itu khusus untuk menolong anak cewek usia 11 hingga 17 tahun, karena kondisi psikologisnya berbeda. Tapi kalau dapat cowok usia lebih muda atau lebih tua, kita kurang tau cara untuk penanganannya, jadi biasanya kita kerja sama dengan LSM lain dan polisi untuk melindungi anak-anaknya.

Jitunews.com: Kemudian apa yang dilakukan oleh Rumah Faye dalam melakukan pertolongan terhadap anak-anak korban sex trafficking?

Faye Simanjuntak: Rumah Faye punya tiga program seperti pembebasan, Pencegahan dan pemulihan. Untuk program pembebasan kita bekerja sama dengan law enforcement seperti polisi etc. jadi kalau mereka tahu, mereka bilangin kita, dan mereka sudah so helpful sih.

Dalam pencegahan kita tuh pergi ke conference, media, sekolah, panti asuhan, dan rumah susun buat ngomongin prostitution. Salah satunya yang paling penting adalah kita pergi ke daerah rawan prostitusi, jadi ada beberapa volunteer yang ditempatkan di daerah buat pencegahan.

Di program pemulihan, kita baru aja punya Rumah Aman. Itu kita happy banget karena rumah aman itu mahal, bahkan Mama bilang kalau itu nggak mungkin buat bikin Rumah Aman. Tapi kita berdua tuh pengen banget punya Rumah Aman, kenapa? Karena Rumah Faye itu satu-satunya LSM Indonesia yang mencegah perdagangan anak. 

Di Rumah Aman lain, korban perdagangan anak tuh cuma diajari masak sama jahit. Tapi mereka nggak pernah diajari cara kerja. Even, ada satu program yang lamanya sampai tiga tahun. itu yang bikin mereka dependent. Jadi pas mereka disuruh cari kerja sendiri, mereka nggak bisa. Ya emang sih pemulihan kita tuh cuma 100 hari, banyak orang bilang itu terlalu pendek. Tapi kalau menurutku kelamaan malah bikin orang nggak bisa mandiri. Uniknya, Rumah Aman kita bekerja sama dengan company. Jadi ada perwakilan dari mereka yang ngajarin kerja di company mereka.

Jitunews.com: Bagaimana cara agar bisa menjadi donator di Rumah Faye?

Faye Simanjuntak: Saya tahu ini sangat klise sekali, tapi saya berharap bahwa para donatur benar-benar memiliki rasa empati terhadap mereka, tidak hanya asal member uang. Kenapa? Karena hal itu sangat penting. Saya bukan cuma ingin uang untuk ber fun di Rumah Faye, tapi untuk hati. Untuk orang yang secara aktif ingin mencegah perdagangan dan prostitusi anak. Jadi mereka tuh nggak cuma one time thing from money, tapi malah actively mereka bisa mencoba untuk membuat volunteer yang bisa membantu anak-anak tersebut secara langsung. Itulah kenapa awareness sangat penting bagi saya.

Jitunews.com: Kalau menurut Mbak Faye secara pribadi, perdagangan anak dan seks eksploitasinya sudah sejauh mana? Dan menurut Mbak, pihak mana saja kah yang harus turut bertanggung jawab?

Faye Simanjuntak: Yang pertama adalah data statistik yang saya ungkapkan di awal. Yang kedua, human trafficking adalah industri kriminal terbesar di dunia. Ketiga, dan nggak Cuma itu, 79% nya adalah sex exploitation. Prostitution in it self, kalau saya nggak bilang prostitusi anak berarti itu prostitusi PSK. Tapi yang harus saya ingat, bahwa ini adalah badly child trafficking, badly child prostitution. Jadi ini adalah anak-anak yang ditipu untuk menjual diri mereka. 

Sebenarnya kegiatan ini bukan hanya untuk mencegah karena kejahatan tersebut sedang berlangsung. Ini adalah soal mindset seseorang, mencegah mindset bahwa perempuan adalah objek. Indonesia adalah negara kultur, and I love that culture so much. Tetapi ternyata budaya kita belum cukup kuat untuk melindungi wanita. Memang sekarang sudah ada kesetaraan gender, tapi masih banyak permasalahan yang berdampak buruk buat wanita.

Kalau siapa yang bertanggung jawab? Kita semua bertanggung jawab atas masalah itu. Orang lain bisa bilang bahwa mereka tidak terlibat di dalamnya, dan orang lain juga bisa bilang kalau pemerintah nggak bertindak sejauh ini. Tapi asal tau saja, pemerintah sekarang tuh lagi duduk buat perintah-perintah baru, dan kita sebagai warga tuh ngapain? Jadi tanggung jawab tuh nggak bisa bilang satu orang, nggak bisa bilang itu tanggung jawab pemerintah, dan harusnya masyarakat ikut andil.

Jitunews.com: Lalu apa visi dan misi dari Rumah Faye?

Faye Simanjuntak: Visi Rumah Faye adalah untuk menciptakan dunia yang tidak ada sex exploitation lagi. Sebenarnya saya nggak suka bilangnya karena hal itu nggak akan terjadi dalam hidup saya, meskipun saya masih tergolong muda. Mungkin suatu saat nanti sex exploitation akan berkurang, tapi saya yakin akan tetap ada. Makannya kalau presentasi saya jarang ngomongin soal itu karena ini membuat saya sedih.

Kalau misinya adalah memberikan anak-anak yang diperdagangkan sebuah rumah, sebuah tempat agar mereka merasa nyaman. Nama Rumah Faye sendiri sebenarnya bukan karena saya suka nama saya, tetapi diambil dari kata faith yang berarti iman.

Tiga Pendaki Tersambar Petir di Wonosobo

Penulis : Nunik Fajar Tri Listyaningrum, Vicky Anggriawan